BAB 3: Niat di Tengah Duka
Pekan-pekan setelah kepergian Ustadz Abdul Aziz terasa hampa bagi Zayn Malik. Pesantren Hidayatullah terasa sunyi, seolah kehilangan denyut nadinya. Setiap sudut ruangan mengingatkannya pada tawa renyah sang Ayah, pada batuk kering yang menjadi pertanda, dan pada nasihat terakhir: “Jangan terlalu cepat menilai orang dari penampilan luar saja.”
Zayn menghabiskan banyak waktu di musala, mencoba menenangkan hati melalui ibadah dan tilawah. Namun, di tengah kedamaian spiritual itu, satu bayangan terus muncul di benaknya, menghadirkan kegamangan sekaligus harapan: Juleha dalam balutan hijab.
Bayangan itu sangat kontras dengan gambaran Juleha yang bicara pada kucing sambil mengenakan pakaian minim—seorang gadis urakan yang ia hindari. Namun, Juleha yang ia lihat di hari takziah adalah manifestasi dari ketenangan, kesopanan, dan kecantikan murni.
Apakah itu penampilan luarnya, ataukah itu cerminan potensi hatinya?
Zayn kembali mengingat perkataan Ayahnya, yang kini terasa seperti amanah yang harus ia penuhi. Ayahnya menyuruhnya menikahi anak Umi Salamah jika ia ingin Umi Salamah menjadi ibunya. Dan kini, Zayn memang menginginkan Juleha yang seperti itu, yang anggun dan santun.
Setelah shalat Isya pada suatu malam yang sunyi, Zayn memutuskan. Ini gila, ini cepat, tetapi ia harus bergerak sebelum gambaran Juleha yang berhijab itu memudar atau sebelum Juleha kembali pada dunianya yang bising.
Ia menghubungi Umi Salamah.
“Umi, apakah Umi ada waktu besok sore? Saya ingin datang berkunjung,” tanya Zayn, suaranya terdengar lebih mantap daripada yang ia rasakan.
“Tentu saja, Nak. Rumah Umi selalu terbuka untukmu. Umi senang, setidaknya ada yang menghibur Umi sejak… ya, sejak musibah ini,” jawab Umi Salamah, suaranya terdengar tulus.
Keesokan sorenya, Zayn tiba di kediaman Umi Salamah. Kali ini, tidak ada Juleha. Rumah terasa lebih tenang.
Setelah berbincang santai tentang keadaan pesantren dan kesehatan Umi Salamah, Zayn menarik napas dalam. Ini adalah momen yang paling sulit dan paling penting.
“Umi…” Zayn memulai, suaranya sedikit bergetar. “Mungkin ini terdengar terburu-buru, apalagi setelah kepergian Ayah. Tapi, ada sesuatu yang harus saya utarakan. Ini mengenai niat saya.”
Umi Salamah menatapnya lekat, dengan sorot mata yang penuh harap.
“Umi Salamah,” lanjut Zayn, pandangannya lurus dan penuh hormat. “Selama ini, Umi sudah seperti ibu kandung bagi saya. Perhatian Umi, kebaikan Umi… semuanya sangat berarti. Dan saya… saya ingin mengikatkan diri saya secara resmi dengan keluarga Umi.”
Umi Salamah mengerutkan keningnya…”apa maksud ucapanmu Zayn? Kamu tidak sedang meminang Umi kan?"
Zayn menggeleng perlahan. “Bukan, Umi. Bukan Umi yang ingin saya pinang.”
Umi Salamah terdiam. Alisnya terangkat, mencoba memahami.
“Saya… ingin meminta izin Umi untuk meminang putri Umi, Juleha.”
Keheningan melanda ruang tamu itu. Umi Salamah seolah membeku di tempat. Wajahnya yang semula tegang karena salah sangka, kini berubah menjadi lega, haru, dan gembira yang tak tertahankan.
“Astaghfirullah… Zayn, Nak! Kamu serius?” tanya Umi Salamah, air matanya mulai menggenang. “Tapi… Juleha itu… agak sedikit…”
“Saya tahu, Umi,” potong Zayn cepat. “Saya tahu Juleha sangat berbeda dengan saya. Saya tahu dia gadis yang modern. Tapi, Umi… saya melihat Juleha saat takziah kemarin. Dan saya melihat ada sisi lain dari dirinya. Ada potensi kebaikan dan ketenangan yang luar biasa.”
Zayn merendahkan suaranya. “Sejak Ayah meninggal, saya terus memikirkan pesan beliau. Dan saya ingin memulai lembaran baru ini dengan niat baik. Saya ingin mencoba membimbing Juleha. Jika Umi berkenan, saya ingin membuktikan bahwa dua dunia yang berbeda bisa disatukan karena niat baik dan bimbingan Allah.”
Umi Salamah bangkit, berjalan menghampiri Zayn dan memeluknya. Ia menangis haru. “Alhamdulillah, Ya Allah… Umi senang sekali, Nak. Demi Allah, Umi tidak pernah memimpikan menantu sebaik kamu. Kamu adalah yang terbaik untuk Juleha.”
Umi Salamah melepaskan pelukan, namun wajahnya kembali diselimuti keraguan. “Tapi, Zayn. Umi tidak bisa memaksanya. Juleha itu keras kepala. Jika dia tahu kamu seorang ustadz, dia mungkin akan langsung menolak. Umi tidak mau niat baikmu ini malah membuat Juleha lari jauh.”
Zayn tersenyum, senyum tulus yang muncul setelah sekian lama berduka. “Umi, justru itu tantangannya. Saya tidak ingin dia menerima saya karena terpaksa atau karena ibadah saya. Saya ingin dia mengenal hati saya. Saya akan mendekatinya, tetapi lewat restu dan bantuan Umi. Saya ingin Juleha tahu, bahwa dia akan menikahi seorang lelaki yang tulus mencintainya, juga ibunya, Umi Salamah.”
Mereka pun menyusun rencana. Umi Salamah berjanji akan mencari cara agar Juleha mau bertemu dan mengenal Zayn lebih dekat.
... Zayn pulang dengan hati yang penuh harapan. Ia tahu jalan ini tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan Juleha yang urakan dan keras kepala, tetapi demi bayangan gadis berhijab yang cantik itu, Zayn siap melangkah.
Beberapa hari kemudian, Umi Salamah memulai operasinya.
“Juleha, Umi sakit. Sudah lama Umi tidak ke pengajian. Tapi kaki Umi sakit sekali. Bisakah kamu antar Umi?” pinta Umi Salamah, berakting dramatis.
Juleha, yang sedang asyik bermain ponsel, menghela napas panjang. “Umi, kan bisa minta tolong Pak Supir. Atau suruh saja santri itu yang ambil mobil,” gerutunya, tidak mau beranjak.
“Tidak, Nak. Umi mau ditemani kamu. Umi kangen curhat sama kamu di mobil. Janji, setelah ini kamu bebas keluar sama teman teman kamu, Umi tidak akan marah,” rayu Umi Salamah.
Mendengar kata "bebas keluar", mata Juleha langsung berbinar. Ia tahu ibunya tidak akan mengingkari janji. "Baiklah, demi Umi," jawabnya cepat.
Di hari pengajian itu, Juleha terpaksa mengenakan pakaian yang lebih sopan. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam, fokus pada ponselnya, sesekali menghela napas.
Saat tiba di masjid tempat pengajian, Juleha menunggu di mobil, tetapi Umi Salamah kembali dengan wajah yang dibuat cemas.
“Juleha, Umi lupa membawa dompet infak Umi! Ada di kamar Umi di laci meja rias. Kamu mau tidak tolong ambilkan? Tapi cepat ya, Umi sudah ditunggu Ustadzah di dalam.”
Juleha mendengus. Drama apalagi ini? Tapi janji adalah janji.
“Iya, iya, Juleha ambil. Jangan sampai hilang ya, Mi. Juleha mau cepat-cepat ketemu Rio malam ini,” ancamnya.
Juleha melajukan mobilnya kembali ke rumah. Ia masuk terburu-buru, menaiki tangga. Saat ia kembali ke ruang tamu, ia terkejut melihat seseorang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Itu adalah Zayn Malik.
Zayn sedang mengobrol santai dengan Mbak Wati, asisten rumah tangga Umi Salamah. Wajahnya tampak damai dan ramah.
Juleha membeku. Kenapa pria kucing itu ada di sini?!
Zayn mendongak. Matanya bertemu dengan mata Juleha. Ia tersenyum tipis, kali ini senyum tulus tanpa melihat ke kucing.
Juleha berdiri membeku di ambang ruang tamu, dompet infak Umi Salamah yang ia pegang terasa dingin. Matanya menatap tajam pada sosok Zayn Malik, si Pria Kucing, yang kini duduk tenang di sofanya sendiri seolah ia adalah pangeran pewaris.
“Assalamualaikum, Juleha. Saya diminta Umi Salamah menjemputmu, karena Umi khawatir kamu tidak kembali ke pesantren,” kata Zayn, bangkit dengan gestur yang anggun dan sopan. Senyum tulusnya kali ini tidak diarahkan ke kucing, melainkan lurus padanya.
Mbak Wati, asisten rumah tangga, buru-buru menunduk dan permisi ke dapur, meninggalkan mereka berdua dalam ketegangan yang tebal.
Juleha mendengus sinis. "Menjemput saya? Di rumah saya sendiri? Sejak kapan saya jadi anak TK yang perlu dijemput oleh orang asing yang bicara dengan hewan peliharaan?"
"Saya bukan orang asing, Juleha. Saya adalah Zayn. Anak almarhum Ustadz Abdul Aziz," jawab Zayn, mempertahankan ketenangannya.
Juleha terdiam, Ia tahu ini semua akal-akalan ibunya. Pertunjukan drama baru saja dimulai.
“Singkat saja,” kata Juleha dingin, berjalan mendekat dan meletakkan dompet infak itu dengan keras di meja. "Ambil dompet ini dan bawa ke ibu saya. Saya harus pergi."
"Saya juga ingin berbicara penting denganmu," ujar Zayn, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang tak terhindarkan.
Juleha menyipitkan mata, rasa terancam dan penasaran bercampur. “Bicara apa? Tentang kucing?” tantangnya.
"Bukan," jawab Zayn tegas, tatapannya kini berubah serius. "Tentang masa depan."