Begitu keluar dari rumah sakit, Bunga memesan taksi lewat aplikasi. Tak butuh waktu lama. Lima menit. Taksi itu datang.
Bunga naik tanpa menoleh. Tatapannya kosong. Hatinya seolah lumpuh. Dunia seakan berhenti berputar.
Harapan untuk hidup itu telah menipis. Harapannya telah terkikis penolakan Arka. Dan baginya penolakan itu adalah penghinaan mutlak.
Satu tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat.
Bukan sehari dua hari Bunga mengenal Arka. Melainkan bertahun-tahun silam.
Sejak kecil Bunga telah mengagumi sosok pria tampan itu. Namun, tak ada satu orang pun yang tahu.
Bunga memendam perasaan itu seorang diri. Dalam. Diam. Tak bersuara.
"Peluang sembuh 80%."
Kata-kata dokter beberapa waktu lalu kembali terngiang dalam benak Bunga.
Bunga tersenyum getir lagi dan lagi.
Dua puluh persen menuju kematian. Sumpah demi apapun. Bunga ingin berjalan ke jumlah itu sesegera mungkin. Dengan begitu, ia tidak akan menjadi alasan Dunia Arka terenggut.
Lalu air mata Bunga kembali mengalir melalui sela-sela kacamata hitamnya.
Tak lama taksi yang ditumpanginya melintasi sebuah jurang yang cukup dalam.
"Berhenti di sini, Pak."
Bunga menghentikan taksi itu. Ia turun dengan harapan pupus.
Bunga menatap jurang itu dengan tatapan kosong. Banyak pohon besar menjulang tinggi di depannya.
Pembatas jalan seolah menjadi saksi bisu betapa putus asanya wanita itu.
Suami yang dicintai sepenuh hati. Pernikahan yang disangkanya dapat berakhir bahagia. Cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Harapan yang bersinar di tengah hubungan yang rapuh.
Semua itu hanyalah sebatas omong kosong belaka. Bunga gagal memenangkan hati Arka.
Bunga mengangkat kaki kanannya ke pembatas jalan. Sementara tatapannya terus mengarah ke jurang.
Peluang kematian 20% itu ingin segera ditunaikan. Agar bebannya juga ikut terangkat.
"Mba, apa yang kau lakukan?"
Suara bas seorang pria tiba-tiba terdengar dari ujung jalan. Pria itu berlari cukup kencang. Namun, Bunga tidak menoleh. Ia tetap fokus pada jurang. Seolah penghuninya tengah memanggil dirinya.
Bug!
Tubuh Bunga terjungkal menindih badan pria tadi.
"Apa kau baik-baik saja, Mba?"
Adalah Erka Firmansyah, dokter ahli dalam yang beberapa waktu lalu memeriksa kondisi kesehatannya.
Bunga tidak menyahut. Tidak juga merasa takut. Bahkan tatapannya seolah kosong. Jiwanya pergi entah kemana. Titik fokus Bunga telah habis diserap Arka, suaminya.
"Lepas... aku mau pulang," katanya sembari mendorong kuat tubuh Erka.
"Di mana alamatmu? Biar saya antar," ucap Erka, menawarkan diri.
"Tidak... Aku mau sendiri!" seru Bunga tanpa melihat wajah pria itu.
Sikap Bunga kali ini menunjukkan pemberontakan terhadap takdir yang tak berpihak padanya. Itulah sebabnya ia ingin mengakhiri hidupnya tanpa rasa takut.
"Mba, tolong dengarkan aku."
Erka berusaha membujuk.
"Pergi!"
Tapi Bunga mengusirnya, alih-alih mendengarkan.
"Mba, tolong jangan nekat... Aku bisa membantumu," kata Erka.
Degup jantung lelaki berkacamata itu mulai bekerja berat. Seolah mengalahkan tugasnya saat berada di meja operasi.
Bunga tersenyum getir lagi dan lagi.
"Membantu? Mustahil!" gumamnya putus asa .
"Aku tahu kau tidak akan percaya ini, tapi tolong jangan lakukan hal bodoh demi sesuatu yang sejak awal bukan untukmu."
Kata-kata itu seolah tepat sasaran. Bunga berhenti memberontak. Diam. Tidak bergerak.
Air matanya jatuh satu baris. Lalu dua baris. Kemudian menjadi tangisan hebat.
Naluri Erka seolah mendorongnya untuk memeluk tubuh wanita malang itu.
Erka menepuk pelan pundak Bunga. Seolah berusaha untuk memberi kenyamanan.
Dan benar saja, Bunga merasakan sedikit ketenangan begitu Erka memeluknya. Walau isak tangis itu masih terdengar samar.
Sepuluh menit berlalu, Bunga masih dalam dekapan hangat Erka. Lalu ia pun sadar.
Bunga menarik diri. Erka melepasnya.
"Maaf," ucap Bunga seraya menunduk malu.
Ya, Bunga merasa malu terhadap Erka. Sebab, pria itu telah melihat aksi bodohnya.
"Tidak apa-apa," jawab Erka datar, tapi cukup sukses membuat Bunga tak enak hati.
"Di mana alamatmu? Biar aku antar."
"Tidak! Aku naik taksi saja."
"Tapi ini jalan poros. Tidak ada taksi yang bersedia untuk berhenti di sini."
Bunga terdiam. Hati kecilnya seolah menuntun untuk menerima tawaran Erka. Namun, ego lebih mendominasi.
"Tidak. Terimakasih. Aku akan menghubungi suamiku. Dia pasti akan datang menjemputku."
Ini bohong. Bunga tidak berencana meminta bantuan Arka. Sebaliknya, wanita itu menutup rapat apa yang telah dilaluinya barusan.
Lagi pula, Arka sedang sibuk bersama Nayla, cintanya.
Entah mereka sedang berada di mana dan melakukan apa.
Ucapan Bunga barusan hanya untuk mengelabui Erka agar segera pergi.
"Baiklah. Aku akan menemanimu di sini sampai suamimu datang."
Sialnya, Erka enggan meninggalkan Bunga seorang diri di jalan yang sepi itu.
Bunga tidak menyahut. Ia takut jika terus berbicara, maka Erka pasti akan mencurigainya.
Bunga menunduk. Ia berdiri membelakangi jurang. Pun Erka.
"Mba."
Sekitar enam menit berlalu tanpa kata, akhirnya Erka memberanikan diri bersuara.
Bunga tidak menyahut. Namun, mendengarkan.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau tutupi. Tapi aku harap kau bersedia untuk berobat."
Kata-kata ini memukul perasaan Bunga. Bukan terharu. Bukan terkesima. Bukan pula terkesan, karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. Melainkan lebih kepada merasa diperbodohi takdir.
Bunga tidak pernah meminta lebih. Hanya cinta suaminya.
Jika itu tentang uang. Bunga bukan seorang pengangguran.
Jika ini tentang tahta. Bunga tidak butuh itu semua.
Jika ini tentang keluarga. Bunga tidak kekurangan orang.
Tapi ini tentang hati.
Ya, hati. Bunga tidak pernah bisa masuk dan menyelam ke dalam hati Arka. Sebab, di sana telah ada wanita lain sejak awal.
Bodohnya, Bunga sudah tahu sejak awal pernikahan, bahwa Arka tidak menginginkan pernikahan itu. Namun, ia terlalu keras kepala. Percaya bahwa takdir akan berpihak padanya.
Lihatlah sekarang. Bunga justru mengalami penderitaan yang berkepanjangan.
Sialnya, Arka tidak pernah peduli akan hal itu. Ia lebih mementingkan Nayla.
Bunga berdecak getir. Lebih tepatnya menertawakan nasibnya yang miris.
"Omong kosong," gumamnya.
"Maaf?"
Bunga menoleh. Menatap dalam-dalam netra Erka. Namun, tidak membuka kacamata hitamnya.
Dalam tatapan itu, entah mengapa Bunga merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada ketulusan yang tersalur lewat sorot mata Erka.
Lalu Bunga mengalihkan pandangan.
"Dok, jika aku menolak berobat. Apakah aku termasuk wanita bodoh?"
Pertanyaan Bunga membuat Erka terkejut. Namun, tetap tenang dan profesional. Erka terkesan tidak bergeming.
"Aku bukan tim penilai yang suatu waktu bebas memberi skor pada seseorang. Aku hanyalah seorang dokter yang bertugas untuk mengobati pasien," jawabnya datar, tapi cukup dalam.
Lagi, Bunga tertawa kecil. Seolah meremehkan diri sendiri.
"Pasien..."
Bunga menoleh. Membuka kacamatanya, lalu matanya beradu dengan mata Erka.
"Ya, aku seorang pasien. Tapi aku benar-benar tidak ingin hidup. Mengapa semua orang ingin aku hidup? Sementara tidak ada satu orang pun yang memahamiku," lirihnya.
Erka tidak fokus pada Kata-kata Bunga. Melainkan pada sorot matanya yang memancarkan putus asa. Wajah pucat. Pipi tirus. Serta matanya yang cekung.
Semua itu benar-benar menarik perhatian Erka.
Bukan karena jatuh cinta. Melainkan simpatik seorang dokter terhadap pasiennya yang tidak ingin bertahan.