Amerta segera berdiri dengan gerakan berantakan. Lututnya masih sedikit gemetar setelah jatuh dengan posisi memalukan di depan pria yang paling ingin ia hindari seumur hidupnya. Amerta menatap Profesor Adiguna Maharaja dengan wajah pucat, lalu buru-buru menunduk karena tidak sanggup menahan tatapan tajam pria tampan itu lebih lama.
“S-selamat sore, Profesor,” ucap Amerta ketakutan. “Apa kabar, Prof? Maksud saya… semoga Profesor sehat. Eh, bukan berarti saya berharap Profesor sakit. Maksud saya, karena Profesor sudah lama tidak terlihat di kampus, jadi saya hanya—”
“Amerta.”
Mulut Amerta langsung tertutup rapat.
“Kenapa kamu gugup sekali?”
Amerta buru-buru menggeleng. “T-tidak, Prof. Saya hanya kaget. Profesor munculnya tiba-tiba sekali.”
Mamahhhh! Mau mati aja rasanyaaa!
“Saya mencoba menghubungimu,” kata Adiguna akhirnya.
Amerta berkedip. “Menghubungi saya?”
“Tentu, bukannya saya harus menghubungi kamu? Tapi nomor saya terus diblokir.”
Amerta memejamkan mata, setiap panggilan dari nomor baru memang ia blokir sebab…. Ia malas berurusan dengan penawaran pinjol. Sepertinya Adiguna adalah salah satunya.
“Ma-maaf, Prof. Saya kira pinjol.”
“Pinjol?”
“Maaf, Profesor.”
“Saya menghubungimu karena ada hal yang harus kamu pertanggungjawabkan,” ucap Adiguna.
Amerta merasakan darahnya surut dari wajah. “Pertanggungjawaban?”
“Malam itu.”
Dua kata itu jatuh seperti palu sidang di kepala Amerta. Seluruh tubuhnya langsung kaku. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia yakin Adiguna bisa mendengarnya. Ia berharap pria itu tidak ingat. Ia berdoa selama satu bulan penuh agar alkohol, benturan kepala, dan kelelahan membuat malam itu menjadi bagian kabur yang hilang dari ingatan pria tersebut. Namun dari cara Adiguna menatapnya sekarang, Amerta tahu bahwa doa itu tidak dikabulkan.
“Profesor… ingat?” tanyanya sangat pelan.
“Cukup jelas. Kamu menampar saya,” lanjut Adiguna. “Mendorong saya dari ranjang sampai jatuh ke karpet. Kepala saya terbentur meja kecil di samping tempat tidur. Ada luka robek kecil yang harus dijahit dua jahitan.”
“Ya Tuhan…” Amerta langsung menutup mulut dengan kedua tangan. “Profesor, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu sampai begitu. Saya… saya waktu itu juga tidak sepenuhnya sadar. Tapi saya begitu karena Profesor mencium saya dan juga—” Amerta berhenti.
“Katakan.”
Amerta menggigit bibir bawahnya sebelum mengatakan, “Profesor juga mencium saya. Profesor menyentuh saya. Profesor mengatakan hal-hal yang… yang tidak baik. Saya takut. Saya pikir Profesor akan… akan melakukan sesuatu yang lebih jauh. Jadi saya menampar Profesor. Saya tidak berniat melukai sampai kepala Profesor robek. Saya hanya ingin lepas.”
“Itu pembelaanmu?”
Amerta tercekat. “Itu kejadian sebenarnya, Prof.”
“Kejadian sebenarnya dimulai dari kamu masuk ke kamar saya.”
Amerta terdiam.
“Kamar hotel bukan ruang publik,” lanjut Adiguna dengan suara rendah. “Kamar itu ruang privat yang berada dalam penguasaan orang tertentu selama masa sewa. Kamu masuk tanpa izin. Kamu berada di sana tanpa hak. Dalam hukum pidana lama, perbuatan memaksa masuk atau berada dalam rumah, ruangan, atau pekarangan tertutup milik orang lain tanpa hak dapat dikaitkan dengan Pasal 167 KUHP. Lalu kamu juga melakukan kekerasan fisik yang mengakibatkan luka. Untuk itu, dasar yang paling sederhana bisa bergerak ke Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.”
Amerta semakin pucat. Ia pernah mempelajari pasal-pasal itu, tentu saja, tetapi mendengarnya keluar dari mulut seorang profesor hukum pidana yang juga advokat terasa jauh lebih menyeramkan
“Profesor mau melaporkan saya?” bisik Amerta.
“Karena kamu mahasiswa hukum. Saya kira kamu seharusnya tahu bahwa setiap tindakan memiliki akibat hukum.”
Amerta menunduk semakin dalam. “Saya minta maaf, Prof.”
Adiguna diam beberapa detik dan terdengar menghembuskan napas. Keheningan itu membuat Amerta semakin takut, apalagi saat Adiguna bergerak mendekat.
Amerta refleks mundur, tetapi punggungnya hampir menyentuh batang pohon besar di belakang bangku taman. Jarak mereka kini terlalu dekat. Aroma parfum maskulin yang dingin dan mahal menyentuh indra penciumannya, bercampur dengan bau kertas, kulit, dan sesuatu yang bersih seperti udara setelah hujan. Amerta menahan napas ketika Adiguna mengangkat tangan.
Telapak tangan pria itu mendarat di bahunya dan menepuknya disana. Tidak kasar, tetapi cukup membuat Amerta hampir berhenti bernapas.
“Dengar baik-baik, Amerta Putri,” ucap Adiguna pelan. “Saya tidak ingin malam itu menjadi konsumsi publik. Tidak di angkatanmu, tidak di fakultas, tidak di ruang dosen, tidak di media sosial, dan tidak di mana pun termasuk temanmu. Jika suatu hari saya mendengar ada orang membicarakan kamar hotel itu, tamparan itu, atau apa pun yang terjadi antara kita malam itu, maka saya akan menganggap sumbernya adalah kamu.”
Amerta menatapnya dengan mata membesar. “Profesor…”
“Dan jika itu terjadi,” lanjut Adiguna tanpa menaikkan suara, “saya tidak akan menggunakan jalur hukum dan etik kampus. Kamu paham?”
Amerta mengangguk cepat. “Paham, Prof.”
Adiguna menepuk bahunya sekali. “Bagus.”
Ia menarik tangannya kembali, tetapi tidak segera pergi. Tatapannya justru turun ke ponsel Amerta yang masih menampilkan daftar dosen pembimbing skripsi. “Saya sudah membaca transkrip nilaimu.”
Amerta berkedip. “Transkrip saya?”
“Dan riwayat akademikmu.”
Amerta hanya bisa diam.
“IPK-mu tidak buruk,” kata Adiguna. “Tapi tidak mengesankan. Nilai metodologi penelitianmu biasa saja. Hukum acara pidanamu juga tidak stabil. Hukum administrasi negara cukup baik, tetapi tidak konsisten dengan mata kuliah lain yang seharusnya mendukung. Kamu tidak aktif organisasi, tidak ada pengalaman riset yang signifikan, tidak terlibat klinik hukum kampus, tidak pernah ikut lomba debat, tidak pernah menulis artikel ilmiah mahasiswa, dan dari catatan dosen wali, kamu hanya mahasiswa yang datang, duduk, mengerjakan tugas secukupnya, lalu pulang.”
Setiap kalimat itu seperti ditusukkan pelan-pelan ke d**a Amerta.
“Maaf, Prof,” ucapnya lirih.
“Saya tidak meminta maafmu.”
Amerta terdiam.
Adiguna melanjutkan, “Judul yang dipilih hari ini masih lemah. Rumusan masalahmu belum tajam. Kerangka teorinya belum menunjukkan posisi argumentasi yang jelas. Kamu terlalu banyak menulis deskripsi, tetapi miskin analisis. Kalau skripsimu dibiarkan berjalan dengan pola seperti itu, kamu mungkin tetap bisa lulus, tetapi kamu hanya akan menjadi sarjana hukum yang menghafal pasal tanpa memahami nalar hukum.”
Amerta menggenggam tali tasnya kuat-kuat. “Saya akan memperbaikinya, Prof.”
“Tentu. Karena saya Pembimbing satu kamu.”
“Maksudnya?”
“Bab I tidak akan saya tanda tangani jika dasar masalahnya kabur. Bab II tidak akan saya terima jika kamu hanya menyalin teori tanpa menunjukkan relevansi. Bab III tidak akan lewat jika metodemu sekadar formalitas. Saya tidak meluluskan mahasiswa hanya karena kasihan, hanya karena sudah semester akhir, atau hanya karena ingin mengurangi beban bimbingan.”
Adiguna kembali menepuk bahunya. “Beruntunglah kamu mendapat saya.”
Amerta hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Beruntung? Ini bencana! Ini hukuman semesta!
“Saya akan pastikan kamu tahu apa yang kamu tulis, paham setiap pasal yang kamu kutip, mengerti ratio legis di balik norma, dan mampu mempertahankan argumenmu tanpa menangis di depan penguji.”
Amerta bungkam.
“Senin,” lanjut Adiguna. “Pukul delapan pagi. Ke ruang saya. Bawa hasil seminar proposal, catatan penguji, tiga referensi utama, dan rancangan ulang latar belakang minimal lima halaman. Jangan terlambat.”
“Pukul delapan pagi, Prof?”
“Ya.”
“Ba-baik, Prof.”
Adiguna menarik tangan dari bahu Amerta, merapikan ujung coat-nya, lalu berbalik. Namun, sebelum pria itu melangkah, tiba-tiba sesuatu atau seseorang menabrak punggungnya kencang hingga membuat Adiguna ikut limbung dan… BRUK! Pria itu terjatuh, beruntunglah tangan dan lututnya menahan tubuh. Namun, Adiguna mendengar suara lain dari belakang, membuatnya menoleh dan…
“Pingsan?” gumam pria itu datar.
Hembusan napas kasar kembali terdengar.