Bab 1 - Melahirkan si kembar

1961 Words
Nayla Kusuma menggeliat dalam tidurnya, perutnya yang membuncit terasa penuh. Kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan, membuatnya sering terbangun di tengah malam hanya untuk buang air kecil. Ia melirik ke samping, suaminya, Ricky Pratama, masih terlelap. Nayla tidak tega membangunkannya. Dengan hati-hati, ia bangkit dari ranjang dan berjalan perlahan menuju kamar mandi, tangannya memegangi perutnya yang besar. Sesampainya di kamar mandi, Nayla segera menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, ia berbalik hendak keluar, namun kakinya tiba-tiba terpeleset. "Aaarghh.. Tolong aku Mas Ricky!"Teriaknya, suaranya bergetar menahan sakit. Ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin Nayla merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Darah mulai mengalir dari kedua kakinya, membasahi lantai kamar mandi. Ia tergeletak lemah tak berdaya di tengah genangan darah. Teriakan Nayla membangunkan Ricky. Ia langsung terduduk di ranjang, jantungnya berdegup kencang. "NAYLA...!!!" Teriaknya panik. Ia segera berlari menuju kamar mandi dan mendapati istrinya tergeletak di lantai bersimbah darah. Ricky berlutut di samping Nayla, air mata mulai membasahi pipinya. "Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan suara bergetar. "Aku... aku terpeleset, Mas Ricky. Sakit sekali... Anak kita mas.." Ujar Nayla meringis kesakitan, wajahnya pucat pasi. Dia memegangi perut bagian bawahnya. Nayla sudah mengalami pendarahan hebat, gaun tidur yang dikenakan olehnya telah ternoda oleh darah. "Ya Tuhan, Nayla!" Ricky berlutut di samping istrinya, wajahnya pucat pasi. Ia mengangkat Nayla ke dalam pelukannya, merasakan tubuh istrinya bergetar hebat. "Bertahanlah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Ricky dengan suara yang bergetar. Ricky segera mengangkat Nayla dan membawanya keluar dari kamar mandi. Ia berteriak memanggil Ardi, sopirnya, untuk segera menyiapkan mobil. Nayla hanya dapat mengangguk pelan sebagai jawaban, menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian bawah perutnya. Nayla menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat, hanya untuk mengurangi rasa sakit. Dengan sekuat tenaga, Ricky menggendong Nayla keluar dari pintu utama, membawanya menuju mobil yang terparkir di depan mansion mewah mereka. "Ardi, siapkan mobil sekarang juga! Pergi ke rumah sakit terdekat!" Teriaknya pada sopir yang ada di dalam kediamannya tersebut. "Baik, Tuan Ricky." Jawab Ardi, kemudian ia bergegas membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Ricky. Dengan hati-hati, ia membaringkan Nayla di kursi belakang mobil. Ricky membaringkan kepala Nayla di atas pangkuannya, sambil menggenggam erat tangan sang istri. Ricky segera menghubungi pihak rumah sakit Horizon untuk menunggu kedatangannya di sana. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Ricky terus menggenggam tangan Nayla, menciuminya, dan membisikkan kata-kata penyemangat. "Bertahanlah, sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit. Semuanya akan baik-baik saja, Nayla. Aku yakin kamu pasti kuat. Anak-anak kita membutuhkanmu." Nayla tersenyum lemah. Ia tahu kondisinya sangat buruk. Ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, namun ia berusaha bertahan demi kedua buah hatinya yang akan segera lahir ke dunia. "Mas Ricky... Sakit..." Bisiknya lemah. Ardi melajukan mobil secepat mungkin menuju rumah sakit Horizon, sebuah rumah sakit swasta terkenal yang terletak di pusat kota. Dalam waktu 10 menít, mereka tiba di rumah sakit. Ardi kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuk Ricky. Ricky keluar sambil menggendong Nayla menuju lobi rumah sakit. Para perawat telah bersiap menunggu kedatangan mereka. Dengan sigap para perawat membawa Nayla menggunakan brankar rumah sakit. Nayla langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Ricky menunggu di luar dengan gelisah. Dia mondar-mandir tak karuan. Pikirannya dipenuhi ketakutan dan penyesalan. Ia menyesal tidak bangun menemani Nayla ke kamar mandi. Ia menyesal tidak lebih berhati-hati menjaga istrinya yang tengah hamil tua. Dokter menemui Ricky dan menyerahkan dokumen persetujuan untuk ditandatangani olehnya, agar mereka dapat segera melakukan tindakan berikutnya. Tanpa berpikir panjang, Ricky langsung mengambil dokumen tersebut dari tangan dokter dan menandatanganinya. Kemudian Ricky menyerahkan