Bab 9. Kepergian Nenek Ratih

1245 Words
Hujan turun sejak dini hari. Rintiknya membasahi halaman rumah keluarga Wijaya yang biasanya ramai oleh suara tawa dan percakapan hangat. Namun pagi itu, suasana rumah terasa berbeda. Udara dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan. Bunga Aurum duduk di samping ranjang Nenek Ratih sejak semalam. Ia hampir tidak memejamkan mata sedikit pun. Tangannya terus menggenggam tangan wanita tua yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Kondisi Nenek Ratih semakin memburuk. Napasnya terdengar berat. Wajahnya terlihat semakin pucat. Beberapa kali dokter keluarga datang untuk memeriksa keadaannya. Namun, dari raut wajah pria paruh baya itu, Bunga dapat menangkap sesuatu yang membuat dadanya semakin sesak. Harapan semakin menipis. "Nek, Bunga di sini." Bunga mengusap tangan neneknya perlahan. Kelopak mata Nenek Ratih bergerak sedikit. Wanita tua itu membuka mata dengan susah payah. Pandangannya tampak kabur. Tetapi, ketika melihat wajah cucunya, senyum tipis tetap muncul. Senyum yang selama ini selalu berhasil menenangkan hati Bunga. "Bunga, aku lelah, Nak." Suara itu begitu pelan. Hampir tidak terdengar. Air mata langsung memenuhi pelupuk mata Bunga. "Jangan bicara dulu, Nek." Nenek Ratih hanya tersenyum. Lalu kembali memejamkan mata. "Ya Tuhan... andai aku masih bisa meminta. Jangan panggil Nenek sekarang. Aku benar-benar tidak siap," lirih Bunga di dalam hati. Di sisi lain, ratusan kilometer dari kota itu, Arka Pradipta sedang berada di sebuah resor mewah di kawasan pegunungan. Perjalanan tersebut awalnya dijadwalkan sebagai perjalanan bisnis perusahaan. Namun, karena lokasi pertemuan berada di kawasan wisata, beberapa agenda santai juga dimasukkan ke dalam jadwal. Nayla ikut dalam perjalanan itu sebagai perwakilan direksi. Sejak pagi mereka menghadiri rapat bersama para investor. Setelah acara selesai, rombongan perusahaan melanjutkan kegiatan di area resor. Arka meninggalkan ponselnya di kamar hotel karena baterainya habis. Ia tidak merasa ada hal penting yang harus ditunggu. Apalagi daerah pegunungan tersebut memiliki sinyal yang tidak stabil. Sementara itu, di rumah keluarga, semua orang berusaha menghubungi Arka. Telepon pertama tidak terjawab. Telepon kedua juga tidak. Begitu pula panggilan-panggilan berikutnya. "Ponselnya mati," kata salah satu kerabat Bunga. Bunga menunduk. Ia mencoba menelepon sendiri. Namun, hasilnya sama. Tidak aktif. Entah mengapa, ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan. Di saat-saat terakhir seperti ini, Nenek Ratih selalu menyebut nama Arka. Namun, pria itu tidak ada. Dan tidak bisa dihubungi. Menjelang tengah malam, kondisi Nenek Ratih semakin kritis. Keluarga besar mulai berkumpul. Semua orang memahami apa yang sedang terjadi. Tangisan pelan terdengar di beberapa sudut ruangan. Bunga duduk paling dekat dengan ranjang. Matanya merah karena terus menangis. Ia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa wanita yang telah merawat dan menyayanginya sejak kecil. "Nak." Suara Nenek Ratih terdengar lagi. Bunga segera mendekat. "Iya, Nek." Wanita tua itu membuka mata perlahan. "Cucuku..." Mata tuanya mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari seseorang. Bunga tahu siapa yang sedang dicari. Arka. Tetapi, pria itu tidak ada di sana. Dan tidak seorang pun mampu menghadirkannya. "Nenek tenang saja." Bunga menggenggam tangannya semakin erat. "Kami semua ada di sini." Hanya ini yang bisa Bunga ucapkan. Ia tidak sanggup memberi harapan palsu terhadap Ratih. Faktanya adalah Arka memang tidak ada di sana. Sementara air mata mengalir di wajah Nenek Ratih. Bukan karena rasa sakit. Melainkan karena ada seseorang yang tidak sempat ia temui untuk terakhir kalinya. Pukul tiga dini hari. Monitor jantung mulai menunjukkan perubahan yang membuat dokter bergerak lebih cepat. Beberapa anggota keluarga menangis. Sebagian lagi berdoa. Sedangkan Bunga hanya mampu menatap wajah neneknya tanpa berkedip. Ia tidak ingin kehilangan satu detik pun. "Nek..." Suara Bunga bergetar. Wanita tua itu kembali membuka mata. Pandangan mereka bertemu untuk terakhir kalinya. Senyum lembut muncul di wajah Nenek Ratih. Kemudian perlahan, napasnya melemah. Semakin pelan. Hingga akhirnya berhenti. Ruangan mendadak sunyi. Sangat sunyi. Monitor mengeluarkan bunyi panjang yang membuat seluruh keluarga menangis. Bunga membeku. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia memeluk tubuh neneknya sambil menangis tersedu-sedu. Bagian dari hidupnya telah pergi. Selamanya. Saat matahari mulai terbit, keluarga masih berusaha menghubungi Arka. Namun, nomor pria itu tetap tidak aktif. Tidak ada kabar. Tidak ada balasan. Tidak ada tanda-tanda, bahwa ia mengetahui apa yang sedang terjadi. Bahkan ketika proses memandikan jenazah dimulai, Arka masih belum bisa dihubungi. Beberapa anggota keluarga mulai kesal. "Bagaimana bisa dia menghilang saat seperti ini?" "Dia tahu kondisi Nenek sedang buruk." "Apa pekerjaannya lebih penting dari pada keluarga?" Bisik-bisik itu terdengar di berbagai sudut rumah. Sementara Bunga tidak ikut berkomentar. Namun jauh di dalam hatinya, ia juga merasakan kekecewaan yang sama. Sementara itu, Arka sedang berjalan bersama Nayla di area taman resor. Pertemuan bisnis telah selesai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tampak lebih santai. Nayla tertawa ketika Arka menceritakan sesuatu. Mereka berjalan berdampingan di antara pepohonan pinus. Bagi siapa pun yang melihat, mereka tampak seperti pasangan yang sedang menikmati liburan. Dan memang itulah yang membuat gosip di kantor semakin berkembang. Arka tidak menyadari bahwa selama beberapa jam terakhir, keluarganya berusaha menghubunginya puluhan kali. Ia juga tidak menyadari bahwa nenek Ratih telah meninggal dunia. Menjelang siang, prosesi pemakaman dimulai. Langit kembali mendung. Angin berembus pelan. Bunga berdiri di samping liang lahat dengan tubuh yang terasa lemah. Matanya bengkak. Wajahnya pucat. Namun ia tetap bertahan, karena tidak ada pilihan lain. Pertalah, rasa sakit pada perut kanan atasnya mulai menyerang. Namun, Bunga menahannya agar terlihat baik-baik saja. Saat peti mulai diturunkan ke dalam makam, tangis keluarga kembali pecah. Bunga menggigit bibirnya kuat-kuat. Air mata terus mengalir. Bunga mengabaikan penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuh. "Nenek.l," lirihnya. Hatinya terasa hancur. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup setelah ini. Dan yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Arka belum juga datang. Orang yang paling sering disebut Nenek Ratih menjelang akhir hidupnya tidak berada di sana. Tidak menyaksikan kepergiannya. Tidak mengantarnya untuk terakhir kali. Baru menjelang sore, Arka kembali ke hotel. Ia mengambil ponselnya yang sejak pagi dibiarkan mati. Setelah mengisi daya dan menyalakannya, layar langsung dipenuhi notifikasi. Panggilan tidak terjawab. Puluhan pesan. Belasan pesan suara. Jantung Arka mendadak berdegup kencang. Perasaan tidak enak muncul begitu saja. Tangannya segera membuka pesan paling atas. Dan dunia seolah berhenti berputar. Nenek Ratih meninggal dunia. Pesan itu membuat wajah Arka memucat. Matanya membelalak. Tubuhnya membeku. Tidak. Tidak mungkin. Tangannya gemetar saat membaca pesan berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Semuanya berisi kabar yang sama. Nenek Ratih telah pergi. Dan pemakaman sudah berlangsung beberapa jam yang lalu. Arka merasa dadanya dihantam sesuatu yang sangat keras. Ia langsung mencoba menelepon keluarganya. Namun, tidak ada yang segera mengangkat. Panik mulai menguasainya. "Arka?" Nayla yang baru masuk ke lobi hotel terkejut melihat wajah pria itu. "Ada apa?" Arka tidak menjawab. Ia langsung berlari menuju kamar untuk mengambil barang-barangnya. Pikirannya kacau. Sangat kacau. Satu-satunya orang yang selalu mendukungnya telah pergi. Dan ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Perjalanan pulang terasa seperti siksaan. Sepanjang jalan, Arka terus mengingat berbagai kenangan bersama Ratih. Kenangan masa kecil. Nasihat-nasihat sederhana. Pelukan hangat yang selalu menenangkannya. Semuanya datang silih berganti. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arka menangis diam-diam sendirian di dalam mobil. Penyesalan menghantamnya tanpa ampun. Bagaimana jika Nenek Ratih mencarinya sebelum meninggal? Bagaimana jika wanita itu ingin berbicara dengannya untuk terakhir kali? Bagaimana jika... Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya. Dan tidak ada satu pun yang bisa dijawab, karena semuanya sudah terlambat. Ketika Arka akhirnya tiba di rumah keluarga menjelang malam, suasana duka masih terasa kuat. Foto Nenek Ratih terpajang di ruang utama. Karangan bunga memenuhi halaman. Semua orang menoleh saat ia masuk. Namun, tidak ada yang menyambut. Tidak ada yang mendekat. Yang ada hanya tatapan kecewa. Tatapan yang membuat Arka semakin merasa bersalah. Sementara di sudut ruangan, Bunga duduk sendirian. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Matanya sembab. Tubuhnya tampak rapuh. Arka menatapnya lama. Namun, tidak mengatakan apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD