Rania merasa tubuhnya semakin panas sejak siang, tapi ia tetap memaksakan diri menyelesaikan sketsa renovasi ruang baca yang sudah ia janjikan pada Bi Surti untuk ditunjukkan sore itu.
Kepalanya berdenyut, pandangannya sesekali mengabur, tapi ia mengabaikannya. Ia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri sejak kecil—ayahnya sering sakit-sakitan, dan Rania-lah yang biasanya merawat, bukan sebaliknya. Jadi ketika demam mulai naik menjelang malam, ia hanya minum obat penurun panas seadanya dari kotak P3K di kamarnya, lalu berbaring, berharap besok pagi semuanya membaik.
Ia tidak memberi tahu siapa pun.
Bukan karena gengsi semata, tapi karena ia sudah cukup lama tinggal di rumah itu untuk tahu, tidak akan ada yang benar-benar peduli.
Malam itu, di lantai bawah, keributan kecil terjadi di dapur.
Hanny tersandung ambang pintu saat membawa piring untuk Nina, pergelangan kakinya terkilir ringan. Teriakannya cukup keras hingga terdengar sampai ruang kerja Raka di lantai dua.
"Hanny?!" Raka sudah berlari turun sebelum teriakan itu selesai bergema, wajahnya pucat, jauh dari ekspresi datarnya yang biasa.
"Nggak apa-apa, Mas, cuma kepeleset—"
"Duduk, jangan gerak dulu." Raka sudah berjongkok di depannya, memeriksa pergelangan kaki Hanny dengan hati-hati, jari-jarinya menekan perlahan untuk memastikan tidak ada yang patah. "Sakit di sini? Di sini?"
"Sedikit, tapi beneran nggak apa-apa—"
"Aku panggil dokter Melati sekarang," potong Raka, sudah meraih ponselnya. "Biar diperiksa langsung, jangan tunggu sampai bengkak."
Nina berdiri di dekat situ, menatap khawatir. "Bunda sakit?"
"Bunda nggak apa-apa, sayang," jawab Hanny lembut, meski matanya sesekali melirik Raka yang masih sibuk menelepon dokter pribadi keluarga dengan nada tegang, seolah pergelangan kaki terkilir adalah keadaan darurat.
Dua puluh menit kemudian, dokter Melati datang, memeriksa kaki Hanny yang ternyata hanya perlu dikompres es dan istirahat. Raka duduk di sampingnya sepanjang pemeriksaan, sesekali bertanya hal-hal kecil—apakah perlu dibalut, apakah perlu obat pereda nyeri, apakah besok masih akan sakit saat berjalan.
Tidak ada satu orang pun yang naik ke lantai atas untuk memeriksa kamar Rania.
Rania terbangun tengah malam dengan tubuh menggigil, keringat dingin membasahi pakaiannya, kepalanya terasa seperti dipalu dari dalam. Ia mencoba bangun untuk mengambil air, tapi kakinya lemas, pandangannya berputar, dan ia hanya bisa merosot kembali ke ranjang.
Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik pesan singkat ke nomor Raka.
"Mas, aku demam tinggi. Bisa tolong minta Bi Surti bawakan air dan obat?"
Pesan itu terkirim. Centang biru muncul dua menit kemudian.
Tidak ada balasan.
Rania menunggu, menatap layar ponselnya dalam gelap, berharap ada getar notifikasi. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tidak ada apa-apa.
Akhirnya, dengan susah payah, ia memaksakan diri turun sendiri ke dapur, berpegangan pada dinding lorong yang gelap, hanya untuk menemukan bahwa Bi Surti sudah lama tidur, dan lampu di ruang tengah masih menyala—Raka masih duduk di sana, ponselnya di tangan, wajahnya lelah tapi terjaga, jelas belum tidur sama sekali.
"Mas," panggil Rania lemah, bersandar di ambang pintu.
Raka menoleh, dan baru saat itu ekspresinya berubah—seolah baru sadar keberadaannya.
"Kenapa turun sendiri, badanmu—" Ia berdiri cepat, tapi gerakannya masih terasa seperti keterkejutan biasa, bukan kepanikan yang sama seperti saat Hanny terpeleset beberapa jam lalu. "Kau demam?"
"Aku kirim pesan," jawab Rania pelan, suaranya nyaris habis. "Sejam yang lalu."
Raka meraih ponselnya, membuka pesan itu, terdiam sejenak melihat waktu pengiriman. "Aku ... sedang mengurus Hanny yang terkilir. Tidak sempat cek ponsel."
"Aku tahu," jawab Rania, tidak ada nada menyalahkan dalam suaranya, hanya kelelahan yang jujur. "Aku cuma butuh air dan obat, Mas. Aku bisa ambil sendiri, cuma agak pusing tadi."
Raka membantunya duduk di sofa, mengambilkan air dan obat penurun panas dari lemari P3K dapur, gerakannya sudah cukup sigap sekarang—tapi Rania tidak bisa berhenti membandingkan, tanpa bermaksud membandingkan sama sekali. Terkilir ringan yang bahkan tidak butuh dibalut, mendapat panggilan dokter pribadi dalam dua puluh menit. Demam tinggi yang membuatnya nyaris pingsan di tangga, baru direspons setelah ia turun sendiri mencari pertolongan.
"Terima kasih, Mas," kata Rania pelan, setelah minum obat itu.
Raka duduk di kursi seberangnya, menatapnya dalam diam untuk beberapa saat. "Kenapa tidak bangunkan aku langsung? Ketuk pintu kamarku, atau apa."
Rania tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada tulus. "Pintu kita nggak pernah dibuka, Mas. Aku nggak mau maksa ketuk pintu yang memang sengaja dikunci."
Raka tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap gelas kosong di tangannya sendiri, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.
Rania tidak menunggu jawaban itu. Ia berdiri perlahan, mengucapkan selamat malam, lalu berjalan kembali ke kamarnya sendiri, meninggalkan Raka duduk sendirian di ruang tengah yang temaram, dengan sesuatu di wajahnya yang untuk sesaat terlihat seperti penyesalan—sebelum ekspresi itu kembali tertutup rapat seperti biasa.
Rania tidak melihatnya. Ia sudah terlalu lelah untuk berharap lagi malam itu.