Bab VIII. Rumah yang Bahagia

1008 Words
Hari itu merupakan hari bersejarah bagi Bunga. Di mana ia nyaris membuang nyawanya sendiri demi pria yang tak pernah menghormatinya. Kesendirian yang dilalui selama setahun lebih, telah cukup membuatnya patah arah. Kini Bunga harus belajar untuk merelakan segalanya. Penyakit yang menimpa wanita itu seolah merampas cinta. Harapan. Kebebasan. Serta dunianya. Erka, pria yang saat ini mengantarnya pada sebuah rumah. Rumah yang dulu penuh cinta kakek dan nenek Ratih. Cinta yang saat pertama kali bersemi untuk Arka. Cinta yang sampai saat ini masih merajai hatinya. "Terimakasih sudah mengantarku." Bunga pamit pada Erka Firmansyah. "Tunggu," cegah Erka. Bunga menoleh. "Tolong pertimbangkan kembali saranku. Aku pasti akan membantumu," sambung Erka penuh harap. Tetapi, Bunga tidak menyahut. Ia diam tanpa memberi tanggapan apapun. Lalu Bunga keluar dari mobil Erka tanpa satu kata. Erka menatap punggung Bunga dalam-dalam. Punggung yang perlahan tulang pundaknya mulai kentara. Punggung yang terlihat sedikit membungkuk. Punggung yang setiap hari menahan beban berat. Lalu tubuh Bunga hilang dari pandangan Erka saat wanita itu masuk ke dalam rumah. Kemudian Erka pergi bersama mobilnya. "Non," sapa Sumi, pelayan Nenek Ratih. "Nenek ada, Bi?" "Non sakit? Kok kurusan?" Alih-alih menjawab, Sumi justru mengajukan pertanyaan balik. "Aku baik-baik saja, Bi. Cuma sedikit kelelahan." Itu bohong. Fisik Bunga sama sekali tidak lelah. Hatinyalah yang lelah. "Oh begitu... Oh iya, Non mau ketemu Nyonya?" "Iya." "Nyonya ada di kamar. Sepertinya lagi kurang enak badan. Sejak pagi Nyonya tidak nafsu makan. Nyonya juga seharian ada di kamar terus," jelas Sumi. Bunga tidak memberi tanggapan apapun. Ia segera menemui Ratih di kamarnya. "Nenek?" sapa Bunga cemas. "Bunga?" Suara Ratih terdengar parau. Tubuhnya sedikit gemetar akibat kurangnya asupan makanan. Ia memaksakan tenaga untuk bangkit dari pembaringan. Ratih terbatuk-batuk. Fisiknya yang mulai rentah. Uban yang memenuhi kepala. Serta kulitnya yang setiap hari makin keriput. Membuatnya mudah sakit dan lelah. Lihat saja caranya duduk. Ratih harus menopang bantal pada bagian punggung. "Nenek sakit?" tanya Bunga kemudian. "Nenek sudah tua, Nak. Wajar kalau Nenek sakit." "Tidak... Nenek harus sehat." Nenek menggenggam telapak tangan Ratih. Ratih tersenyum simpul. "Justru Nenek perhatikan, kamu yang terlihat berbeda. Apa ada yang kamu sembunyikan dari nenek, Nak?" Mata Ratih memang sudah rabun. Fisiknya kian melemah. Ingatannya pun mulai gelap. Namun, ia tidak pernah luput memperhatikan cucu semata wayangnya itu. Bunga tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan senyuman agar terlihat baik-baik saja. "Aku baik-baik saja kok, Nek. Mungkin karena beberapa hari ini aku kelelahan. Banyak naskah yang harus aku revisi. Belum lagi jam tayang yang sering berubah-ubah. Target readers yang wajib disetor setiap hari." Bunga tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa mengarang cerita dengan mengatas namakan pekerjaan. "Apa kau yakin?" tanya Ratih ragu. "Tentu saja, Nek." Bunga meyakinkan. Tapi, Ratih bukan anak kecil yang murah percaya begitu saja. Hidupnya sudah terlalu lama. Ia mampu membaca mimik seseorang. Mana yang jujur, dan mana yang bohong. Kali ini Ratih bisa melihat ada sesuatu yang sengaja ditutupi Bunga darinya. "Bunga." Ratih meletakkan telapak tangannya ke atas jemari Bunga. Lalu menatap dalam-dalam wanita itu. "Jika ini tentang rumah tanggamu. Maka kau boleh pergi jika kau tidak bahagia. Kau berhak mendapatkan balasan yang layak." Kalimat itu sukses mencubit hati Bunga. Dalam. Syarat akan makna. Terdengar datar, tapi cukup ampuh membuat Bunga berpikir terbuka. "Nenek..." "Nenek tahu kau tidak bahagia dengan pernikahanmu. Nenek tahu banyak hal yang kau sembunyikan dari kami." Ratih mulai merasa bersalah pada cucunya itu. "Nenek, aku baik-baik saja. Mengapa Nenek khawatir?" Lagi, Bunga berbohong. "Bunga... Nenek sudah tua. Sudah lama Nenek hidup di dunia ini. Nenek bisa tahu apa yang selama ini kau lalui. Kau mungkin tidak bercerita, tapi Nenek bisa merasakan." Bunga kehabisan kata. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. "Ini semua karena ago Nenek dan Kakek yang terlalu memaksakan kehendak. Sampai tidak mempertimbangkan masa depanmu. Nenek pikir, Nenek telah menyerahkanmu pada orang yang tepat." Ratih mulai terisak. Ia menyesali keputusannya menikahkan Bungan bersama Arka. Namun, nasi telah menjadi bubur. Pernikahan itu sudah terjadi. Walau Arka tidak pernah menyentuh Bunga sama sekali. Rumah itu mendadak sunyi. Mendadak hening. Mendadak suram. Suara isakan Ratih membuat segalanya tampak menyedihkan. Dulu, rumah itu dipenuhi canda tawa. Mereka bersenda gurau layaknya keluarga cemara. Bunga kecil yang periang. Cerdas. Sederhana. Murah senyum. Serta memiliki jiwa empati tinggi. Pun Ratih dan Hadi Wijaya. Sepasang suami istri itu dikenal dengan jiwa yang mulia lagi dermawan. Banyak warga yang mereka bantu. Meringankan beban orang-orang kurang mampu. Setiap hari rumah utama itu dipenuhi orang-orang baik. Mereka datang hanya untuk menengok Ratih dan Hadi. Ada yang sengaja membuat lelucon renyah. Ada yang menggelitik satu sama lain hanya demi membuat suasana lebih hidup dan berwarna. Di rumah itu, Bunga benar-benar menemukan kebahagiaan. Ketenangan. Ketentraman. Tidak ada penolakan di rumah itu. Semuanya tampak sederhana, tapi cukup intim. Kini rumah itu terlihat seperti potret suram. Tidak hidup. Gelap. Sunyi. Dahulu Arka pernah menjadi bagian dari penghuni rumah itu. Walau tidak memperhatikan Bunga. Namun, kehadirannya dalam acara keluarga besar membuat suasana lebih berwarna. Dan hanya di rumah itulah Bunga merasakan kehangatan cinta. Kasih sayang. Perhatian. Serta ketulusan. Sementara di rumahnya sendiri, bersama Arka. Bunga tidak pernah tersenyum bahagia. Bunga menderita batin. Arka memang tidak pernah menyakiti fisiknya. Pria itu juga tidak membencinya. Namun, penolakan setiap hari telah cukup membuktikan, bahwa Bunga memang tidak berarti apa-apa. "Nenek terlalu banyak berpikir. Arka sangat baik padaku. Aku hanya terlalu lelah dengan semua rutinitas." Entah berapa kali Bunga harus berbohong menutupi kelalaian Arka. Sudah jelas semuanya hanya ilusi. "Syukurlah." Walau ragu, tapi Ratih bernapas lega. Setidaknya apa yang didengar merupakan cerita positif. "Namun, jika suatu hari kau menemukan sesuatu yang menyakitimu. Atau kau benar-benar lelah. Maka lepaskan. Nenek hanya ingin kau bahagia." Mungkin Ratih mendapat firasat yang membuatnya seolah menitip pesan itu kepada Bunga. Ratih tidak ingin menyesali keputusannya sebelum menutup mata. Setidaknya, hari ini Ratih berusaha membuka jalan untuk cucunya itu berpikir. "Tentu saja aku bahagia, Nek. Nenek jangan khawatir," balas Bunga meyakinkan. Bunga tidak berdaya. Kebohongan demi Kebohongan sengaja diusungnya demi menutupi luka yang menganga lebar. Kesetiaannya sebagai istri tercoreng oleh masa lalu Arka. Sementara Arka tidak pernah peduli. Walau hanya sejengkal simpati. Dunia lelaki itu dipenuhi Nayla. Wanita dari masa lalu yang kini menggoyahkan keyakinannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD