Suasana di meja itu tidak pernah benar-benar kembali ringan setelah Lara duduk di antara mereka. Beberapa tamu datang silih berganti, memberi selamat, memuji permainannya, bertanya tentang sejak kapan ia belajar biola. Lara menjawab dengan sopan, senyum tipis yang terlatih tak pernah lepas dari wajahnya. Namun jemarinya yang terlipat di atas pangkuan tak pernah benar-benar tenang. Niko bisa melihatnya. Ia duduk begitu dekat hingga bisa merasakan hangat tubuh perempuan itu, tetapi jarak di antara mereka terasa seperti tembok tidak kasatmata. Setiap kali tangan Lara bergerak sedikit, ia sadar. Setiap kali bahunya menegang, ia tahu. Namun seperti sebelumnya, ia tidak melakukan apa pun. Lampu ballroom perlahan meredup, menyisakan sorot ke tengah ruangan. MC kembali mengambil alih suasana de

