BAB 7

1672 Words
“T.V.D ... siapa sebenarnya kamu?” bisik Valen sambil memutar-mutar pembatas buku kulit itu di balkon apartemennya malam hari. Angin malam kawasan Surabaya Barat bertiup cukup kencang, membawa sisa-sisa kelembapan hujan sore tadi. Dari lantai lima belas unit apartemennya, hamparan pendar lampu kota membentang luas bagaikan lautan pendar bintang yang jatuh ke bumi. Namun, perhatian Valen sama sekali tidak tertuju pada pemandangan malam di baliknya. Sebelah tangannya menggenggam cangkir kopi hitam yang mulai mendingin, sementara jemari tangan kanannya terus memainkan pembatas buku berbahan kulit cokelat tua itu. Tiga huruf berukir tinta emas—T.V.D.—seolah memantulkan cahaya lampu balkon, memancing rasa penasaran yang kian tertanam di kepalanya. Valen mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan siku pada pagar pembatas balkon. Memori sore tadi di kafe kembali berputar jernih di dalam ingatannya. Tatapan mata cokelat tua wanita itu yang tajam namun penuh wawasan, ketegasannya saat mempertahankan pendapat soal kedisiplinan kontroler menara, hingga perubahan drastis raut wajahnya tepat setelah mendengar celotehan Kenzo dari pengeras suara ponselnya. “Siapa yang punya inisial T.V.D. di lingkungan bandara?” gumam Valen lagi pada dirinya sendiri. Pria itu meneguk kopinya sedikit, lalu berjalan masuk ke dalam ruang tengah. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca, membuka aplikasi perpesanan singkat, dan menelusuri daftar kontak pekerjaan yang tersimpan. Ia mencoba mengingat-ingat setiap nama staf maskapai, personil darat, hingga praktisi penerbangan yang pernah ia temui selama bertugas di Surabaya maupun Jakarta. “Teresa? Tania? Triana?” Valen mendengkus pelan. Tidak ada satu pun nama yang rasanya cocok dengan sosok wanita berkaus krem yang berani berdebat soal teori Human Factors di kafe tadi sore. Mata Valen beralih menatap layar laptopnya yang masih menyala, menampilkan portal internal maskapai tempat ia bekerja. Rasa penasarannya begitu besar hingga ia sempat terpikir untuk menelusuri basis data staf atau manifest penumpang, namun ia segera mengurungkan niat gila itu. Itu bukan cuma melanggar privasi, tapi juga langkah yang terlampau absurd hanya demi mencari seorang wanita asing di kafe. Ponselnya bergetar di meja. Nama Kenzo kembali muncul di layar. Valen menggeser tombol hijau, memunculkan suara Kenzo yang terdengar sedikit bersalah dari seberang telepon. “Cap, lu masih marah soal panggilan tadi sore?” tanya Kenzo langsung tanpa basa-basi. “Nggak marah,” sahut Valen datar sambil melangkah kembali menuju pintu balkon. “Tapi omongan lu tadi sore emang beneran bikin momen ruined total.” “Aduh, sori banget, Cap. Gue bener-bener nggak tahu kalau lu lagi asyik ngobrol sama cewek,” sesal Kenzo di seberang sana. Suara bising TV di kamar hotelnya terdengar samar-samar. “Tapi beneran deh, lu belum sempat nanya nama atau minta nomor teleponnya?” “Dia buru-buru pergi setelah dengar lu ngomong 'Cewek Es Juanda Tower',” jawab Valen pendek. Kenzo tertawa garing. “Gara-gara julukan itu? Wah, jangan-jangan cewek yang lu ajak ngobrol itu kenalan atau malah saudara kandungnya si kontroler Juanda? Makanya dia tersinggung?” Valen memandangi kembali pembatas buku di genggamannya. “Gue nggak tahu, Ken. Tapi dia cuma nyisain benda ini di bawah cangkir kopinya.” “Benda apa?” tanya Kenzo penasaran. “Pembatas buku kulit. Ada inisialnya, T.V.D.” Di ujung telepon, Kenzo terdiam sejenak. “T.V.D.? T, V, D? Nggak familiar sih, Cap. Tapi kalau dia paham banget soal aviasi kayak yang lu ceritain tadi, bisa jadi dia memang orang dalam. Mau gue tanyain ke anak-anak ground handling lusa pas kita balik mendarat di Juanda?” “Nggak usah,” potong Valen cepat. “Nggak perlu dibikin heboh. Ini cuma pembatas buku yang ketinggalan. Biar gue simpan dulu.” “Gaya lu, Cap. Bilang nggak heboh tapi dipikirin sampai malam,” goda Kenzo tertawa. “Udah ah, mending lu tidur. Lusa kita ada penerbangan pagi dari Jakarta balik ke Juanda. Jangan sampai lu blank di kokpit gara-gara mikirin cewek inisial T.V.D.” “Iya. Udah dulu ya,” balas Valen singkat lalu mematikan sambungan telepon. Valen mengamati tiga huruf emas itu sekali lagi sebelum menyelipkannya dengan hati-hati ke dalam dompet kulit miliknya. Siapa pun wanita itu, Valen punya firasat kuat bahwa penerbangan dan takdir belum selesai mempertemukan mereka. Keesokan harinya, pendar keemasan matahari terbit menyiram menara pengontrol lalu lintas udara Bandara Internasional Juanda. Di dalam ruang operasional yang sejuk dan tenang, deretan layar radar menayangkan titik-titik hijau yang bergerak teratur di atas peta navigasi digital. Thalia duduk tegak di posisi utama konsol radar untuk shift pagi. Headset aviasi berwarna hitam sudah melingkar rapi di kepalanya, menempel pada rambutnya yang tersanggul sempurna tanpa cela. Seragam putihnya tampak sangat licin dengan tanda kepangkatan yang terpasang kokoh di bahu. Tidak ada lagi jejak wanita berkaus rajut krem yang santai seperti sore kemarin di HR Muhammad. “Juanda Tower, Indonesia 402, ready for pushback and start,” suara dari salah satu kokpit memecah keheningan di frekuensi. Dengan gerakan refleks yang terasah selama bertahun-tahun, jemari Thalia menekan tombol transmitter di meja konsol. “Indonesia 402, Juanda Tower, pushback and start approved, facing south, wind calm,” balas Thalia dengan intonasi yang begitu presisi, tenang, dan tanpa emosi. “Pushback and start approved, facing south, Indonesia 402,” jawab sang pilot melakukan readback. Di balik ketenangan dan kecekatan tangannya memandu pergerakan pesawat di runway, pikiran Thalia sebenarnya tidak sepenuhnya bersih pagi ini. Bayangan percakapannya di kafe kemarin sore terus berputar-putar di dalam benaknya. “Dia profesional sejati. Julukan 'Cewek Es' itu cuma bentuk ketidakmampuan sebagian pilot untuk memahami betapa beratnya beban tanggung jawab di menara.” Kalimat Valen kemarin terus bergema di kepalanya. Thalia menghela napas sangat pelan, membuang pandangan sebentar ke arah kaca besar menara yang menampakkan hamparan landasan pacu yang luas. Bagaimana bisa seorang pilot yang tidak pernah ia temui secara tatap muka—seseorang yang hanya berinteraksi dengannya lewat frekuensi radio—bisa memberikan penilaian yang begitu dalam dan memahami sudut pandangnya dengan begitu sempurna? Dan fakta bahwa pria hangat yang duduk di hadapannya sore kemarin adalah Kapten Valen sendiri membuat d**a Thalia terasa aneh. Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa wanita kaku yang sering memotong bicaranya di radio adalah orang yang sama yang duduk berbagi meja dengannya saat hujan. “Woi, Mbak Thalia! Fokus, Mbak. Layarnya melotot terus tapi pikiran melayang ke mana tuh?” Suara ramah Ria menyentakkan Thalia dari lamunannya. Ria melangkah mendekat sambil membawa segelas teh hangat dan beberapa lembar berkas perkiraan cuaca BMKG. Thalia dengan cepat menguasai diri, membetulkan posisi headset-nya. “Pikiran saya tetap di radar, Ria. Lion 890 baru saja clearance to land.” Ria menyandarkan pinggulnya di tepi meja konsol di sebelah Thalia, menatap sahabat sekaligus seniornya itu dengan sudut mata penuh selidik. Ia memperhatikan raut wajah Thalia yang tampak sedikit berbeda pagi ini. “Beneran di radar?” goda Ria sambil tersenyum jahil. “Dari tadi saya perhatiin kamu udah tiga kali hela napas panjang lho, Mbak. Biasanya kan gaya kamu kayak robot Jerman, lurus terus nggak pakai helaan napas dramatis begitu.” Thalia mendengkus pelan, matanya tetap berpura-pura fokus memandangi titik hijau di layar monitor. “Saya cuma kurang tidur sedikit. Tidak ada yang aneh.” “Masa sih cuma kurang tidur?” pancing Ria tidak percaya. “Bukan gara-gara kejadian hujan deras kemarin sore kan? Katanya kamu kemarin sore izin minum kopi di luar? Jangan-jangan 'Cewek Es' menara Juanda akhirnya ketemu seseorang yang bisa bikin esnya mencair?” Thalia menoleh sedikit, memberikan tatapan dingin yang biasanya sanggup membuat co-pilot muda gemetar. “Ria, frekuensi sedang aktif. Tolong jangan bercanda yang tidak ada hubungannya dengan operasional.” Ria bukannya takut, justru malah tertawa pelan melihat reaksi defensif seniornya. “Tuh kan, kalau sudah bawa-bawa 'frekuensi aktif' berarti tebakan saya ada benernya! Siapa sih, Mbak? Anak airlines? Atau orang umum?” “Ria,” tegur Thalia dengan nada yang lebih tegas, walau pipinya samar-samar menyiratkan warna kemerahan yang berusaha ia sembunyikan. “Tidak ada siapa-siapa. Saya cuma membaca buku analisis keselamatan kemarin sore dan cukup lelah.” “Ya ya ya, alasan klasik pembaca buku berat,” gumam Ria sambil terkekeh. Namun raut wajah Ria mendadak berubah serius ketika ia meletakkan lembaran berkas cuaca di atas meja Thalia. “Tapi bercandanya disimpan dulu deh. Nih, laporan BMKG terbaru baru saja masuk.” Thalia menerima berkas itu dan langsung membaca deretan angka serta diagram yang tertera di sana. Dahi cantiknya seketika berkerut rapat. “Awan Cumulonimbus cukup pekat mulai terbentuk di sektor utara,” terang Ria dengan nada profesional. “Suhu udara turun drastis di area pendekatan, dan ada potensi wind shear di ketinggian rendah dalam dua jam ke depan.” Thalia menepis seluruh bayangan peristiwa kafe kemarin dari kepalanya dalam sekejap. Mode kerja profesionalnya langsung aktif sepenuhnya. “Informasikan ke seluruh penerbangan yang akan masuk dari jalur utara,” perintah Thalia dingin dan cekatan. “Minta mereka bersiap untuk opsi holding pattern atau vector memutar kalau jarak pandang di bawah standar keselamatan.” “Siap, Mbak,” jawab Ria cepat, langsung kembali ke konsolnya sendiri untuk berkoordinasi dengan petugas komputasi data penerbangan. Thalia menarik napas dalam-dalam, mengencangkan genggaman tangannya di tepi meja konsol. Cuaca buruk selalu menuntut konsentrasi puncak. Di saat-saat seperti inilah seluruh emosi dan pikiran pribadi harus dibuang jauh-jauh. Keselamatan ratusan nyawa yang terbang di atas sana kini sepenuhnya ada di jemari dan keputusannya. Layar radar di depannya mulai menunjukkan pergerakan beberapa titik pesawat yang mendekati ruang udara Surabaya dari arah barat dan utara. Thalia menyesuaikan posisi headset-nya, bersiap memandu gelombang penerbangan yang mulai memasuki area pendekatan di tengah cuaca yang kian memburuk. Tiba-tiba, suara desis sinyal radio memecah keheningan ruang menara. Suara kresek sinyal dari frekuensi tinggi membahana jernih melalui headset yang melekat di telinga Thalia. “Juanda Tower, Indonesia 812, Flight Level 100 on approach.” Suara itu. Suara bernada empuk, rendah, jernih, dan sangat familier yang baru saja ia dengar dari jarak beberapa puluh sentimeter di meja kafe kemarin sore. Seketika itu juga, jemari Thalia yang berada di atas konsol radar mendadak kaku. Jantungnya berdesir hebat, dan matanya membelalak menatap satu titik hijau di layar monitor yang membawa kode penerbangan GA812. Valen. Pria itu sudah berada di udara, terbang tepat menuju ruang kendalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD