Tiga bulan telah berlalu sejak kepergian Nenek Ratih. Rumah yang dulu terasa hangat oleh suara perempuan tua itu kini berubah sunyi. Tak ada lagi panggilan lembut yang membangunkan Bunga setiap pagi ketika wanita itu sedang ada di sana. Tak ada lagi tangan renta yang mengusap kepalanya ketika rasa sakit datang menyerang. Yang tersisa hanyalah kesepian. Bunga duduk di teras rumah sambil memandangi halaman yang mulai dipenuhi rerumputan liar. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambutnya, tetapi tatapannya tetap kosong. Sejak Nenek Ratih tiada, ada sesuatu yang ikut mati di dalam dirinya. Ia tak lagi banyak bicara. Tak lagi tersenyum. Tak lagi berharap. Bahkan, dirinya sendiri seolah tak lagi penting. Sementara Rasa nyeri di perut kanan atas hampir setiap hari datang menyapa. Kadang

