01 — Prologue
Kata orang, hari senin adalah hari yang sibuk setelah libur panjang di hari sabtu dan minggu. Sebagian orang akan kembali bangun pagi-pagi buta setelah 2 hari berleha-leha. Sebagian lagi menyikapinya dengan biasa mengingat aktifitasnya yang tidak mengenal tanggal merah, weekend, atau apapun itu. semua tanggal sama saja. Sama-sama hitam di kalendar.
Dan Raline? Entahlah. Seharusnya ia juga sibuk karena ini merupakan hari keduanya bekerja di perusahaan baru. Tapi lihatlah, ia begitu santai mengoles lipstik merah di bibirnya sambil berdendang kecil padahal jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi yang mana seharusnya ia sudah berada di kantor dan sibuk bekerja. Layaknya b***k coorporate pada umumnya.
Setelah di rasa warna dan ketebalan lipstiknya pas, Raline menatap sesaat wajahnya di cermin, merasa puas dengan hasilnya. Ia pun bergegas mengambil tas, kunci mobil, kemudian berjalan meninggalkan apartemennya. Siap untuk bekerja.
Bagi Raline, kota Jakarta beserta isinya masih saja terasa sama. Macet dan menyebalkan. Selain itu, akhir-akhir ini udara ibu kota seperti sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali Raline merasa sesak padahal ia tidak memiliki riwayat sakit Asma. Meski begitu, kembali adalah pilihannya. Jadi, mari nikmati segala lika likunya!
Sampai di kantor, Raline langsung berjalan ke arah kubikelnya yang sudah ramai dikelilingi teman-teman satu divisinya.
Agam yang tidak sengaja menoleh langsung memanggil Raline agar berjalan lebih cepat. “Ra, sini buruan. Mumpung masih ada.”
“Eh? Apa, nih? Ada acara apa? Mbak lo ulang tahun, ya?” tanya Raline pada Karesa, teman satu kubikelnya.
Karesa yang sedang memakan potongan pizza menggeleng. “Enggak, bukan gue.”
“Bukan ulang tahun ini, Ra. Syukuran,” Gama menimpali.
“Hah? Syukuran? Syukuran apaan?”
Gama yang baru saja melahap potongan pizza terakhirnya, kembali mengambil yang baru. “Itu, anaknya katanya baru bisa jalan.”
Raline yang masih belum paham dengan pembicaraan teman-temannya dan siapa yang di maksud refleks mengerutkan kening. Ia belum beranjak dari posisinya. Masih berdiri di depan kubikel.
“Ahh iya gue lupa lo kan anak baru.”
“Nah, tuh tuh orangnya,” lanjut Agam menunjuk pada seseorang yang baru saja keluar dari ruang supervisor.
Raline spontan mengikuti arah telunjuk Agma. Ia membalikan badan dan well ... siapa sangka jika matanya menangkap wajah seseorang yang tak asing baginya. Wajah lelaki itu terlihat terkejut namun dengan cepat di samarkannya.
“Nih orangnya. Kemaren waktu lo masuk dia izin. Syukuran anaknya baru bisa jalan. Kenalan Ra, namanya Rafly. Tim Moderate Content juga.” Agam memaparkan.
“Raline,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Sepersekian detik, lelaki di hadapannya masih menatap Raline lekat, seperti ada sesuatu sebelum akhirnya menjabat tangan Raline singkat. “Rafly.”
“Pak Dimas udah bilang, Raf?” tanya Karesa yang kembali mengambil potongan pizza setelah beberapa saat sibuk dengan komputernya.
“Bilang apa, Mbak?” Rafly balik bertanya. Niat hati untuk segera kembali ke kubikelnya mau tak mau harus ia tahan.
“Ck! Dia mah kebiasaan. Pasti selalu lupa bilang.” Karesa mengambil salah satu map di tumpukan meja kerjanya dan memberikannya pada Rafly.
“Ini data klien 1 tahun terakhir yang udah di kasih surat peringatan tapi tetep ngelanggar aturan. Pak Dimas minta dibuatin rekapannya siapa aja yang kena SP 1, 2, 3.”
“Harusnya ini data gue sama Raline yang kerjain, tapi berhubung gue ada pelatihan di luar kantor 3 hari, jadi Pak Dimas minta lo yang gantiin bareng Raline. Sekalian lo ajarin juga,” lanjut Karesa dengan senyum yang lebar.
“Gak papa kan, Ra? Nanti lo belajarnya sama Rafly. Baik kok dia, sabar juga. Asal jangan lo godain aja, bininya galak,” tambahnya pura-pura berbisik. Padahal masih bakal kedengeran juga sampe ujung kubikel. Raline hanya terkekeh kecil.
“Canda, Raf. Oke, ya? Nanti balik dari pelatihan gue traktir sushi paling enak di Jakarta, deh. Janji.”
***
Bekerja di divisi moderate content sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Raline. Meski dirinya tidak mempunyai pengalaman di bidang tersebut, namun ternyata ia bisa langsung memahaminya dalam waktu singkat. Bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi memang bukan keinginan atau target Raline, tapi semua itu tidak masalah selama masih ada yang bisa ia capai.
Ini adalah hari keduanya bekerja, tapi cukup membuat Raline tak berhenti tercenang dan geleng-geleng kepala menyaksikan apa yang ada di layar komputernya. Ia harus bekerja ekstra jeli agar konten yang tidak sesuai SOP tidak tampil di beranda setiap pengguna.
“Syok ya, Ra?” tanya Karesa saat kembali dari pantry.
“Lumayan, Mbak.” Ia menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi. “Apa kabar lo yang udah 2 tahun ya, Mbak,” kekehnya yang langsung ditimpali tawa oleh Karesa.
“Tapi ya, bener deh, lo ngapain sih kerja di sini, Ra? Gue kemaren liat profile lo ... lulusan terbaik, pengalaman kerja di perusahaan yang bagus, gaji juga menjamin. Gabut lo, ya?” tuding ibu satu anak itu.
Mendengar itu, Raline tergelak. “Yakali gabut, Mbak.”
“Terus?”
“Sebenernya gue gak sengaja ngeliat lowongan pekerjaan perusahaan ini, iseng-iseng apply, eh keterima.”
“Tuh kan bener! Gabut sama iseng gak ada bedanya, Raaa...”
“Gitu ya, Mbak?” keduanya terkekeh. Menjadi satu-satunya perempuan di kubikel A memang membuat Karesa cepat akrab dengan Raline apalagi keduanya sama-sama pecandu matcha! Udah, dunia milik berdua pokoknya itu.
Di waktu yang bersaman, ponsel Raline yang tergeletak di atas meja berbunyi. Menampilkan satu pesan dari nomor yang tak di kenal. Ketika di buka, ternyata sebuah file yang diberi judul data klien 1 tahun terakhir. Tak lama setelahnya muncul pesan lain.
+6281xxxx
Pelajari sendiri.
Mengetahui siapa pemilik nomor tersebut, Raline tersenyum tipis. Ia segera menutup laman chat tersebut dan meletakkan kembali ponselnya di meja. Sama sekali tak berniat untuk membalasnya.
***