Bab 2

939 Words
Tiga tahun sebelum malam itu. Kertas pernikahan itu masih terasa dingin di ujung jari Rania ketika ia menandatanganinya. Tidak ada gaun putih. Tidak ada bunga. Hanya sebuah meja kayu gelap di ruang kerja pribadi Raka Aditya Wicaksono, dua pena, dan seorang notaris yang bekerja secepat mungkin seolah ingin cepat-cepat pergi dari ruangan yang dingin itu. "Sudah selesai?" tanya Raka, tanpa menoleh dari layar laptopnya. "Sudah, Mas," jawab Rania pelan. Baru kali itu ia sadar, menikah bisa semenyedihkan ini. Tidak ada ciuman, tidak ada ucapan selamat. Hanya tanda tangan, seperti menandatangani kontrak kerja. Raka akhirnya menutup laptopnya dan berdiri. Tingginya menjulang, rapi dalam balutan jas abu-abu gelap yang membuatnya terlihat seperti baru keluar dari rapat direksi, bukan baru saja menikah. Cahaya lampu makan jatuh lembut di wajah Rania, di kulitnya yang putih bersih, di lesung pipi kecil yang muncul samar saat ia berusaha tersenyum meski hatinya sedang gugup. Raka tidak pernah mengucapkannya, bahkan pada dirinya sendiri, tapi ia tahu betul—perempuan di hadapannya ini cantik, sangat cantik, jenis kecantikan yang bisa membuat siapa pun berhenti sejenak. Ia hanya tidak membiarkan dirinya menatap terlalu lama. "Ada beberapa hal yang perlu kau tahu," katanya, sambil berjalan ke arah jendela. "Pertama, kau tinggal di rumah keluarga Wicaksono. Kau akan diperkenalkan sebagai istriku di depan publik jika diperlukan. Kedua—" ia berhenti sebentar, "—jangan pernah menyentuh barang-barang di kamar sebelah kamarku." Rania mengerutkan kening. "Kamar sebelah?" "Kamar Marsha," jawabnya singkat, seolah nama itu adalah sesuatu yang menyakitkan untuk diucapkan lebih dari tiga kata. "Istriku." Rania menahan napas. Istriku. Bukan mendiang istriku. Bukan istri pertamaku. Hanya ... istriku. Seolah pernikahan yang baru saja terjadi di ruangan ini tidak nyata sama sekali. "Baik, Mas," jawab Rania, menundukkan kepala agar Raka tidak melihat matanya yang mulai memanas. "Ketiga," lanjut Raka, "jangan berharap terlalu banyak. Pernikahan ini murni demi Nina dan demi kestabilan perusahaan. Aku sudah cukup jelas soal itu sejak awal." "Aku tahu," kata Rania cepat. Terlalu cepat, hingga terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. Ia tahu betul kenapa ia berada di sini. Ayahnya, satu-satunya keluarga yang tersisa, terbaring di rumah sakit dengan tagihan yang tidak akan pernah sanggup ia lunasi seumur hidup—sampai keluarga Wicaksono datang menawarkan bantuan, dengan satu syarat: Rania harus menikahi putra tunggal mereka. Ia tidak pernah membayangkan cinta dalam pernikahan ini. Tapi ia juga tidak menyangka akan disambut sedingin ini. Malam itu, Rania berjalan menyusuri lorong rumah keluarga Wicaksono yang luas dan sunyi. Setiap dinding dipenuhi foto—dan hampir semuanya menampilkan wajah yang sama, seorang wanita cantik dengan senyum lembut, menggendong bayi, tertawa bersama Raka yang jauh lebih hangat dari yang ia kenal hari ini. Marsha. Di ujung lorong, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun berdiri memandanginya dengan mata curiga, digendong oleh seorang perempuan muda yang tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kamu pasti Rania," kata perempuan itu. "Aku Hanny. Adik Marsha--Almarhumah istri mas Raka." "Senang bertemu denganmu," jawab Rania, berusaha membalas senyum itu. Anak kecil dalam gendongan Hanny—Nina—menyembunyikan wajahnya di bahu Hanny, enggan menatap Rania lebih lama. "Aku harap kau mengerti posisimu di sini," lanjut Hanny, suaranya lembut tapi setiap kata terasa seperti pisau kecil. "Rumah ini, keluarga ini ... sudah punya bentuknya sendiri jauh sebelum kau datang. Jangan mencoba mengubah apa pun." Rania hanya diam, menatap punggung Hanny yang membawa Nina menjauh, meninggalkan gema tawa kecil si anak saat Hanny membisikkan sesuatu padanya—tawa yang belum pernah, dan mungkin tidak akan pernah, ditujukan pada Rania. Ia menatap sekali lagi ke deretan foto di dinding. Marsha tersenyum ke arahnya, seolah mengejek dari balik bingkai kaca. Baiklah, batin Rania, mengepalkan tangan. Aku tidak datang untuk direbut posisinya. Aku hanya datang untuk bertahan. Ia baru saja hendak kembali ke kamarnya ketika suara ribut dari arah dapur membuatnya berhenti. "Hanny? Kau kenapa?" Suara itu—suara Raka—tapi sama sekali berbeda dari nada datar yang ia dengar sepanjang sore. Ada sesuatu yang mendekati panik di sana. Rania mengintip dari balik pintu. Raka berjongkok di depan Hanny, menggenggam tangannya erat, memeriksa jari telunjuknya yang tergores pisau—luka kecil, tidak lebih dari dua sentimeter, nyaris tidak berdarah. "Cuma kepotong sedikit, Mas, tidak apa-apa—" "Duduk," potong Raka tegas, sudah menarik kursi untuk Hanny sebelum wanita itu sempat menolak. Ia mengambil kotak P3K dari laci dengan gerakan cepat, tangannya sendiri sedikit tidak stabil saat membersihkan luka itu. "Kenapa kau tidak hati-hati. Kalau butuh sesuatu tinggal panggil orang, tidak usah masuk dapur sendiri." "Ini cuma luka kecil—" "Aku yang menentukan itu kecil atau tidak," jawabnya, suaranya tetap rendah tapi tegas, hampir tidak sabar. Setelah selesai membalut luka itu, ia bahkan memeriksa telapak tangan Hanny sekali lagi, seolah memastikan tidak ada yang terlewat. Rania berdiri mematung di lorong gelap, menyaksikan pemandangan itu seperti menonton kehidupan orang lain dari balik kaca. Ini adalah pria yang sama yang, dua jam lalu, menandatangani surat pernikahan mereka tanpa sekali pun menatap matanya lebih dari tiga detik. Pria yang bicara soal posisi dan kestabilan perusahaan seolah Rania adalah aset baru yang baru saja masuk neraca. Tapi di sini, di depan wanita lain, ia bisa panik hanya karena goresan sekecil kertas. Rania mundur perlahan, tidak ingin ketahuan berdiri di sana. Dadanya terasa aneh—bukan cemburu, ia meyakinkan diri sendiri. Ia bahkan tidak berhak cemburu. Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak menandatangani kertas itu, ia sadar satu hal dengan sangat jelas, pria itu memang bisa hangat. Hanya saja, bukan untuknya. Malam itu, ia kembali ke kamarnya sendiri, dan mendengar suara kunci diputar dari sisi lain pintu penghubung kamar mereka. Ia tidak tahu, malam itu adalah malam pertama dari ratusan malam panjang yang akan mengubah segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD