Part 19

1206 Words
Beberapa menit setelah mobil Samuel menghilang di tikungan jalan, pintu apartemen Gya diketuk pelan. Gya yang baru saja meletakkan tas kerjanya di sofa menoleh. Ia sudah bisa menebak siapa yang berdiri di luar sana. Raka. Lelaki itu tentu saja sudah menunggunya sejak tadi—lelaki yang berbicara dengannya di kantor sebelumnya, atau mungkin seseorang yang sangat menyerupainya. Gya tidak bodoh; ia tahu betul bagaimana permainan Raka. Namun, ia memilih diam dan menikmati alur permainan ini dengan tenang. Gya melangkah mendekat lalu membuka pintu. Raka berdiri di sana dengan raut wajah yang jauh lebih serius daripada saat mereka bertemu tadi siang. "Aku tahu kamu belum tidur," ucap Raka pelan. Gya bersandar pada kusen pintu, menatapnya dingin. "Kamu memang selalu suka datang tanpa memberi kabar," ketusnya. Raka tidak tersenyum sedikit pun. Wajahnya yang tegang justru membuat Gya semakin tertarik dengan pembahasan malam ini. "Aku tidak punya banyak waktu." Gya menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Masuklah." Raka melangkah masuk ke dalam apartemen sederhana itu. Tatapannya menyapu ruangan sejenak. Tempat itu memang tidak besar, tetapi terasa rapi dan hangat. "Sudah lama sejak terakhir kali kita bicara seperti ini," ujar Raka. Gya berjalan menuju dapur kecil. "Kamu yang menghilang tanpa kabar." Raka tidak membantah. Ia berdiri di dekat jendela ruang tamu, menatap kegelapan di luar. "Karena hanya itu yang harus aku lakukan waktu itu." Gya menuangkan air ke dalam dua gelas. "Kalau hanya untuk mengatakan hal yang sama seperti di kantor tadi, kamu tidak perlu repot-repot datang." Raka menatap punggung Gya. "Samuel Aldebaran mulai mencurigaimu." Gerakan Gya terhenti sejenak. "Aku tahu." "Dan ayahnya jauh lebih berbahaya dari yang kamu bayangkan." Gya berbalik membawa dua gelas air. "Masalahnya bukan cuma Samuel atau ayahnya," jawab Gya dengan raut wajah mengeras. Ia meletakkan salah satu gelas di meja. "Masalah utamanya adalah masa lalu kita." Raka menatapnya dalam-dalam. "Kamu masih menyelidiki tentang Grady." Itu bukan sebuah pertanyaan. Gya duduk di sofa. "Dia kakakku," bisiknya dengan suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya. "Dan semua orang memperlakukannya seolah-olah dia seorang penjahat." Raka menghela napas panjang. "Kamu tidak tahu seluruh ceritanya, Gya." "Kalau begitu ceritakan padaku!" Raka terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai selama beberapa detik sebelum kembali menatap mata Gya. "Malam ketika Samuel menemukan Grady bersama Andin... itu bukan kebetulan." Gya langsung menatapnya tajam. Dugaannya selama ini benar. Entah siapa yang menghasut kakaknya hingga mengambil langkah nekat itu, yang pasti Gya bertekad akan menghentikannya. "Maksudmu?" Raka perlahan melangkah mendekat. "Seseorang mengatur semuanya." Jantung Gya berdetak lebih cepat. "Siapa?" Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, "Grady tidak pernah berniat menyakiti siapa pun malam itu." Gya menggenggam gelas di tangannya lebih kuat. Ia sangat mengenal kakak kandungnya. Gya juga tahu, alasan mereka semua memilih menghilang pasti karena sebuah permasalahan besar—bukan hanya soal kelab malam itu, melainkan ada hubungannya dengan kematian kedua orang tua mereka di masa lalu. "Lalu kenapa semuanya berakhir tragis seperti itu?" tanya Gya menuntut. Raka menatapnya dalam. "Karena ada orang yang ingin menghancurkan keluarga Sangster." Ruangan itu mendadak terasa makin sunyi. Gya menelan ludah pelan. "Siapa?" Namun, sebelum Raka sempat menjawab, ponsel Gya tiba-tiba berdering nyaring di atas meja. Nama yang muncul di layar seketika membuat mereka berdua bungkam. Samuel Aldebaran. Gya dan Raka saling melempar pandang. "Jangan diangkat," bisik Raka pelan. Ponsel itu terus berdering, memecah kesunyian malam. Perasaan tidak nyaman mulai merayapi d**a Gya. Ia tahu satu hal: jika Samuel benar-benar mulai menyelidikinya, maka rahasia yang selama ini ia cari mungkin akan terbongkar jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Ponsel di atas meja masih terus berdering, menampilkan nama Samuel Aldebaran berulang kali. Gya menatap layar itu tanpa bergerak sedikit pun, sementara Raka berdiri tegang di dekat jendela. "Jangan diangkat," ulang Raka. "Kalau aku tidak mengangkatnya, dia justru akan semakin curiga," jawab Gya logis. Panggilan pertama akhirnya terputus. Namun belum sampai lima detik, ponsel itu kembali bergetar dan berdering. Samuel menelepon lagi. Raka menghela napas berat. "Dia memang tidak pernah suka menunggu." Gya menarik napas panjang lalu menggeser tombol hijau. "Halo." Suara Samuel terdengar tenang dari seberang telepon. "Kamu sudah sampai rumah?" Gya melirik sekilas ke arah Raka. "Sudah." "Bagus." Samuel hening sejenak, seolah sedang menimbang kata-katanya. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu." "Sekarang?" "Tidak," sahut Samuel dengan nada santai. "Besok saja di kantor." Alis Gya mengernyit halus. "Baik." "Selamat malam, Gya." Panggilan terputus secara sepihak. Gya menurunkan ponselnya perlahan. "Apa yang dia katakan?" tanya Raka cepat. "Tidak banyak," jawab Gya sembari duduk kembali di sofa. "Tapi dia pasti sudah mencurigai sesuatu." Raka berjalan mendekat dan duduk di kursi berseberangan. Kesunyian kembali melingkupi mereka, seolah keduanya sedang mengumpulkan keberanian untuk membongkar masa lalu yang telah lama terkubur. "Aku ingin tahu semuanya, Raka. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi," tekan Gya tegas. "Grady adalah kakakku, dan keluargaku hancur karena sesuatu yang bahkan tidak pernah kupahami." Raka menghela napas panjang. "Baik." Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan ucapan yang tertunda. "Malam ketika Samuel menemukan Grady bersama Andin... Grady sebenarnya sedang mencoba membantu Andin." Gya mengernyit heran. "Membantu?" Raka mengangguk. "Andin datang menemui Grady malam itu dalam keadaan panik luar biasa. Dia mengaku ada seseorang yang telah memperkosanya." Gya menatap Raka penuh keterkejutan. "What? Apa?! Memperkosa?!" "Ya," jawab Raka pelan. "Malam itu dia dijebak. Aku curiga ada hubungannya dengan Giorno, karena saat itu Giorno sangat terobsesi pada Mirna—wanita malam penghangat ranjang Samuel dan Giorno. Orang yang dipercaya Samuel untuk menghabiskan malam bersamanya." Dada Gya bergemuruh. "Siapa... siapa yang memperkosa Andin?" Raka menarik napas berat. Rasanya amat sulit membongkar fakta ini saat Grady sendiri memilih bungkam. Namun, Gya berhak tahu agar bisa mengambil langkah ke depan. "Aldebaran." Deg! Jantung Gya serasa berhenti berdetak. Tubuh cantiknya membeku. Nama yang baru saja terucap adalah nama yang paling tidak ingin ia dengar malam ini. "Yang kami tahu hanya satu hal," lanjut Raka dengan tatapan menusuk. "Malam itu, seseorang sengaja memancing Samuel ke lokasi kejadian. Seolah-olah mereka ingin Samuel menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri." Perlahan, benang merah itu mulai terangkai di otak Gya. "Jadi... semua itu jebakan?" Raka mengangguk pelan. "Ya." "Dan setelah itu... keluargaku hancur," lirih Gya. Raka tidak menjawab, tetapi guratan halus di wajahnya sudah menjadi jawaban yang cukup. "Siapa yang paling diuntungkan dari kehancuran keluarga Sangster?" tanya Gya beberapa saat kemudian. Pertanyaan itu membuat Raka membisu. Ekspresinya berubah jauh lebih kelam. "Banyak orang. Termasuk..." Raka menggantung kalimatnya, ragu untuk melangkah lebih jauh. "Termasuk siapa?!" desak Gya tajam. "...Keluarga Aldebaran," bisik Raka rendah. Gya membeku total. Pikirannya berputar hebat, merekam ulang seluruh potongan puzzle yang selama ini membingungkan: Samuel, ayah Samuel, peringatan dari kakaknya, hingga jebakan keji yang merusak hidup mereka. Namun sebelum Gya sempat bersuara, Raka mendadak berdiri dan melangkah cepat ke arah jendela. Matanya memicing tajam menatap kegelapan di luar. "Ada apa?" tanya Gya cemas. Raka menunjuk ke bawah, ke arah jalanan di depan kompleks apartemen. "Dia belum pergi." Gya menyusul ke jendela dan melayangkan pandangannya ke bawah. Sebuah mobil hitam tampak terparkir secara samar di tepi jalan. Lampu kabinnya redup, tetapi siluet seorang pria terlihat jelas duduk tegap di balik kemudi. Samuel. Gya menahan napas. "Dia... mengikuti aku?" Raka menatap mobil itu dengan rahang menegang keras. "Bukan cuma mengikuti," desisnya dingin. "Dia sedang menunggumu." Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Gya menyadari satu hal dengan sangat jelas. Permainan kotor yang dulu menghancurkan keluarganya... kini resmi dimulai kembali. ____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD