Jam sudah menunjukkan pukul 20.49 malam. Semua penghuni ruangan di mana Raline bekerja sudah pulang sejak pukul lima sore tadi. Menyisakan dirinya sendiri—sepertinya karena masih berkutat dengan pekerjaannya merekap data klien setahun terakhir yang diberikan pak Dimas kepadanya. Tidak—ralat, lebih tepatnya dilimpahkan Rafly kemarin.
Raline kembali meneguk teh mint yang entah sudah gelas ke berapa. Hujan di luar belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan mereda. Tumben sekali bukan Jakarta hujan? Mengingat beberapa waktu terakhir cuaca Jakarta sangat panas padahal sudah memasuki musim penghujan. Rainfall such as miracles, right?
Fokus Raline masih tertuju pada layar monitor di hadapannya ketika kedua tangannya sibuk mencepol asal rambut yang sedari pagi tergerai indah. Kemeja V-neck berwarna blue sky yang awalnya rapi pun kini terlihat mulai kusut semerawut.
Ia menempelkan tubuhnya pada punggung kursi, menarik napas dalam. Sebenarnya bukan pekerjaan yang sulit mengingat ia hanya perlu merekap data yang sudah ada. Namun banyaknya data membuat Raline sedikit jenuh karena ia harus jeli memisahkan mana klien yang masuk ke dalam kategori peringatan ringan, sedang dan berat.
Melihat jam semakin menunjukan malam hari, Raline memutuskan untuk menutup laman file tersebut dan menyelesaikannya esok hari. Ia tidak ingin terjebak semakin malam di kantor sendirian?
Setelah memastikan PC-nya dalam keadaan off, Raline langsung meraih tas, memasukan ponsel ke dalamnya dan beranjak dari kursinya. Siapa sangka, ketika ia hendak melangkah, sosok Rafly sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Oh, Hai. Lembur?” tanya Raline basa-basi.
“Ngapain?” Lelaki itu balik bertanya. Wajahnya terlihat tidak ramah.
“Hah? Oh aku? Lembur juga,” jawab Raline masih dengan senyum ramah di wajahnya.
“Kamu. Ngapain di sini.” Rafly mengoreksi kalimatnya.
“Lembur. Kan aku udah bilang, Raf. Kenapa, sih?”
“Line?”
“Ya?”
“Sengaja, kan?” tuding lelaki itu dengan tatap mata tajam yang masih sama.
Raline mengerutkan keningnya. “Apanya?”
“Mau kamu apa, sih?”
Raline melangkah mendekat pada Rafly. Membuat space diantara keduanya hanya berjarak kurang lebih satu jengkal saja. Saking dekatnya, Raline bisa mencium bau wangi lelaki itu yang masih saja sama. Dalam hati ia terkekeh.
Mata keduanya bertemu. Raline menatap tajam mata hitam pekat yang sudah lama hilang dari pandangannya itu. Berusaha memberitahu lelaki di hadapannya bahwa Raline yang pernah dipukul mundur, kini telah kembali.
Dan, cup. Dengan kesadaran penuh Raline mencium bibir lelaki itu singat kemudian berucap, “Kamu.” Senyumnya bahkan semakin mengembang ketika melihat ekspresi tegang Rafly. Ia baru saja membuat seseorang tidak mampu bergeming karena ulahnya. Diam-diam Raline bersorak dalam hati. Ia mundur selangkah untuk kembali membuka jarak diantara keduanya lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Rafly.
Sebuah awalan yang bagus, bukan?
***
“s**t!” Rafly refleks membuka mata. Menyugar rambut basahnya sambil mendengus kesal ketika sadar pikirannya malah melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Ia segera mematikan shower, menuntaskan acara mandinya dan beranjak dari kamar mandi.
“Semua baik-baik aja?” tanya Nesa saat Rafly bergabung di atas tempat tidur.
“Syafa udah tidur?”
Nessa mengangguk. “Mas belum jawab pertanyaan aku.”
“Semua baik. Kenapa?”
“Mas banyak gak fokus dari tadi. Sesuatu terjadi?” wajah wanita berusia 23 tahun itu terlihat iba.
Rafly mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Ia tersenyum lembut, “Pekerjaan lagi banyak di kantor. Jadi fokus Mas kebagi-bagi. Maaf, ya.”
Nessa tersenyum, merapatkan tubuhnya ke arah Rafly dan memeluk tubuh suaminya. “Mas kamu gak akan berubah, kan?” tanyanya menatap wajah Rafly.
Rafly balas memeluk tubuh Nessa. “Kenapa tanya begitu?” yang langsung mendapat gelengan dari Nessa. Wanita itu kembali membenamkan wajahnya pada d**a bidang Rafly.
“Aku selalu takut kalau suatu saat kamu bakal ninggalin aku dan Syafa.”
Rafly merenggangkan pelukannya, menyentuh kedua sisi wajah istrinya dan menatapnya lekat. “Enggak akan. Aku janji.” kemudian mengecup bibir istrinya singkat.
Masih dengan senyum di wajahnya, Nessa kembali memeluk tubuh suaminya erat. Ya, Rafly selalu berhasil membuat keresahan yang bersarang di benak Nessa menguap dan berganti dengan rasa hangat yang menenangkan. Ah, betapa indahnya dicintai secara penuh oleh seorang Rafly Adisetya.
Sedangkan Rafly, pikirannya lagi lagi tertuju pada Raline. Pada bagaimana wajah wanita itu saat menatapnya, mata coklatnya, bibir merahnya yang ... Rafly benci mengakuinya tapi sungguh sangat menggoda, juga ... sentuhan singkat bibir Raline di bibirnya yang begitu lembut dan ... Ahh Sial! Rafly membatin dalam hati. Ia menutup matanya lekat sambil mengeratkan pelukannya. Bisa-bisanya ia mengingat wanita lain selain istrinya.
***
“Raf, Ness Florist udah mulai buka belum?” Pertanyaan itu datang dari Karesa yang terlihat sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Rafly. “Temen kuliah gue butuh bouquet bunga dadakan, nih. Tapi di tempat langganannya tutup. Bisa pesen di tempat lo gak?”
Saat akan menjawab, Raline lebih dulu bersuara, membuat Rafly terpaksa mengurungkan niatnya. “Loh, Ness Florist itu punya Rafly, Mbak?”
“Istrinya, sih. Kenapa emang, Ra? Pernah kesitu juga, ya?”
“Eummm, enggak, sih. Kebetulan pernah ada yang kirim bouquet bunga tapi gak ada nama pengirimnya cuman ada nama toko bunganya aja. Jadi pas denger kayak ... gak asing aja gitu,” terang Raline.
Karesa mengangguk beberapa kali sebagai respond. “Jadi gimana, Raf? Bisa gak, nih?” Karesa kembali bertanya.
“Harusnya sih bisa. Tadi pagi Nessa bilang dia mau ke toko,” respond-nya. Tatapan mata lelaki berusia 29 tahun itu terlihat mencuri pandang ke arah Raline yang duduk tepat disamping Karesa.
“Ok gue langsung kasih nomornya aja kali, ya, biar dia hubungin langsung. Kayaknya gue masih save nomor Nessa, deh,” kata Karesa kemudian kembali tenggelam dengan ponselnya.
Sedangkan Raline, wanita itu terlihat tidak terusik sama sekali. Sebaliknya, ia dengan sengaja menempelkan ujung sumpit berisi sisa saus tepat di bibirnya lalu melumat bibirnya pelan. Berusaha mengingatkan lelaki itu pada kejadian beberapa waktu yang lalu. Sialnya Rafly paham dan langsung membuang wajah ke arah lain.
Disaat yang bersamaan, lelaki berusia 29 tahun berperawakan sedikit berisi dan identik memakai frame kacamata hitam, datang menghampiri ketiganya. Ia langsung menduduki kursi kosong tepat di samping Rafly. “Astaga gak lagi lagi deh gue mau ngajarin anak magang,” keluhnya tiba-tiba.
“Kenapa dah Gam?” Karesa bertanya.
“Pak Bas tuh ada-ada aja. Minta tolong gue ngajarin anak magang divisinya dia cuman gara-gara team divisinya masih pada baru.” Masih mengeluh, ia lalu melanjutkan. “Yang jadi masalah tuh anaknya susah banget di ajarin. Bentar bentar lupa, bentar bentar gak ngerti. Tau ah, gue tinggal kemari aja.”
“Ya lo kan mantan anak buahnya, wajar lah Pak Bas minta bantuan lo. Terimain aja napa yang penting kan bonusnya,” ledek Karesa.
“Bonus apaan? Pahala doang iya.”
