Richard duduk bersandar di kursinya, satu kaki disilangkan, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Terlalu tenang untuk seseorang yang masih kehilangan jejak anaknya sendiri. Ia memutar gelas di tangannya dengan gerakan pelan, memperhatikan cairan bening di dalamnya. “Satu hari,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, datar. “Itu bukan waktu yang lama.” Marinka berdiri di sisi ruangan, jemarinya saling mengait. Dari tadi ia tidak bisa diam. Berkali-kali melirik ponselnya, berharap ada kabar apa pun tentang Niko. Tapi tidak, ia harus menelan kekecewaannya sekali lagi. Tinggal dua hari. Tapi tunangannya itu belum juga kembali. “Aku cuma takut dia benar-benar lepas, Pa,” ucapnya lirih. “Mas Niko itu … bukan orang yang gampang dibaca. Bahkan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, kenapa semua i

