Bab 44

1672 Words

Briana duduk di sudut kafe yang biasanya ia datangi setiap kali ingin menghabiskan waktu sendirian. Suara pelan obrolan para pengunjung lain dan aroma kopi yang kuat seharusnya bisa menenangkan pikirannya, tetapi hari ini semuanya terasa sia-sia. Di tangannya, ponsel masih menyala, menampilkan foto terbaru yang diunggah oleh ibunya, Arum, di media sosial. Foto itu menunjukkan Arum dan Jeremy berdiri di depan Menara Eiffel, tersenyum lebar sambil berpegangan tangan. Keterangan fotonya bertuliskan: “Hari yang indah di Paris bersama suamiku tercinta. Terima kasih untuk kebahagiaan ini, Jeremy.” Briana mengepalkan tangannya erat. Jantungnya berdebar-debar, tapi bukan karena rasa bahagia. Sebaliknya, kemarahan dan kecemburuan memenuhi dirinya. Dia tidak tahan melihat kemesraan itu, terutama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD