Part 13

1448 Words
Projek Nusantara merupakan proyek bisnis besar yang melibatkan banyak pengusaha dunia. Beberapa perusahaan besar yang memegang kendali di dalamnya antara lain Jhonson Group, Aldebaran Group, Chequello Group, Maximillian Group, Cammora Group, A.A Group, Stevano Group, serta beberapa perusahaan asing lain yang turut bergabung dalam konsorsium tersebut. Proyek yang dirancang oleh Alden Jhonson ini tidak hanya berfokus pada perusahaan manufaktur saja. Proyek ini mencakup berbagai lini bisnis besar seperti pertambangan, rumah sakit, restoran, hotel, otomotif, hingga sektor industri lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada penanggung jawab di setiap lini usaha yang ada. Salah satunya adalah Aldebaran Group. Perusahaan tersebut mendapat tanggung jawab untuk membangun berbagai resort dan hotel di beberapa negara. Target pertama yang sudah berjalan adalah Lombok, Indonesia. Di sana terdapat dua proyek besar. Pertama adalah resort pribadi yang dibangun khusus atas permintaan Alden Jhonson. Kedua adalah pembangunan hotel hasil kerja sama seluruh perusahaan dalam proyek tersebut yang diberi nama CultureX Hotel & Resort. Kedua proyek itu berjalan sangat sukses. Banyak wisatawan dari berbagai negara mulai berdatangan. Namun ada satu aturan khusus. Untuk resort pribadi Alden, tidak seorang pun diperkenankan masuk tanpa izin. Bahkan setelah pembangunan selesai, tanggung jawab pengamanan sepenuhnya dialihkan kepada Jhonson Group dan Maximillian Group. Bukan berarti Alden tidak mempercayai Samuel Aldebaran. Hanya saja jika menyangkut keamanan, Alden lebih memilih bekerja sama dengan Deril Maximillian, seseorang yang telah ia kenal jauh lebih lama. "Target pembangunan pabrik di Bandung tidak boleh terlalu lama." Alden akhirnya membuka suara setelah cukup lama menunggu para perempuan menyelesaikan perbincangan mereka di ruang VVIP. "Perusahaan makanan dan minuman ini harus mulai beroperasi paling lambat tahun depan." Nada suaranya tegas. "Aku tidak mau mendengar alasan tentang izin yang belum selesai. Semua petunjuk dan arahan sudah aku berikan." Ia menatap Samuel lurus. "Kalau kamu merasa tidak sanggup, katakan sekarang. Aku bisa mengganti penanggung jawabnya." Samuel tersenyum tenang. "Tenang saja. Tahun ini semuanya akan selesai." Jawabannya terdengar sangat meyakinkan. Namun tanpa Alden sadari, lelaki yang hampir seumuran dengan kakak iparnya itu sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang di mata Alden mungkin akan terlihat membanggakan. Padahal kenyataannya tidak demikian. "Aku dan keluargaku akan kembali menetap di rumah istriku untuk sementara waktu," ujar Alberto kemudian. Ia menyandarkan tubuhnya santai di kursi. "Karena kamu dan Samuel tetap tinggal di Berlin, aku akan fokus mengerjakan proyek lain bersama tim berbeda." Ia menoleh pada Samuel. "Jadi pembangunan pabrik di Bandung aku serahkan sepenuhnya padamu." Samuel mengangguk. "Kamu bisa bekerja sama dengan Marcelle atau Marcello," lanjut Alberto. "Mereka tinggal di sana, jadi lebih memahami lingkungan bisnis di Bandung." Alberto tersenyum tipis. "Asal jangan sampai terpengaruh oleh Atmadja Group dan Wijaya Group saja." Ucapan itu membuat Alden dan Samuel menoleh bersamaan. "Aku dengar Aurelia tidak membawa Atmadja Group ke proyek ini," tambah Alberto. Samuel langsung menatapnya serius. "Dia membawa perusahaan pribadinya?" Pertanyaan itu dijawab oleh seseorang yang baru saja datang dari arah toilet. "Dia membawa keduanya." Aidan berdiri di sana sambil mengeringkan tangannya dengan tisu. "Bendera Atmadja Group dan perusahaannya sendiri." "Dan... ikut sebentar." Tiba-tiba Alden menarik lengan Aidan. "Bella memanggil." Keduanya berjalan menuju ruang VVIP. Kini hanya tersisa Samuel dan Alberto di meja mereka. Alberto menatap Samuel cukup lama sebelum akhirnya berbicara. "Jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar, Sam." Samuel menoleh. Alberto melanjutkan dengan nada serius. "Ingat, Bella sudah menjadi istri sahabat kita." Samuel diam. "Aku tidak bodoh," lanjut Alberto. "Saat meeting tadi, tatapanmu padanya terlalu jelas." Samuel hanya tersenyum. "Buang perasaan itu. Jangan sampai persahabatan kita rusak." Samuel akhirnya menjawab santai. "Tenang saja. Targetku sekarang Gya." Ia terkekeh kecil. "Doakan saja aku cepat move on dari medusa itu." Alberto hanya bisa tersenyum. Ia berharap Samuel benar-benar melupakan Bella. Namun ada satu hal yang membuatnya penasaran. "Semalam kamu ke CultureX?" Samuel menggeleng. "Tidak. Aku menemani Papa di rumah." Ia menghela napas. "Sambil mencari tahu siapa dalang di balik kematian ibuku." Alberto mengangguk. "Syukurlah." Ia kemudian menambahkan, "Kupikir kamu bersama Sabrina semalam." Samuel menoleh. "Aku melihat dia di CultureX. Setelah itu dijemput mobil mewah." Alberto menyeringai. "Mungkin sugar daddynya." Ucapan itu membuat Samuel terdiam sejenak. Jika benar Sabrina bermain dengan pria lain setelah bersamanya, maka Samuel harus lebih berhati-hati. Perempuan itu bisa saja memanfaatkan kelemahannya suatu saat nanti. Samuel harus meminta anak buahnya menyelidiki hal itu. "Tegang sekali wajah kalian berdua." Suara Aidan tiba-tiba muncul lagi. "Seperti orang terlilit pinjaman online saja." Alberto langsung tertawa. "Lebih dari itu!" Ia menunjuk Samuel. "Sabrina semalam ada di CultureX. Mungkin sedang bertemu sugar daddynya." Aidan langsung tertawa keras. "Biarkan saja." Ia menepuk bahu Samuel. "Asal jangan menggoda Samuel saja." Alden yang baru kembali ikut menyela. "Kasihan kalau Samuel tergoda." Ia tersenyum nakal. "Nanti dia bingung memilih antara Mirna, Andin, Gya, atau Sabrina." Samuel mendengus kesal. "Kalau bisa sih pilih Bella saja." Alden langsung menatapnya tajam. "Mau mati kau?" Samuel mengangkat kedua tangannya menyerah. "Tidak, tidak." Ia tertawa santai. "Aku masih ingin menikmati surga dunia yang luar biasa ini." "Sadarlah, Sam," kata Alberto. "Ingat, hubungan bebas bisa membawa penyakit." Samuel mengangkat bahu. "Tenang saja." Ia tersenyum santai. "Aku akan sadar... setelah mendapatkan Gya." Dan seperti biasa— Samuel Aldebaran tetap menjadi playboy Berlin yang tidak pernah benar-benar bisa ditebak siapa pun. Jiwanya masih bebas dan targetnya masih di manfaatkan dengan sebaik mungkin. **** Samuel masih duduk di kursinya setelah percakapan santai itu berakhir. Alden, Aidan, dan Alberto kembali sibuk membahas beberapa detail proyek sambil sesekali bercanda. Namun pikiran Samuel sudah tidak lagi berada di meja itu. Ucapan Alberto tadi terus berputar di kepalanya. Sabrina semalam ada di CultureX... lalu dijemput mobil mewah. Samuel mengetuk meja dengan jarinya pelan. Tidak mungkin kebetulan. Ia mengenal Sabrina cukup lama. Perempuan itu bukan tipe yang membiarkan dirinya dikendalikan siapa pun. Justru sebaliknya. Sabrina selalu berusaha mengendalikan situasi. Samuel mengeluarkan ponselnya secara diam-diam di bawah meja. Satu pesan singkat ia kirim. Samuel: Cari tahu siapa yang menjemput Sabrina dari CultureX semalam. Beberapa detik kemudian balasan masuk. "Baik, Tuan." Samuel menyimpan kembali ponselnya. "Sam?" Alden memanggilnya. Samuel langsung mengangkat wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Ya?" "Dokumen pembangunan pabrik Bandung sudah kamu cek?" tanya Alden. "Sudah," jawab Samuel santai. "Tinggal menunggu finalisasi kontrak tanah." Alden mengangguk puas. "Bagus." Namun tepat saat itu—pintu ruang VVIP terbuka. Bella keluar lebih dulu bersama Gya, Angel, dan Aurelia. Percakapan para pria di meja langsung terhenti. Tatapan Samuel tanpa sadar tertuju pada satu orang. Gya. Perempuan itu terlihat tenang seperti biasa, dengan senyum lembut yang selalu membuat siapa pun merasa nyaman. Samuel menatapnya beberapa detik terlalu lama. "Eh, eh..." Aidan menyenggol lengannya. "Kau bilang targetmu Gya kan?" Samuel menoleh malas. "Lalu?" "Berhenti menatap seperti itu," kata Aidan sambil tertawa kecil. "Nanti Alden cemburu." Samuel mendengus pelan. Alden sendiri justru berdiri. "Sudah selesai kalian?" Bella mengangguk. "Kami hanya berbincang sebentar." Alden meraih tangan istrinya dengan lembut. "Kita harus kembali. Ada meeting berikutnya." Bella tersenyum kecil. Sebelum pergi, ia sempat menoleh pada Samuel. Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik. Samuel langsung memalingkan wajahnya. Alberto yang melihat itu hanya menghela napas pelan. Sementara itu—di sisi lain ruangan. Gya merasakan sesuatu. Ia menoleh sedikit ke belakang. Samuel masih duduk di tempatnya, berbicara dengan Aidan. Namun entah kenapa, perasaan aneh muncul di hatinya. Seolah semua yang sedang terjadi di sekeliling mereka hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. **** Beberapa menit kemudian restoran kembali sepi. Para pria itu pun mulai bersiap meninggalkan tempat tersebut. Alden dan Bella lebih dulu pergi. Alberto menyusul tak lama kemudian. Kini hanya tersisa Samuel dan Aidan. "Kau serius tentang Gya?" tanya Aidan tiba-tiba. Samuel mengambil jaketnya. "Kenapa?" Aidan menatapnya dengan serius. "Karena aku tahu wajahmu ketika benar-benar menginginkan sesuatu." Samuel tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Aidan melanjutkan, "Dan wajahmu sekarang... bukan wajah seorang playboy." Samuel terkekeh pelan. "Tenang saja." Ia berjalan menuju pintu keluar. "Aku hanya sedang bersenang-senang." Namun begitu keluar dari restoran— wajah santai itu perlahan menghilang. Samuel menyalakan ponselnya lagi. Pesan baru sudah menunggu. "Tuan, kami menemukan sesuatu." Samuel membuka pesan itu. Isi pesannya singkat. Mobil yang menjemput Sabrina semalam terdaftar atas nama perusahaan... Samuel membaca nama itu perlahan. Matanya menyipit. "Menarik..." Ia bergumam pelan. Karena nama perusahaan itu bukan milik sembarang orang. Perusahaan itu— memiliki hubungan langsung dengan Giorno Group. Artinya hanya ada satu kemungkinan. Sabrina tidak sedang bermain dengan sugar daddy. Ia sedang bermain dengan musuh. Samuel memasukkan kembali ponselnya ke saku. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau begitu... permainan ini akan jauh lebih menyenangkan." Namun yang tidak Samuel sadari—di dalam tas Sabrina yang berada beberapa kilometer dari tempat itu, masih tersimpan sebuah rekaman suara dari percakapan mereka di kamar hotel. Rekaman yang jika sampai jatuh ke tangan orang yang salah—bisa menghancurkan semuanya. Dan tanpa disadari siapa pun— permainan ini sudah berjalan jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan Samuel Aldebaran. Dan Samuel lengah karena hasratnya semalam. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD