Bab 2

1539 Words
BAB 2: Balutan yang Mencuri Pandang ... Ia melajukan mobilnya ke sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang sepi, jauh dari pengawasan. Di cermin belakang, ia menarik karet rambutnya, melonggarkan ikatan jilbabnya, lalu menariknya lepas. Rambutnya, yang dicat cokelat gelap dan bergelombang alami, tergerai bebas. Jilbabnya dilipat rapi dan dilempar ke kursi belakang, seolah ia baru saja melepas borgol yang mencekik napasnya selama bertahun-tahun. Ia menyentuh pipinya. Kebebasan yang memabukkan menyergap indranya. "Selesai. Show time," gumamnya, menyeringai lebar. Juleha tidak hanya melepas jilbab. Ia juga melepas identitas yang selama ini ia kenakan di depan ibunya. Identitas yang ia benci, yang terasa seperti kostum yang gatal. Kini, ia siap bertemu dengan teman-temannya, siap dengan dunianya yang bising, bebas, dan penuh kesenangan. Deru mesin mobil Juleha memecah kesunyian jalanan. Radio di mobilnya langsung ia setel keras-keras, mengalunkan musik EDM yang mengentak. Jari-jarinya menari di kemudi, mengikuti irama. Bukannya ke kampus, Juleha membelokkan mobilnya menuju sebuah lounge eksklusif yang tersembunyi di lantai atas sebuah gedung tua. Saat Juleha melangkah keluar dari mobil di parkiran bawah tanah, ia bukan lagi gadis santun yang mencium tangan ibu. Ia adalah Jule, sang primadona yang bebas dan berani. Kaos hitam ketat tanpa lengan yang tadinya tersembunyi di balik jaket denimnya kini terekspos, dipadu dengan celana jins robek-robek yang ketat. Sebuah kalung rantai perak melingkari lehernya, kontras dengan kulitnya yang putih. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menyambar kacamata hitam besar yang bertengger di atas kepalanya. Begitu pintu lounge terbuka, bau rokok, alkohol, dan parfum mahal langsung menyambutnya. Suasana remang-remang, dentuman musik, dan tawa riang membuatnya merasa benar-benar hidup—kontras mutlak dari ketenangan yang damai di pesantren milik Zayn. "Leah!" seru Rio, melambaikan tangan dari sofa pojok, senyumnya menyeringai. Rio—simbol pemberontakan dan kebebasan yang ia idamkan. Juleha berjalan menghampiri, matanya memancarkan gairah yang lama terpendam. Ia menjatuhkan diri ke samping Rio, menyandarkan kepala sejenak di bahu pria itu. "Tadi drama banget," bisik Juleha, suaranya sedikit serak karena harus berteriak melawan musik. "Sampai harus bawa-bawa tas kuliah segala." Rio tertawa, mengacak rambut Juleha yang bergelombang. "Worth it, kan? Sudah pesan minum kesukaanmu." "Sempurna," jawab Juleha. Ia mengambil gelas di meja, isinya berwarna kemerahan. Mengangkatnya tinggi-tinggi. "Untuk kebebasan!" serunya, sebelum meneguk habis minumannya dalam sekali tegukan. Ia menutup mata, menikmati sensasi dingin dan tajam yang membakar tenggorokannya. Identitas Juleha, sang anak penurut, sudah mati. Sekarang, hanya ada Jule. Dan pertunjukan baru saja dimulai.. Zayn menyelesaikan urusannya dengan Umi Salamah. Percakapan mereka berlangsung hangat, dipenuhi rencana kegiatan pesantren dan tentu saja, kelezatan kue bikang buatan Umi. Umi Salamah tak henti-hentinya memuji kepribadian Zayn, seolah berusaha meyakinkan putranya yang enggan menikah. “Eum.. Juleha tidak ada, ya, Mi?” tanya Zayn, sekadar basa-basi, meskipun diam-diam ia bersyukur. Ia tak ingin bertemu gadis ‘terlalu modern’ yang ia yakini akan mengacaukan ketenangan batinnya. “Dia sedang ada tugas kelompok di luar, Nak. Juleha itu pintar, cuma…” Umi Salamah menarik napas. “...dunia pergaulannya yang terlalu bebas. Umi kadang kewalahan menghadapinya.” Zayn hanya tersenyum tipis. “Semoga Allah selalu membimbing Umi dan Juleha.” Setelah pamit, ia kembali ke pesantren. Senja telah berganti malam yang sunyi. Ia menemukan ayahnya sedang berbaring di kamar, terbatuk-batuk lebih parah dari sebelumnya. “Ayah istirahat saja. Jangan memaksakan diri membaca kitab lagi,” tegur Zayn lembut. “Ayah hanya sedang berpikir, Nak. Tentang kamu,” jawab Ustadz Aziz, suaranya lemah. “Ingat pesan Ayah, carilah pasangan yang bisa mendamaikan hatimu, yang membuatmu ingin menjadi lelaki yang lebih baik. Jangan terlalu cepat menilai orang dari penampilan luar saja.” Nasihat itu mengendap di hati Zayn. Ia menatap ayahnya, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. “Zayn akan selalu ingat, Ayah.” Itu adalah malam terakhir yang normal. * Keesokan harinya, Zayn kembali ke rumah Umi Salamah. Ada beberapa berkas infak yang tertinggal dan harus ia serahkan sebelum sibuk mengajar santri. Ia memarkir mobilnya dan berjalan menuju pintu. Saat hendak mengetuk, pintu terbuka. Seorang gadis berdiri di ambang pintu. Itu Juleha. ... Semua prasangka buruk Zayn—tentang pakaian ketat, celana robek, dan aura kebebasan yang mengumbar—terbukti seratus persen benar, bahkan jauh lebih parah dari yang ia bayangkan. Juleha berdiri di depannya. Baju kaos crop top yang sangat minim, memperlihatkan perutnya yang rata dan ramping, dipadukan dengan celana pendek sebatas pangkal paha. Rambutnya terurai berantakan, dan aroma parfum mahal bercampur bau keringat sisa tidur menyeruak. Kontras dengan atmosfer pesantren yang baru saja Zayn tinggalkan, Juleha adalah representasi sempurna dari dunia yang ia jauhi. Wajah Zayn Malik langsung kaku. Otaknya terasa beku. Ia merasa pandangannya telah ternoda, seolah ada percikan air kotor yang mengenai matanya. Instingnya berteriak: alihkan pandangan! Juleha, yang sama sekali tidak menyadari siapa tamunya, menatap Zayn dengan mata yang masih setengah mengantuk dan penuh keheranan. "Cari siapa?" tanyanya, suaranya sedikit serak, seperti suara orang yang baru saja menghabiskan malam di tempat bising. "Astaghfirullah," gumam Zayn pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia bergeser sedikit, mencari titik fokus yang halal. Matanya terhenti pada seekor kucing oranye gemuk yang sedang bergulir santai di teras. Kucing itu adalah penyelamat jiwanya. Zayn membalikkan badan setengah, memunggungi Juleha, seolah-olah pintu rumah Umi Salamah adalah tembok dan ia sedang berbincang dengan satwa berbulu itu. Ia kini berbicara formal dan sangat jelas, ditujukan lurus ke telinga si kucing. "Assalamualaikum, wahai Kucing yang mulia," kata Zayn, suaranya mendadak tegas dan formal. "Saya datang ingin bertemu Umi Salamah. Sampaikan padanya, Ustadz Zayn dari pesantren Hidayatullah ada keperluan berkas. Katakan saja berkas infak." Juleha terperangah. Otaknya langsung mencap, Pria Gila. Pria di depannya ini memperlakukannya seolah-olah dia adalah udara, atau mungkin lebih buruk, hantu yang tak pantas disapa. Seluruh tubuhnya mendidih karena direndahkan. "Hei!" seru Juleha, suaranya meninggi. "Kenapa Anda bicara dengan kucing saya?! Saya yang di depan Anda! Ada apa?!" Zayn tetap memandang kucing itu. "Kucing," katanya sabar. "Apakah majikanmu ini perlu diperiksa telinganya? Atau mungkin perlu diruqyah? Tolong panggilkan Umi Salamah saja, Kucing. Saya tidak enak berlama-lama di sini. Saya khawatir dosa saya bertambah tanpa saya sadari." Juleha mengepalkan tangannya. Rasa kesal, malu, dan marah bercampur menjadi satu. "Pria sok suci, pamer kesalehan!" gerutunya, lalu sebuah ide liar muncul. Ia menarik napas dalam-dalam, menirukan suara kucing dengan mimik wajah yang jahil. "Miaw, miaw miaw miaw..." Zayn, yang semula serius menatap kucing, kini tak kuasa menahan senyum tipis. Ia membalas tingkah absurb Juleha. "Miaw... rrrrrrr," balas Zayn singkat, menyiratkan bahwa ia terhibur dengan tingkah Juleha. Juleha semakin kesal karena upayanya hanya mendapat balasan singkat. Ia mendekat, menirukan suara kucing bertengkar tepat di belakang Zayn. "Rrrrrgh miaaaw miaw miaaawwww! Hissssh!" "Astaga! Juleha, pakaianmu!" Suara Umi Salamah memekik kaget dan panik. Ia buru-buru keluar, wajahnya pucat melihat penampilan putrinya, posisi Zayn yang aneh, dan suara pertengkaran kucing yang nyaring. Umi Salamah langsung menarik lengan Juleha. "Astaghfirullah, kamu ini kenapa Juleha! Sepertinya kamu kerasukan! Minta dirukyah! Cepetan masuk pakai baju yang benar, Nak!" Juleha sempat tersenyum puas karena berhasil membuat keributan. Ia terpaksa menyerah dan masuk, sambil memandang Zayn dengan tatapan menantang seolah berkata, 'Belum selesai kita!' "Zayn, Nak! Maafkan Umi," Umi Salamah menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Itu anak memang agak random akhir-akhir ini. Mungkin kekurangan tidur. Umi benar-benar malu." Zayn akhirnya bisa sepenuhnya menghadap Umi Salamah. Ia tersenyum sopan, meskipun pikirannya masih terganggu oleh pemandangan yang baru saja ia saksikan. "Tidak apa-apa, Umi," kata Zayn. "Saya mengerti. Mari kita selesaikan berkasnya." Saat berkas selesai, Zayn pamit pulang dengan perasaan campur aduk. Ia sudah tahu. Juleha memang bukan tipenya. Ia adalah ujian bagi imannya. * Beberapa malam kemudian, Pesantren Hidayatullah diselimuti kabut kesedihan. Ustadz Abdul Aziz, ayahanda Zayn Malik, berpulang. Beliau menghembuskan napas terakhir dengan tenang di pangkuan putranya, setelah batuk kering yang semakin parah. Zayn, yang merasa baru kemarin mendengarkan tawa terakhir Ayahnya, kini harus memimpin upacara pemakaman. Takziah berlangsung selama tiga hari. Rumah utama pesantren dipenuhi pelayat dari berbagai kalangan, dari ulama besar hingga masyarakat biasa. Di hari kedua takziah, Umi Salamah datang. Kali ini, ia tidak sendiri. Di sampingnya, berjalanlah seorang gadis yang membuat gerakan tubuh Zayn terhenti sesaat. Itu adalah Juleha. Zayn hampir tidak mengenalinya. Gadis itu, yang beberapa hari lalu dikenalnya sebagai sosok urakan dengan pakaian minim, kini tampil anggun dan bersahaja. Ia mengenakan gamis panjang berwarna gelap yang menutupi seluruh tubuhnya dan, yang paling mencuri pandang, balutan hijab syar’i yang rapi membingkai wajahnya. Wajah yang biasanya angkuh dan kesal itu kini terlihat tenang, bahkan sedikit sedih. Kontrasnya sangat tajam, seolah dua wanita berbeda. Juleha yang ini terlihat... cantik. Benar-benar cantik. Kecantikan yang murni, yang disucikan oleh kesopanan pakaiannya. Zayn merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya—perasaan aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya. Bukan lagi kejijikan, melainkan... kekaguman? Juleha, yang mengikuti ibunya menyalami Zayn, hanya menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap mata Zayn, teringat bagaimana pria ini memperlakukannya seperti kucing. Namun, ia tidak kesal, karena ia tahu, dalam suasana duka ini, ia harus menghormati Umi Salamah dan almarhum ayah Zayn. Saat Juleha melewatinya, aroma lembut bunga melati dari hijabnya menusuk indra penciuman Zayn. Aroma itu tidak hilang, bahkan setelah Juleha duduk di bangku pelayat bersama ibunya. Selama sisa takziah, mata Zayn secara tidak sadar sering mencuri pandang ke arah Juleha. Ia memperhatikan bagaimana Juleha bersikap sopan, bagaimana ia sesekali menyeka air mata Umi Salamah. Dalam balutan hijab itu, Juleha tampak seperti sosok yang benar-benar berbeda. Sosok yang tiba-tiba, tanpa ia sadari, menjadi menarik
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD