Samuel berdiri di bawah kanopi restoran sambil memandang jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan malam. Lampu kota Berlin memantul di kaca-kaca gedung tinggi, menciptakan pemandangan yang biasa ia lihat setiap hari.
Namun malam ini pikirannya tidak setenang biasanya.
Ia membuka kembali pesan yang baru saja diterimanya.
Mobil yang menjemput Sabrina terdaftar atas nama perusahaan afiliasi Giorno Group.
Samuel menyipitkan mata.
"Giorno..." gumamnya pelan.
Nama itu bukan nama sembarangan dalam lingkaran Projek Nusantara. Jika benar Sabrina terhubung dengan mereka, maka situasinya jauh lebih rumit dari yang ia kira.
Giorno adalah perusahaan besar di New York. Dia adalah pesaing kuat Aldebaran selama ini. Samuel sudah pernah merusak jalannya dan Samuel yakin dia datang bukan karena masuk dalam kerja sama projek. Melainkan kedatangannya bisa menjadi bumerang untuk Samuel.
Sial!
Samuel memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Ia berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan restoran.
"Ke apartemen, Tuan?" tanya sopirnya. Sang supir menatap tuannya yang sepertinya tengah banyak memikirkan sesuatu. Padahal dia baru saja menemui perempuan cantik, bukankah harusnya bahagia? pikir sang supir.
Samuel mengangguk singkat.
Mobil hitam itu pun melaju perlahan meninggalkan area restoran.
***
Sementara itu, di tempat lain.
Sabrina duduk di kursi belakang mobil yang membawanya pergi dari CultureX Hotel & Resort semalam. Kini ia berada di apartemennya, menatap layar laptop yang menampilkan sebuah file audio.
Durasi: 07 menit 42 detik.
Ia menekan tombol play.
Suara Samuel terdengar jelas di ruangan itu.
"...Mulai besok kamu tetap dekat dengan Gya. Dengarkan semua yang mereka rencanakan..."
Sabrina menghentikan rekaman itu.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Samuel Aldebaran..." bisiknya.
Ia memutar kursinya perlahan.
"Pria sepintar kamu ternyata juga bisa ceroboh."
Ponselnya bergetar di meja.
Nama yang muncul membuat senyumnya menghilang.
Ia menjawab panggilan itu.
"Ya."
Suara di seberang sana terdengar berat dan tenang.
"Apakah semuanya berjalan sesuai rencana?"
Sabrina bersandar santai.
"Lebih baik dari yang kita harapkan."
"Samuel percaya padamu?"
Sabrina tersenyum kecil.
"Percaya bukan kata yang tepat."
Ia menatap layar laptop.
"Tapi dia sudah mengambil umpannya."
Beberapa detik hening.
"Bagus," kata suara itu. "Terus dekat dengan dia. Kita butuh lebih banyak informasi tentang Aldebaran Group."
Sabrina menghela napas pelan.
"Dan tentang Gya Sangster?"
Suara di telepon itu menjawab singkat.
"Terutama tentang dia."
Sabrina mematikan panggilan itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia kembali menatap rekaman di layar.
Jika file itu sampai tersebar—Samuel bisa kehilangan segalanya.
Tapi Sabrina belum berniat menggunakannya.
Belum.
Permainan ini baru dimulai. Sabrina akan memegang kendali dalam permainan ini supaya targetnya tunduk dengan apa yang dia inginkan. Termasuk lelaki yang baru saja menghubunginya.
****
Sementara itu di dalam mobil mewah.
Samuel menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Matanya menelisik tajam menatap bangunan-bangunan di sekitarnya.
Instingnya jarang salah.
Dan instingnya sekarang mengatakan satu hal.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Samuel membuka ponselnya lagi dan menghubungi seseorang.
"Luca."
Suara di seberang sana langsung menjawab.
"Ya, Tuan?"
"Aku ingin kamu menyelidiki seseorang."
"Siapa?"
Samuel terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Sabrina."
Ia menambahkan dengan nada dingin,
"Cari tahu semua tentang dia. Siapa yang dia temui, siapa yang membiayainya, dan siapa yang dia hubungi dalam tiga bulan terakhir."
Luca terdengar sedikit terkejut.
"Tiga bulan terakhir?"
"Ya."
Samuel menyipitkan mata.
"Dan lakukan diam-diam."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi. Kirimkan aku rekaman cctv CultureX semalam. Lalu hapus semua jejak Sabrina yang datang ke tempat itu semalam."
"Baik, Tuan. Ada lagi?" tanya Luca pada atasannya.
"Panggil Mirna ke tempatku. Aku butuh pelampiasan malam ini." jawab Samuel singkat.
"Baik, Tuan."
Panggilan terputus.
Samuel menutup ponselnya. Pikirannya menerawang jauh.
Jika Sabrina benar-benar bermain di belakangnya—maka ia harus memastikan satu hal terlebih dahulu.
Apakah perempuan itu hanya bidak...
atau justru pemain lain di papan yang sama.
Mobil berhenti di depan gedung apartemennya.
Samuel keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Namun sebelum masuk ke dalam gedung, ia berhenti sejenak.
Di kepalanya tiba-tiba muncul satu wajah.
Gya.
Samuel menghela napas pelan.
"Sepertinya permainan ini akan semakin rumit..."
Ia bergumam.
Karena jika Sabrina benar-benar berencana menjebaknya—maka kemungkinan besar Gya juga sudah berada di dalam permainan itu sejak awal.
Dan Samuel Aldebaran tidak pernah suka berada di permainan yang tidak ia kendalikan. Ia harus memastikan di mana posisi Gya dalam papan caturnya saat ini.
"Lihat saja, kalian semua akan jadi bidakku."
***
Raka berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu kota yang menyala di bawah sana. Angin malam berhembus dingin, tetapi pikirannya jauh lebih dingin dari udara di sekelilingnya.
Di tangannya ada sebuah tablet.
Di layar itu terpampang foto seseorang.
Samuel Aldebaran.
Raka menatap foto itu lama, seolah ingin mengingat setiap detail wajah pria tersebut.
Rahangnya mengeras.
"Samuel..." gumamnya pelan.
Nama itu sudah ia dengar sejak bertahun-tahun lalu. Nama yang selalu muncul dalam cerita tentang kehancuran keluarganya.
Namun selama ini ia hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran.
Sampai malam tadi.
Raka membuka folder lain di tabletnya.
Foto Sabrina muncul di layar.
Foto itu diambil dari kejauhan—ketika perempuan itu keluar dari CultureX Hotel & Resort.
Dan dari sudut yang lain...
terlihat Samuel berdiri di balkon kamar hotel.
Raka memperbesar gambar itu perlahan.
Senyumnya tipis.
"Jadi benar," katanya lirih.
Samuel dan Sabrina.
Keduanya ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih dekat dari yang terlihat.
Raka menggeser layar.
Foto berikutnya muncul.
Gya Sangster.
Tatapan Raka berubah sedikit lebih lembut.
Namun hanya sesaat.
Karena ia langsung teringat sesuatu.
Percakapan mereka beberapa waktu lalu.
Kalimat Gya yang masih ia ingat dengan jelas.
"Samuel itu sahabat kakakku. Dia orang baik."
Raka tertawa pelan.
"Orang baik?" gumamnya.
Jika Gya tahu siapa Samuel sebenarnya...
perempuan itu mungkin tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu lagi.
Pintu balkon terbuka.
Seseorang masuk membawa dua gelas minuman.
"Masih memikirkan dia?"
Suara itu milik Aufar, orang kepercayaan Raka.
Raka tidak menoleh. Matanya tetap menelisik ke bawah bangunan, menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang malam ini.
"Bukan."
Aufar berdiri di sampingnya. Matanya ikut menelisik apa yang di lihat bosnya atau sahabatnya ini.
"Lalu?"
Raka menatap layar tabletnya lagi. Memperlihatkan apa yang dia lihat sejak tadi pada Aufar.
"Samuel Aldebaran."
Aufar langsung mengerti. Sahabatnya ini sudah terdiam telalu lama. Hatinya sudah mati rasa. Bahkan jiwanya bukanlah jiwa manusia dengan penuh kehangatan. Tapi, jiwa iblis yang tengah memainkan peran untuk mengakhiri rasa sakit dalam dirinya.
"Apakah kita mulai bergerak?" Aufar bertanya pada Raka untuk langkah selanjutnya permainan mereka.
Raka menghela napas pelan.
Selama bertahun-tahun ia menunggu momen ini.
Namun sekarang setelah semuanya mulai mendekati titik itu...
ia justru harus berhati-hati.
Karena ada satu orang yang tidak seharusnya ikut terseret dalam permainan ini.
Gya.
Raka menutup layar tabletnya.
"Belum."
Aufar menatapnya heran.
"Kita tunggu dulu."
"Menunggu apa?" tanya Aufar bingung. Pasalnya juka terlalu molor malah akan berdampak buruk pada Gya nantinya
Raka tersenyum tipis.
"Samuel membuat langkahnya."
Ia memandang ke arah kota.
"Pria seperti dia tidak bisa diam lama."
Raka kemudian menambahkan dengan suara rendah.
"Dan ketika dia bergerak..."
Tatapannya menjadi dingin.
"Baru kita hancurkan semuanya."
Aufar mengangguk pelan.
Namun sebelum ia pergi, Raka kembali berbicara.
"Cari tahu sesuatu untukku."
"Apa?"
"Semua tentang Sabrina."
Aufar sedikit terkejut.
"Sabrina?"
"Ya."
Raka menyipitkan mata.
"Aku ingin tahu siapa sebenarnya perempuan itu."
Ia kembali menatap foto Samuel di layar.
Karena jika instingnya benar—Sabrina bukan hanya sekadar perempuan yang bermain dengan Samuel.
Ia mungkin adalah kunci dari seluruh permainan ini.
Dan Raka tidak pernah membiarkan kunci penting berada di tangan musuhnya terlalu lama.
Angin malam kembali berhembus.
Namun di balik ketenangan kota itu—permainan besar sedang mulai bergerak.
Tanpa disadari oleh siapa pun.
Terutama oleh seseorang bernama Gya Sangster, yang tanpa sengaja sudah menjadi pusat dari semuanya.
****