Dokter keluar meninggalkan ruangan sejenak karena ada urusan mendadak, menutup pintu dengan pelan. Suara langkahnya memudar, menyisakan keheningan yang hangat. Hanya ada mereka berdua … dan detak kecil yang barusan mengisi udara. Niko masih berdiri di sisi ranjang. Tangannya belum juga melepaskan tangan Lara. Bahkan tanpa Lara sadari, genggaman itu justru menguat—pelan, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuat Lara menoleh. Niko tidak menatapnya. Pandangannya tertuju pada layar yang kini mulai meredup. Rahangnya mengeras sedikit, seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan. Lara merasakan tekanan hangat di jemarinya. Bukan genggaman yang menuntut. Bukan pula yang posesif. Itu genggaman seseorang yang takut kehilangan. Lara menelan ludah. Dadanya terasa penuh. Ia membiarkan tangannya

