Dalam keadaan dikendalikan alkohol, Amerta kesulitan dalam menggapai kesadarannya. Terlebih, ada rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana lidah itu mengobrak-abrik mulutnya, dan tangan kasar milik pria itu mengelus pinggangnya, masuk ke dalam kaos hingga kulitnya bersentuhan.
Amerta semakin pusing tatkala tubuhnya dibalik hingga terlentang, pria itu memberi jeda sesaat untuk membuka pakaiannya sendiri. Ia menegakan tubuhnya dan menatap dengan tatapan berkabut oleh gairah, terlihat tidak fokus dan tergesa seolah ingin seggera menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
Dan dari posisi bawah, Amerta dengan pandangan masih kabur, ia bisa melihat bagaimana Adiguna menarik kaosnya hingga terlepas, memperlihatkan otot perut yang begitu liat, d**a yang bidang dan pinggang yang ramping. Mengingatkan Amerta pada komik romansa yang pernah ia baca.
Ini gak mungkin nyata ‘kan? Masa seorang Pak Adiguna mau cium aku? Kalau halusinasi…..
Amerta malah terkekeh, halusinasi yang begitu menyenangkan. Kapan lagi melihat otot seindah ini bukan? Namun saat sedang sibuk mengagumi, Adiguna kembali mencondongkan tubuhnya hingga daada keduanya bersentuhan, kemudian berbisik, “Aku pake semaleman ya, gak usah pake pengaman. Kamu diam saja, bagian desah.”
Dan saat itulah sisa kesadaran menamparnya, terlebih bibirnya kembali dilumat dan tangan pria itu hendak masuk ke dalam celananya. Dengan sisa kesadaran yang ada, Amerta mendorong sekuat tenaga dan PLAK! Menampar pria itu kuat, memukulnya supaya menjauh dengan sisa tenaga yang ada.
Beruntung posisi mereka di pinggir ranjang, hingga Adiguna yang kehilangan keseimbangan sedikit saja langsung jatuh ke karpet bawah.
BRUK! Hingga bunyi dentuman begitu keras.
Amerta masih pusing, linglung dan belum bisa berjalan dengan benar. Ia melihat ke bawah, dimana Adiguna memejamkan mata tidak sadarkan diri.
“Pingsan?” gumam Amerta hendak melangkah turun.
Namun, efek alkohol itu masih mengambil alih. Satu pijakan kaki di permukaan yang tidak datar membuatnya tergelincir, dan jatuh tepat di daada Adiguna. Kemudian kegelapan mengambil alih Amerta.
Entah berapa lama…
Kegelapan merengutnya, yang jelas Amerta merasakan tubuhnya ditarik oleh dua orang, kalimat-kalimat penuh umpatan dilontarkan padanya. Kemudian… Byur! Air mengguyur kepalanya yang tertunduk pada westafel, saat itulah Amerta mampu mendengar suara sekitarnya dengan jelas.
“Sadar, Ta! Sadar, anjir! Lo salah masuk kamar!” teriak Rumi.
Disusuk oleh Arthika yang mengusap wajahnya dan menepuk pipinya berulang. “Woy, cepetan. Kita harus kabur sebelum Pak Adiguna sadar.”
Seketika mata Amerta membulat dan menatap kedua temannya. “Pak Adiguna?”
“Minum dulu,” ujar Rumi langsung menyodorkan mulut botol ke bibirnya, memaksanya meminum banyak hingga cukup kesadarannya mengambil alih lebih banyak. “Lo salah masuk kamar, Ta. Dan kamar yang lo masukin ini milik Profesor Adiguna.”
Kilasan demi kilasan yang terjadi sebelumnya langsung menerpa Amerta. “Dia yang salah,” ujar Amerta kesal. “Dia nyangka gue ceweknya, pasti gitu! Soalnya dia cium gue, makannya gue dorong sama tabok dia.”
“Gak penting apa yang dia lakuin. Yang jelas salah lo di awal karena masuk ke kamar ini. Udah sekarang kita kabur sebelum dia sadar.” Arthika bergegas menghilangkan jejak mereka. beruntunglah pintu kamar ini terbuka hingga mereka berdua bisa melihat Amerta yang berada di kamar yang salah.
Namun yang membuat mereka kaget adalah bekas tamparan di pipi sang professor, seketika menakuti mereka sebab yakin Amerta-lah yang melakukannya.
“Eh, kalau dia bangun terus cari gue gimana?”
“Gak akan, dia mabok sampe gak bisa bedain lo sama pacarnya. Tuh lihat botol-botol yang dia minum,” ujar Rumi menunjuk meja yang… penuh dengan botol minuman. “Udah ayok kita pergi.”
“Ih… gue takut…”
“Gak bakalan kenapa-napa, lagian kan diam au pindah dari kampus. Katanya mau ke Oxford kan? udah ayok.” Arthika ikut menariknya keluar.
Dan Amerta hanya bisa pasrah saat kedua temannya menariknya keluar, dengan kaki yang masih lemas. Hanya bisa berharap semoga tidak ada kejadian buruk ke depannya. Dan yang paling penting, Profesor Adiguna tidak akan mengingat kejadian ini.
***
Beruntunglah setelah kejadian itu, gosip bahwa Profesor Adiguna akan pindah ke Oxford semakin kuat terdengar di seluruh penjuru Fakultas Hukum. Awalnya Amerta hanya menganggap kabar itu sebagai bualan mahasiswa yang terlalu senang menambah bumbu pada sesuatu yang belum pasti, tetapi satu bulan setelah malam kacau itu, kabar tersebut mulai terasa benar karena Profesor Adiguna Maharaja benar-benar tidak terlihat di kampus katanya ia sibuk di luar negara.
Bagi Amerta, ketidakhadiran itu seperti hadiah besar dari Tuhan, meskipun hadiah itu tetap tidak membuatnya cukup berani untuk melewati lantai tiga tanpa mempercepat langkah seperti orang sedang dikejar debt collector.
Gak mau… takut ketemu dia terus dia inget…
Hari-hari Amerta berjalan lebih baik, ia mulai bisa tertawa bersama Rumi serta Arthika. Namun, rasa aman itu tidak benar-benar utuh karena setiap kali nama Adiguna disebut oleh dosen lain, atau setiap kali ada berita nasional yang menampilkan wajah pria itu sebagai advokat ternama, perut Amerta langsung terasa melilit. Ia membenci kenyataan bahwa satu ciuman kacau di malam yang tidak sepenuhnya ia ingat masih mampu membuatnya merasa seperti perempuan paling bersalah sedunia, apalagi ia memiliki kekasih baik hati yang bekerja sebagai barista di kota berbeda.
Untuk melupakan semua kekacauan itu, Amerta memaksa dirinya fokus pada persiapan seminar proposal. Beruntunglah ia mendadak pintar dan memiliki tiga judul skripsi untuk diseminarkan.
Sekarang, Amerta keluar dari ruang seminar proposal dengan tubuh lemas dan kepala penuh catatan revisi. Begitu pintu ruang seminar tertutup di belakangnya, Amerta baru saja menarik napas lega ketika tubuhnya tiba-tiba dihantam pelukan heboh dari samping.
“Woy! Selamat, calon sarjana hukum yang akhirnya bergerak juga!” seru Rumi dengan suara nyaring.
Amerta nyaris terhuyung karena pelukan itu. “Anjir, Rum! Lo mau ngucapin selamat atau mau mecahin tulang rusuk gue? lepasin, sesek banget.”
“Dua-duanya boleh, asal lo traktir.”
“Belum lulus skripsi, baru seminar proposal.”
“Tetap aja kemajuan. Lo tuh udah telat, Ta. Anak-anak lain udah mulai Bab I.”
“Terima kasih ya, dukungan lo bikin gue pengin lompat dari tangga fakultas.”
Rumi terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Amerta. “Santai, Ta. Telat bukan berarti gagal. Yang penting lo jalan. Jangan jadi patung di depan laptop doang.”
Amerta mendengkus, tetapi ia tahu Rumi tidak sepenuhnya salah. Dibandingkan sebagian teman seangkatannya, ia memang terlambat karena banyak dari mereka sudah mulai bimbingan.
Meski begitu, hari ini tetap terasa seperti pencapaian kecil yang perlu dirayakan karena setidaknya ia sudah melewati satu pintu yang selama ini membuatnya takut. Ia baru saja hendak membalas candaan Rumi ketika ponselnya berbunyi pendek dari genggaman tangan.
Nomor baru muncul di layar. Amerta menatap nomor itu selama dua detik, lalu langsung menekan blokir tanpa berpikir panjang.
Rumi mengerutkan kening. “Siapa?”
“Nggak tahu.”
“Cepet banget lo blokir. Kali aja penting.”
“Kalau penting, dia chat pakai nama. Kalau muncul tiba-tiba begini, biasanya pinjol.”
“Pinjol?”
“Iya. Adek gue tuh hobi join grup Telegram nggak jelas pakai nomor gue. Tiap minggu ada aja yang nawarin dana cepat, investasi untung besar, kerja part time cuma klik-klik, ya… intinya penipu sih.”
“Adik lo memang berbakat bikin hidup lo makin sulit.”
“Dia itu ujian tambahan dari Tuhan. Jadi, sekarang mau kemana?”
“Kan mau jajan. Arthika udah nunggu di kafe biasa.”
“Ya udah, ayok kita kesana.”
“Gue ketemu pacar gue dulu bentar,” ucap Rumi sambil cengengesan.
Amerta langsung menoleh tajam. “Bentar versi manusia normal atau bentar versi lo? Lo kan wibu.”
“Bentar beneran, hehehehe. Dia mampir ke kampus, ada di taman belakang tuh, udah bawain gue corndog juga.”
“Rum, terakhir kali lo bilang bentar, gue nunggu empat puluh menit. Males ah, gue duluan aja”
“Itu kan dulu. Please….., Ta. Kali ini beneran bentar. Tunggu ya.”
“Ck, yaudah, sana lo pergi. Awas kalau lama-lama.”
Amerta mencaci maki pelan ketika Rumi berlari kecil meninggalkannya. Dengan langkah malas, ia akhirnya memilih duduk di salah satu bangku taman Fakultas Hukum yang berada di bawah pohon besar. Angin menjelang sore bertiup pelan, membawa aroma tanah panas, kopi dari kantin, dan suara mahasiswa yang berbicara tentang kelas malam.
Sambil menunggu Rumi yang katanya hanya sebentar itu, Amerta mulai mengabari orang-orang terdekatnya. Ia mengirim pesan kepada ibunya bahwa seminar proposalnya sudah selesai, mengirim ancaman kepada adiknya supaya tidak memakai nomornya untuk grup Telegram aneh, lalu memberi tahu Arthika bahwa ia akan menyusul setelah Rumi selesai dengan agenda percintaannya yang tidak penting. Setelah itu, ibu jarinya berhenti di ruang chat kekasihnya, seorang barista di kota berbeda yang biasanya membalas pesan dengan foto latte art atau keluhan tentang pelanggan yang memesan kopi terlalu rumit.
Amerta menatap foto profil laki-laki itu cukup lama, lalu rasa rindu tumbuh pelan di dadanya, membuatnya ingin sekali duduk berdua dengannya dan menceritakan semua hal melelahkan yang ia pendam sendirian.
Namun, justru karena rasa rindu itu, rasa bersalah kembali muncul seperti duri kecil di bawah kulit. Amerta tahu malam itu ia berada dalam keadaan kacau, tahu kesadarannya tidak utuh, dan tahu bahwa ia tidak pernah sengaja mencari kejadian itu. Namun ingatan tentang bibir Profesor Adiguna tetap membuat perutnya terasa tidak nyaman, seolah ia menyimpan rahasia besar yang sewaktu-waktu bisa membuat dunia kecilnya runtuh.
Waktu berjalan sangat lambat sampai Amerta sempat membeli minuman dingin dari kantin lalu kembali duduk di bangku yang sama. Sepuluh menit berubah menjadi tiga puluh menit, tiga puluh menit berubah menjadi satu jam, dan satu jam berubah menjadi satu jam setengah yang membuat kesabarannya nyaris habis.
“Mulai lagi dia… ck, lama banget ah males….”
Ia sudah mengirim banyak pesan kepada Rumi, mulai dari pertanyaan baik-baik sampai ancaman akan meninggalkannya sendirian. Namun, Rumi hanya membalas satu kali dengan kalimat, “Bentar, serius,” yang bagi Amerta terdengar seperti kebohongan.
“Ini orang ketemu pacar atau daftar nikah?” gerutu Amerta sambil menatap layar ponselnya.
Saat itulah notifikasi grup angkatan Fakultas Hukum masuk bertubi-tubi. Awalnya Amerta malas membuka karena ia yakin isinya hanya mahasiswa dengan segala pertanyaannya, tetapi jumlah pesan yang terus bertambah membuat keningnya berkerut. Ia membuka grup itu dan langsung melihat satu file PDF baru yang dikirim oleh sekretaris prodi. Judul file tersebut membuat jantungnya berhenti sesaat, lalu berdetak lebih cepat dengan cara yang sangat mengganggu.
DAFTAR DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI.
“Udah keluar?” gumam Amerta.
Tangannya mulai berkeringat saat mengunduh file itu. Ia membuka PDF tersebut dengan napas tertahan, lalu mulai menggulir layar untuk mencari namanya di antara deretan mahasiswa lain. Ketika akhirnya menemukan AMERTA PUTRI di salah satu baris, napasnya tertahan, lalu matanya bergerak cepat ke kolom pembimbing.
Pembimbing II: Dr. Surya Dharmawan, S.H., M.H.
Amerta menghela napas lega, masih aman. Lalu matanya turun ke kolom berikutnya.
Pembimbing I: Prof. Dr. Adiguna Maharaja, S.H., M.H.
Dunia seperti berhenti. Amerta membaca nama itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi, seolah huruf-huruf di layar ponselnya mungkin berubah jika ia menatap cukup lama. Namun nama itu tetap sama, tercetak jelas tanpa belas kasihan, membuat seluruh tubuhnya mendadak dingin meski udara siang terasa panas.
“Enggak mungkin,” bisiknya.
Tangannya mulai bergetar. Punggungnya terasa dingin, tenggorokannya kering, dan pikirannya langsung berlari ke semua kabar yang selama ini ia jadikan pegangan untuk merasa aman.
Katanya Profesor Adiguna akan pindah ke Oxford. Katanya ia sedang berada di luar negara.
Katanya hidup Amerta bisa kembali normal.
“Sempit ya dunia?” Hembusan napas hangat menyentuh telinga Amerta bersamaan dengan suara berat yang begitu ia kenal.
Amerta menoleh dan… “AAAA!”
Tubuhnya terlonjak dari bangku taman, kakinya tersangkut tas sendiri, lalu…. BRUK! ia jatuh dengan posisi kepala di bawah dan kaki terangkat hampir menyentuh kepalanya sendiri.
Namun Amerta tidak sempat malu, tidak sempat mengumpat, bahkan tidak sempat memikirkan rasa sakit di sikunya karena seluruh perhatiannya tertuju pada sosok yang berdiri tepat di hadapannya.
Prof. Dr. Adiguna Maharaja, S.H., M.H.
Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan menyilang di depan d**a. Coat gelap yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuh tinggi dan tegapnya. Rambutnya tertata rapi, rahangnya mengeras, dan kemeja di balik coat itu terlihat rapi, sebagaimana rambutnya hingga membuat rupanya semakin tampan. Namun bukan penampilannya yang membuat Amerta membeku di tempat.
Melainkan tatapannya yang tajam dan dingin. Juga tampak marah.
“P-pak….”