“Nah itu bonusnya. Pahala. Cuman ya kasar banget gak sih kalau gue sebut langsung?” Karesa terkekeh.
Agam ikut terkekeh. “Sialan!”
“By the way, Gama kemana, Gam? Tumben dia gak ikut?”
“Tadi sih katanya mau ketemu sama pihak vendor. Mau ngomongin soal venue gitu,” jawab Agam.
“Jadi memangnya? Gue kira gak jadi.”
“Kayaknya sih udah di restuin sama keluarga pihak ceweknya. Lagian si Agam kurang kerja keras apa coba? Emang keluarga ceweknya aja pilih-pilih tuh,” tutur Agam. Ia kemudian memanggil pelayan dan memesan sesuatu.
“Tuh, Ra, lo kalau nyari cowok yang kira-kira keluarga cowoknya ngasih restu. Kalau enggak sih, mendingan gak usah. Ribet entar urusannya kayak si Gama,” ujar Karesa memberi wejangan.
“Kalau keluarganya ngasih restu tapi cowoknya malah selingkuh sama temen kantornya, gimana, Mbak?” tutur Raline menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Tatap keduanya sempat bertemu sebelum kemudian Rafly mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya sejak bertemu dengan Raline, Rafly jadi punya kebiasaan baru.
“Wah parah... Cewek spek bidadari kayak lo gini masa iya pernah di selingkuhin sih. Ckckck ...” seru Agma dengan wajah yang tak habis pikir.
“Kalau gue sih tinggalin. Cowok model gitu gak ada bersyukurnya! Selingkuh sekali, pasti bakal diulangi lagi!” hardik Karesa. “Terus terus gimana? Masih sama dia?”
Raline refleks menggeleng. “Nggak, Mbak.”
“Good choice!” Agma menanggapi. “Gak mungkin lah cewek cantik, smart kayak lo masih mau sama cowok begitu.”
Raline terkekeh. “Lagipula dia lebih milih temen kantornya daripada gue. Padahal yang nemenin dia dari nol gue.”
“Heh?! b******k bener jadi laki. Udah ditemenin dari nol, selingkuh, eh malah milih selingkuhannya. Gak tahu diri. Kalau gue jadi lu Ra, udah gue cekek leher tuh laki!!!” Karesa emosi. “Ada fotonya gak, Ra? Mana coba gue pengen liat. Secakep apa sih tuh cowok?”
“Sayangnya nggak ada, Mbak. Gue udah hapus semua foto atau video. Sosmed gue di blokir semua sama selingkuhannya.”
“Aisssh. Padahal gue penasaran banget sama mukanya. Terus gimana sekarang? Udah nikah belum si b******k?”
“Udah, Mbak. Kabarnya sih udah punya anak juga. Baru bisa jalan gitu anaknya.”
Uhukk! Rafly yang sedari tadi sudah kehilangan selera makan tiba-tiba saja tersedak dan membuat perhatian teman-temannya teralihkan padanya.
Karesa spontan kaget. “Heh kenapa?”
“Minum minum...”Agma meyodorkan air mineral pada Rafly.
“Yeeee, kebiasaan. Lo kan gak bisa makan udang, Raf. Ngapain dimakan, sih!” omel Karesa ketika melihat potongan udang di piring Rafly.
“Lupa,” jawab Rafly sambil berusaha menetralkan perasaannya. Ini bukan tentang udang. Bukan. Tentu saja.
Ia menatap tajam ke arah Raline yang langsung mendapat tatapan santai—tidak, lebih tepatnya tatapan tak bersalah dari Raline. Wanita itu bahkan menaikkan satu alisnya sebagai respond ‘kenapa?’ sambil tersenyum tipis.
Pernah dengar istilah Retrouvailles? Ya. Pertemuan kembali setelah sekian lama yang biasa orang-orang artikan sebagai sesuatu yang baik, yang positif, identik dengan kebahagiaan, suka cita, dan menumpahkan rasa rindu. Tapi semua definisi itu sepertinya tidak selaras dengan Rafly. Alih-alih senang dan bahagia, ia sebaliknya; resah dan tidak suka. Kehadiran Raline yang tiba-tiba bahkan tak pernah ia sangka membuat kehidupannya yang stagnan mulai menuai ombak. Ia harus segera mengambil langkah sebelum semakin berantakan, bukan?
***