Bab 3

836 Words
Pagi pertama Rania sebagai Nyonya Wicaksono dimulai dengan suara ketukan pintu yang sopan namun tegas. "Nyonya, sarapan sudah siap di meja," kata seorang asisten rumah tangga bernama Bi Surti, menunduk sopan sebelum berlalu. Nyonya. Rania masih belum terbiasa dengan sebutan itu. Ia bangun, merapikan diri seadanya, lalu turun ke ruang makan besar yang malam sebelumnya menjadi saksi bisu pernikahannya yang hampa. Meja makan sudah ramai. Ibu Wicaksono duduk di ujung meja dengan sikap tegak, menyesap teh dengan anggun. Di sisi lain, Hanny duduk bersebelahan dengan Raka, menyuapi Nina yang duduk di kursi tinggi khusus anak, tertawa kecil setiap kali gadis kecil itu menolak sesendok bubur. "Selamat pagi," sapa Rania, mencoba terdengar wajar. Ibu Wicaksono menoleh sekilas, menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu bangun kesiangan untuk ukuran menantu baru," katanya, nadanya datar tapi menusuk. "Hanny selalu bangun jam lima, membantu menyiapkan sarapan untuk Nina sebelum Raka berangkat kerja." "Saya ... belum tahu rutinitas di rumah ini, Bu," jawab Rania, duduk di kursi kosong yang jauh dari yang lain, seolah memang sudah disiapkan untuknya di ujung meja. "Akan kau pelajari," sahut Ibu Wicaksono singkat, kembali fokus pada tehnya. Raka tidak mengangkat wajah dari ponselnya. Tidak ada kata selamat pagi, tidak ada tatapan, apalagi sapaan hangat seperti yang ia berikan pada Hanny semalam. Rania menatap piringnya sendiri, menelan sarapan dalam diam, mendengarkan celotehan kecil Nina yang tertawa riang mendengar Hanny membuat suara-suara lucu. Ia bertanya-tanya, apakah ia akan selamanya menjadi bayangan di rumah ini—hadir, tapi tak pernah benar-benar terlihat. Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Raka berangkat pagi-pagi buta, pulang larut malam, dan komunikasi mereka tidak lebih dari kalimat-kalimat fungsional. "Ada rapat keluarga besok, kau harus hadir." "Jangan lupa acara amal minggu depan, aku sudah kirim detailnya ke asistenmu." "Aku pulang telat, tidak usah menunggu." Rania mulai mengisi waktunya dengan hal-hal kecil. Ia membantu Bi Surti menata ulang taman belakang yang selama ini terbengkalai, mendaftar kursus desain interior daring, dan diam-diam mulai membuat sketsa-sketsa renovasi untuk ruang kerja pribadi—meski tak seorang pun di rumah itu tahu, apalagi peduli. Suatu sore, ia memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Raka, membawa secangkir kopi seperti yang biasa dilakukan istri-istri pada umumnya. "Mas, aku bawa kopi," katanya pelan, membuka pintu sedikit. Raka mendongak dari layar laptopnya, ekspresinya datar, nyaris terganggu. "Taruh saja di meja." Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada tatapan yang lebih dari dua detik. Rania meletakkan cangkir itu, lalu keluar tanpa berkata apa-apa lagi, menutup pintu perlahan di belakangnya. Di lorong, ia berpapasan dengan Hanny yang baru keluar dari kamar Nina. "Mba Rania habis dari ruang kerja Mas Raka?" tanya Hanny, tersenyum tipis—senyum yang selalu terasa seperti sindiran terbungkus manis. "Dia paling tidak suka diganggu kalau sedang kerja. Mba Rania pasti belum tahu, ya, kebiasaan-kebiasaan kecilnya." "Aku baru belajar," jawab Rania, mencoba tetap tenang. "Wajar," kata Hanny, menepuk lengan Rania pelan, seolah menghibur seorang adik yang malang. "Butuh waktu bertahun-tahun buat benar-benar mengenal seseorang seperti Mas Raka. Aku sendiri sudah delapan tahun mengenalnya, sejak sebelum dia menikah dengan kak Marsha." Ia berhenti sejenak, matanya berkilat samar. "Jadi jangan berkecil hati kalau dia belum terbuka padamu." Kalimat itu terdengar seperti nasihat baik. Tapi entah kenapa, dadanya terasa semakin sesak setiap kali mendengarnya. Malam itu, setelah rumah sunyi dan semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, Rania tidak bisa tidur. Ia turun ke dapur untuk mengambil air, melewati lorong panjang yang temaram. Langkahnya terhenti ketika ia melihat siluet seseorang berdiri di depan pintu kamar Marsha yang selama ini selalu terkunci. Raka. Ia berdiri mematung di depan pintu itu, satu tangannya menempel di permukaan kayunya, kepalanya tertunduk. Dari jarak itu, Rania bisa mendengar suaranya—pelan, nyaris berbisik, seperti sedang berbicara pada seseorang yang tak akan pernah menjawab. "...Maaf. Aku masih belum bisa. Bahkan sampai sekarang." Rania membeku di tempatnya, tidak berani bergerak, tidak berani bernapas terlalu keras. Raka menempelkan dahinya ke pintu itu sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya—sebuah kunci kecil berwarna perak, berbeda dari kunci-kunci lain di rumah itu. Ia menatapnya lama, seolah bertarung dengan dirinya sendiri, sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke saku tanpa membuka pintu itu. "Bukan salahmu," gumamnya lagi, suaranya nyaris pecah. "Tapi aku yang tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Rania mundur perlahan, jantungnya berdebar keras, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan bahkan pada dirinya sendiri. Maaf untuk apa? Memaafkan diri sendiri untuk apa? Ia selalu percaya Marsha meninggal karena kecelakaan biasa—kecelakaan tunggal saat melindungi Nina yang masih bayi, seperti yang selalu diceritakan keluarga besar Wicaksono. Tapi cara Raka berdiri di depan pintu itu malam ini, cara suaranya bergetar seperti menanggung dosa yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun—itu bukan tampilan seorang pria yang sekadar berduka. Itu tampilan seorang pria yang menyimpan rahasia. Rania kembali ke kamarnya malam itu tanpa sempat mengambil air yang ia cari, pikirannya dipenuhi satu bisikan kecil yang tak bisa ia usir, bahwa kematian Marsha, dan dinginnya Raka selama ini, mungkin berakar dari sesuatu yang jauh lebih gelap daripada yang pernah diceritakan siapa pun kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD