Niko baru bergerak ketika musik mencapai klimaksnya. Satu nada biola ditarik panjang, menggantung di udara seperti napas yang tertahan. Lalu—hening sepersekian detik—sebelum tepuk tangan meledak, memenuhi ballroom dengan gema yang memantul pada dinding tinggi dan lampu kristal. Pasangan-pasangan saling tersenyum, memberi hormat kecil, lalu kembali ke meja masing-masing. Tatanan sosial kembali rapi. Peran kembali dipasang. Namun Niko tidak langsung bergerak. Ia tetap berdiri di tengah lantai, seolah tubuhnya terlambat menerima perintah dari pikirannya. Tangan yang tadi menggantung perlahan turun ke sisi tubuhnya. Wajahnya kembali tenang—terlalu tenang. Ekspresi profesional yang selama ini ia kenakan di ruang rapat, di hadapan investor, di bawah tatapan keluarga besar. Topeng itu terpas
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


