Bab 6

993 Words
Undangan dari sekolah Nina datang dalam amplop krem berlapis emas, terselip di antara tumpukan surat lain di meja konsol dekat pintu masuk. "Parents' Day — Kelas TK B, Kamis, pukul 09.00. Mohon kehadiran kedua orang tua." Rania membacanya berulang kali, jantungnya berdebar dengan perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menikah—harapan kecil yang nyaris malu-malu ia akui pada dirinya sendiri. Ini kesempatan yang tepat, pikirnya. Acara resmi sekolah, bukan acara keluarga besar yang penuh sindiran, hanya ia, Raka, dan Nina, tampil sebagai keluarga di depan guru-guru dan teman-teman sekelasnya. Malam itu, ia memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Raka, membawa undangan itu di tangan. "Mas, ini undangan dari sekolah Nina. Kamis depan, jam sembilan pagi. Mereka minta kedua orang tua hadir." Raka menerima undangan itu, membacanya sekilas, lalu meletakkannya di meja tanpa ekspresi berarti. "Kamis aku ada rapat pemegang saham. Tidak bisa diganggu gugat." "Bisa nggak diundur, Mas? Atau minimal kamu hadir sebentar saja di awal acara?" "Rapat itu sudah dijadwalkan sebulan lalu, Rania. Tidak semudah itu diundur hanya karena acara sekolah." Rania menahan napas, mencoba menekan rasa kecewa yang mulai menjalar. "Kalau begitu, aku yang akan datang sendiri. Aku daftarkan diriku sebagai wali yang hadir." Raka mengangguk singkat, kembali menatap layar laptopnya, seolah percakapan itu sudah selesai baginya. "Terserah. Suruh Hanny saja yang ikut kalau kamu perlu teman. Dia lebih hafal urusan sekolah Nina daripada aku." Kalimat itu terdengar seperti solusi praktis di telinga Raka. Tapi bagi Rania, itu terasa seperti pukulan telak—suaminya sendiri, tanpa berpikir dua kali, lebih memilih menyerahkan urusan anaknya kepada Hanny daripada mencoba membuat ruang untuk istrinya sendiri. Hari Kamis tiba. Rania berangkat pagi-pagi, mengenakan pakaian paling rapi yang ia punya, membawa bekal kecil kesukaan Nina yang sengaja ia buatkan sendiri sejak subuh. Sesampainya di aula sekolah, ia mencari nama Nina di antara barisan bangku kecil yang sudah dihias dengan balon dan kertas warna-warni. Ia menemukan kursi kosong di dekat bangku Nina, duduk di sana dengan senyum penuh harap. Tapi kursi di sisi lain Nina sudah terisi. Hanny. "Loh, Mba Rania juga datang?" tanya Hanny, terkejut, meski nada suaranya terdengar seperti keterkejutan yang dibuat-buat. "Aku kira Mba nggak bisa, soalnya kemarin Nina bilang Bundanya yang akan datang, jadi aku sudah konfirmasi ke wali kelas." Rania menatap Nina, yang duduk di antara mereka berdua dengan wajah bingung, lalu menatap wali kelas yang berdiri di depan. "Nina, hari ini yang datang siapa saja, ya?" tanya wali kelas ramah, tersenyum ke arah meja mereka sambil memegang daftar hadir di tangannya. "Bunda Hanny," jawab Nina cepat, riang, sebelum siapa pun sempat bicara. Lalu ia menoleh ke Rania, wajahnya berubah ragu. "Sama ... Tante Rania." Wali kelas mencatat sesuatu di kertasnya, tersenyum sopan ke arah Rania. "Baik, jadi hari ini Nina didampingi Bunda dan Tante-nya, ya. Lengkap sekali." Kata-kata sederhana itu—didampingi Bunda dan Tante-nya—menghantam Rania lebih keras daripada kalimat sinis mana pun yang pernah dilontarkan Hanny selama ini. Diucapkan begitu wajar, begitu tanpa dosa, oleh seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa yang duduk di sebelah anak itu bukan sekadar tante, melainkan istri sah ayahnya. Acara berlangsung dengan Nina tampil menyanyi di depan kelas, matanya mencari-cari sosok Hanny di antara penonton setiap kali ia lupa lirik, tersenyum lega setiap kali Hanny melambai memberi semangat. Rania bertepuk tangan di sela-sela itu, tersenyum sebisa mungkin, meski dadanya terasa semakin berat setiap menit yang berlalu. Selesai acara, para orang tua berkumpul di halaman sekolah, berfoto bersama anak-anak mereka. Beberapa ibu lain melirik penasaran ke arah Rania dan Hanny yang berdiri berdampingan di dekat Nina, berbisik-bisik pelan yang sengaja tidak terdengar jelas, tapi cukup untuk membuat Rania merasakan tatapan itu menembus punggungnya. Nina berlari memeluk kaki Hanny lebih dulu begitu acara selesai, mengangkat kedua tangannya minta digendong. Hanny mengangkatnya dengan mudah, mencium pipinya, memuji nyanyiannya tadi dengan berlebihan hingga Nina tertawa riang. Rania berjongkok di depan mereka berdua, mencoba ikut tersenyum. "Nina nyanyinya bagus banget tadi." Nina menoleh sebentar, tersenyum kecil. "Makasih, Tante," lalu kembali menyembunyikan wajahnya di leher Hanny, terlalu asyik menikmati pujian dari sosok yang sudah lama ia anggap ibunya sendiri untuk memberi ruang lebih bagi Rania. Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang sama, Hanny duduk di kursi belakang bersama Nina yang tertidur di pangkuannya, sementara Rania duduk sendirian di kursi depan sebelah sopir. "Mba Rania nggak usah kecil hati," kata Hanny tiba-tiba, memecah keheningan, suaranya lembut seperti biasa. "Nina cuma butuh waktu. Lagipula, nggak semua orang bisa langsung jadi ibu yang baik. Aku juga belajar pelan-pelan, kok, sejak Kak Marsha nggak ada." Rania menatap jalanan di depan lewat kaca mobil, tidak berbalik. "Aku tahu, Hanny. Terimakasih sudah mewakili aku sebagai ibunya Nina." "Sama-sama," jawab Hanny ringan. "Lagian, aku memang sudah janji sama Kak Marsha, aku akan jagain Nina seperti anakku sendiri. Jadi ya, wajar aja kalau Nina lebih deket sama aku." Kalimat itu terdengar seperti penjelasan biasa. Tapi Rania tahu betul, di balik nada polos itu, Hanny baru saja menegaskan sekali lagi—dengan cara paling halus dan paling sulit dibantah—bahwa posisi itu memang sudah ia klaim sejak lama, jauh sebelum Rania bahkan mengenal nama Raka Wicaksono. Sesampainya di rumah, Rania langsung masuk ke kamarnya, menutup pintu perlahan, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Raka, dikirim beberapa jam lalu, saat acara sekolah masih berlangsung. "Rapat selesai lebih cepat. Gimana acaranya tadi?" Rania menatap pesan itu lama, jarinya mengetik beberapa kali lalu menghapusnya lagi, sebelum akhirnya hanya membalas singkat. "Lancar, Mas. Nina nyanyinya bagus." Ia tidak menceritakan bagian tentang wali kelas yang mencatat Hanny sebagai "Bunda" di absensi. Ia tidak menceritakan tatapan para ibu lain yang berbisik-bisik. Ia tidak menceritakan bagaimana rasanya duduk di kursi kedua, di acara yang seharusnya menjadi momennya sebagai ibu tiri Nina, sementara posisi itu sudah lama direbut orang lain tanpa perlu berebut sama sekali. Ia hanya meletakkan ponselnya di meja, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh sendirian, tanpa seorang pun yang melihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD