Pagi itu, seperti biasa. Bunga melakukan rutinitasnya tanpa suara. Membuat sarapan favorit Arka. Kopi hitam kesukaannya. Tak lupa telur setengah matang. Tersaji di atas meja makan dengan sempurna.
Bunga, tanpa pamri menunaikan tugasnya sebagai wujud bakti. Namun, semua itu seolah tak terlihat oleh Arka.
Pria itu kerap asik dengan dunianya. Dunia yang membawanya ke masa lalu.
Hampir setiap hari Arka bernostalgia bersama Nayla, cinta pertamanya.
Arka duduk di kursi makan seperti biasa. Sementara Bunga duduk di depannya. Tak ada yang membuka kata, sampai akhirnya suara dering ponsel pria itu menghentak keduanya.
Arka tersenyum manis. Senyuman yang jelas bukan untuk Bunga.
"Iya."
"..."
"Jangan lupa sarapan."
Kalimat pengingat itu seketika mencelos ulu hati Bunga. Bersamaan dengan sendok makan yang tiba-tiba terjatuh dari tangannya.
Satu kata itu sukses membuka tabir luka bertahun-tahun silam.
"Jangan lupa makan."
Kalimat pengingat yang tak pernah ditujukan untuk Bunga. Jelas itu bukan untuk dia. Bunga hanyalah pelengkap pernikahan paksa kedua keluarga.
"Mas," panggil Bunga.
"Hm."
Arka tidak menoleh. Ia menyeruput kopi hitam miliknya yang sudah menghangat.
Arka asik memainkan ponselnya sembari tersenyum.
Kadang terdengar tawa kecil darinya. Tawa yang jelas bukan tentang Bunga.
Arka membuka i********: Nayla. Di sana ia melihat seluruh potret gadis itu sewaktu masih di Singapura.
Lagi-lagi Bunga hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk. Matanya berkaca-kaca.
Seharusnya Bunga terbiasa dengan sikap acuh Arka. Penolakannya bagai penghinaan tanpa batas.
"Mas aku mau ke rumah sakit."
Entah apa yang Bunga pikirkan, sampai ia berani memberitahu Arka soal kesehatannya.
"Ck..."
Arka berdecak kesal. Seolah dunianya beru saja terganggu.
Bunga menunduk penuh sesal. Ia menyesal mengajak Arka bicara.
Ini adalah penolakan yang kesekian kalinya semenjak menikah. Namun, penolakan kali ini seolah merampas seluruh harapan Bunga.
"Maaf," lirihnya.
Hening menghampiri. Bunga memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Namun, ia tidak benar-benar makan.
Butiran nasi itu ibarat duri tajam. Melukai kerongkongannya.
Tiga menit berlalu. Arka mendongak. Meletakkan ponselnya ke atas meja makan.
"Kau mengatakan apa tadi?"
Setelah puas meninggalkan jejak love di beranda i********: Nayla, pria itu akhirnya mulai fokus pada Bunga.
"Tidak ada," jawab Bunga.
"Baiklah, kalau begitu aku ke kantor dulu."
Hanya itu. Tak ada ciuman pagi hari. Tak ada salam selayaknya suami. Arka pergi tanpa pamit. Lagi pula hal ini sudah berlangsung sejak mereka resmi menikah.
"Mas, aku sekarat," lirih Bunga seorang diri begitu suara mobil Arka hilang dari pendengaran.
Bunga terisak seperti seseorang yang kehilangan harapan.
Separuh hidupnya telah direnggut Arka. Cintanya telah habis ia berikan hanya untuk pria itu.
Padahal sejak awal Bunga sadar, bahwa Arka tidak pernah menginginkannya.
Kini alasan itu sudah sangat jelas. Ada wanita lain dalam hidup lelaki itu.
Lima menit berlalu. Bunga merasakan sakit luar biasa pada perut kanannya. Rasanya seperti belati menyilet sendi-sendi. Perih. Ngilu. Seperti hendak terlepas dari urat nadi.
"Akk--"
Bunga meremas perut ratanya. Ia setengah menunduk sembari menutup mata. Rasa sakit itu seolah menghantam tepat ke jantungnya.
"Tuhan... Sakit..."
Bunga hanya bisa merintih seorang diri. Andai saja Arka tahu penderitaannya. Penyakitnya. Luka batinnya. Mungkin hari ini tidak akan pernah ada.
Arka hanya fokus pada satu orang. Nayla.
Menjelang siang, sakit itu mulai samar. Bunga memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Setidaknya di sana ada seseorang yang bisa diajak bicara. Walau dia sendiri tak berani berharap.
Bunga bergegas. Meninggalkan piring kotor bekas sarapan tadi di atas meja.
Hari itu Bunga mengenakan baju kaos putih. Berpadu dengan celana kulot navi.
Bunga mengenakan kacamata hitam. Tak lupa masker untuk menutupi wajahnya yang pucat lagi tirus.
"Maaf, apakah Anda sudah menikah?" tanya dokter Erka, spesialis dalam.
Mendengar kata suami, sontak hati Bunga tercubit.
Suami? kata itu terlalu asing di indera pendengaran Bunga.
Dia berstatus sebagai istri. Namun, hanya di atas kertas. Faktanya adalah peran itu tidak pernah benar-benar dijalankan. Baik di atas ranjang maupun dalam kehidupan sehari-hari. Status itu hanya sebatas nama. Tidak lebih. Tidak kurang.
"Iya," jawabnya setelah beberapa saat diam.
"Lalu di mana dia? apakah Anda bisa memanggilnya? Agar saya bisa menjelaskan lebih lanjut serangkaian pengobatan. Namun, sebelum itu saya butuh persetujuan dari beliau."
Persetujuan beliau? Arka? Apakah pria itu peduli?
Tidak. Arka sama sekali tidak peduli. Bahkan kehadiran Bunga dalam hidupnya bagai angin lalu yang sekedar lewat.
Bunga tersenyum getir. Lebih kepada luka batin.
"Berapa besar peluang untuk sembuh?"
Alih-alih menjawab pertanya dokter, Bunga justru mengajukan pertanyaan putus asa.
"Bu, jika Anda bersedia menjalani serangkaian pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut, maka peluang sembuhnya cukup tinggi," jawab Erka.
"Jawab saja berapa persen peluangnya?" sarkas Bunga mulai lelah.
Ya, Bunga sudah merasa lelah dengan hidupnya.
Sejak kecil ia hidup bersama kakek dan neneknya tanpa sosok orang tua. Sampai akhirnya ia mencapai usia dewasa dan siap untuk menikah. Namun, wanita itu harus dihadapkan dengan takdir yang menyakitkan.
"80 persen kemungkinan untuk sembuh," jawab Erka akhirnya.
Lagi, Bunga tersenyum getir. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri.
80 persen peluang untuk sembuh. Sisanya bisa mati kapan saja.
"Bagaimana jika saya tidak bersedia untuk berobat? Apakah 20 persen itu bisa segera datang?"
Pertanyaan Bunga kali ini membuat Erka terkejut. Namun, tetap profesional.
Bukan baru kali ini Erka menghadapi pasien yang putus asa akan penyakitnya. Bukan hanya Bunga pasien yang bebal dan menolak untuk berobat.
Bertahun-tahun lamanya Erka berkecimpung dalam dunia kesehatan. Namun, entah mengapa. Saat bertemu Bunga, hati pria itu justru merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan iba. Bukan pula suka. Melainkan sesuatu yang sukses mencubit hatinya. Namun, Erka tidak tahu apa namanya.
Erka menghela napas pelan. Ia tahu orang seperti Bunga sangat banyak. Namun, sebagai dokter yang profesional, Erka tetap memberi saran yang masuk akal agar pasiennya terdorong untuk berobat.
Erka menutup penanya. Ia sedikit bersandar pada kursi kerjanya sembari menyatukan jemari.
"Dalam dunia medis, peluang untuk sembuh tentu lebih diutamakan. Namun, semua kami kembalikan kepada pasien. Jika Anda memilih untuk menempuh kepada yang 20 persen tadi, maka saya menyarankan untuk berpikir kembali. Diskusikan masalah ini kepada suami Anda atau keluarga. Setelah itu Anda boleh memutuskan."
Tatapan Erka seolah menelisik batin Bunga. Ia tidak sedang mencoba mencari tahu masalah wanita itu. Sebab, sejatinya ia sudah tahu. Namun, ada hal lain yang coba Erka ingin ungkap.
Alasan mengapa Bunga seolah tidak ingin membahas suaminya. Alasan Bunga mengapa ia tidak ingin melanjutkan serangkaian pengobatan.
Tetapi, Erka hanyalah dokter yang bertugas membantu serta memberi dorongan pasien untuk berobat dan bertahan.
"Baiklah, terimakasih atas sarannya. Permisi."
Bunga tidak menyahut. Ia pamit begitu saja tanpa membalas tatapan Erka.