Setelah memberi perintah terakhir malam itu, Niko tidak kembali ke kamar. Ia bergeser ke ruang kerja kecil di lantai bawah. Lampu meja dinyalakan. Laptop dibuka. Jam di dinding terus bergerak, tapi Niko nyaris tidak menyadarinya. Berjam-jam ia duduk di sana. Tangannya sibuk di papan ketik, membuka peta, jalur penerbangan, koneksi lama yang sudah lama ia matikan. Satu demi satu skema disusun, lalu dibatalkan, lalu disusun ulang. Perasaannya sungguh tidak tenang. Ada sesuatu yang terus mengganjal—naluri yang mengatakan bahwa bertahan di tempat itu bukan pilihan lagi. Ia harus bergerak dan melakukan sesuatu. Sekitar pukul dua lewat, Niko akhirnya menyerah pada kegelisahannya. Ia menyambar ponsel dan menekan satu nama. Roy ... ia langsung mengangkat di dering pertama. “Tuan?” “Amankan

