Rumah yang ditinggali Rosalina tampak berantakan, seolah mencerminkan hatinya. Pecahan gelas berserakan di lantai, kursi-kursi bergeser tidak pada tempatnya, dan aroma minuman keras memenuhi udara. Rosalina terbaring di sofa dengan gaun mewah yang masih melekat di tubuhnya sejak pesta semalam. Riasannya luntur, meninggalkan bekas air mata yang membasahi pipinya. Rambutnya kusut, dan matanya tampak bengkak akibat menangis semalaman. Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan ruangan. Rosalina mengerjap pelan, meraih ponsel yang tergeletak di meja dengan gerakan malas. “Halo…” suaranya serak. “Ini aku, Teddy. Aku sudah dapatkan semua informasi yang kau minta tentang Serena.” Mendengar itu, Rosalina langsung terduduk. Mata lelahnya menatap kosong ke depan, tapi sorotannya perlahan