kembali dokumen itu pada dokter. Dokter pun kembali ke ruangannya, tak lama setelah itu Nayla segera di pindahkan ke ruang operasi. Nayla akan memperjuangkan antara hidup dan matinya untuk melahirkan kedua buah hatinya. Di luar ruangan, Ricky dengan setia menunggu, hatinya dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran. Ia terus berdoa agar Nayla dan kedua bayinya selamat. Ricky juga telah menghubungi kedua orang tua serta mertuanya untuk memberitahukan kondisi Nayla saat ini. Tak lama setelah kemudian, orang tua dan mertuanya pun tiba di rumah sakit. "Ricky, bagaimana keadaan Nayla?" Tanya ibu mertuanya, Rina Angraini dengan penuh kecemasan. "Nayla berada di ruang operasi Bu. Tim medis sedang menangani Nayla di dalam." Ucap Ricky dengan raut wajah yang mesih terlihat tegang. Kemudian Ricky menceritakan kronologi bagaimana Nayla dapat berakhir di rumah sakit pada keluarganya. Ricky dan yang lainnya masih berada di ruang tunggu, dengan perasaan gelisah menunggu Nayla yang sedang berjuang untuk melahirkan. Ricky hanya dapat mondar mandir di balik pintu, mencemaskan keadaan sang istri dan juga anak-anaknya. Tangisan kedua bayinya memecah keheningan ruangan, membuat air mata haru mengalir di pipinya. Ia bersyukur kedua buah hatinya lahir dengan selamat. Ricky beserta orang tua dan mertuanya merasakan kelegaan yang luar biasa, setelah tiga setengah jam berlalu terasa seperti siksaan, dan setiap detiknya dipenuhi doa dan harapan. Dokter wanita yang menangani persalinan Nayla keluar dari ruangan dengan senyum ramah di wajahnya. "Selamat ya, Pak Ricky, istri Anda melahirkan sepasang bayi kembar. Kedua bayi lahir dengan selamat dan sehat. Namun, saya ingin menyampaikan kepada Pak Ricky, bahwa keadaan istri anda kurang baik karena pendarahan yang dialaminya. Kami akan memantaunya dalam beberapa hari ke depan." Ucap sang dokter dengan nada profesional. Ricky, kedua orang tua dan mertuanya merasakan kekhawatiran kembali menghampiri mereka. Kegembiraan atas kelahiran bayi kembar itu sedikit ternodai oleh kondisi Nayla yang masih lemah. Ricky menatap dokter wanita itu dengan tatapan penuh harap. "Bisakah saya melihat istri saya sekarang, Dok?" Tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. Kegugupan terlihat jelas di wajah tampan pria tersebut. Dokter wanita itu tersenyum lembut, berusaha menenangkan Ricky. "Silakan Pak Ricky, tapi setelah kami memindahkan istri Anda ke ruang perawatan bersama dengan kedua bayi Anda. Kami perlu memastikan Bu Nayla dan kedua bayi dalam kondisi stabil sebelum menerima kunjungan." Jelasnya dengan sabar. Ricky mengangguk mengerti. Ia tahu dokter melakukan yang terbaik untuk Nayla dan anak-anaknya. Ia mencoba menenangkan diri dan menunggu dengan sabar. Sementara itu, orang tua dan mertuanya berusaha untuk saling menguatkan dan menenangkan satu sama lain. Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat keluar dari ruangan dan memanggil Ricky. "Pak Ricky, anda sudah dapat melihat istri anda di ruang perawatan nomor 205. Sedangkan anak-anak anda berada di kamar bayi." Ucap perawat itu dengan senyum ramah. Ricky, orang tuanya dan juga mertuanya berjalan menuju kamar bayi melihat kondisi kedua bayinya tersebut sebelum menuju ruang perawatan Nayla. Jantungnya berdebar kencang, ketika melihat kedua bayi mungil tersebut. Setelah beberapa saat, Ricky meninggalkan mereka di kamar bayi dan berjalan menuju ruang perawatan Nayla. Ricky sudah tak sabar melihat kondisi istrinya. Ia membuka pintu ruang perawatan perlahan, dengan langkah pelan Ricky masuk ke dalam dan mendekati ranjang Nayla. Ricky menatap Nayla lekat, ia membelai lembut wajah sang istri, lalu mengecup pelan keningnya. Ricky menatap wajah pucat Nayla yang masih tertidur nyenyak. Dia duduk di samping ranjang Nayla, menggenggam telapak tangannya, dan menjaganya dari samping. Beberapa saat kemudian, Nayla perlahan membuka kedua matanya. Nayla melihat raut wajah Ricky yang tampak bahagia, namun juga ada kesedihan di matanya. Mungkin suaminya memikirkan kondisinya yang kurang baik. Nayla sendiri bisa merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman. Nayla memaksakan diri untuk tersenyum pada Ricky dan menyapanya, "Mas Ricky.." Suaranya terdengar pelan, seperti kehabisan tenaga, dan tampak lemah. "Sayang, terima kasih telah berjuang melahirkan anak-anak kita ke dunia ini dengan selamat. Dan terima kasih juga sudah memberikan aku dua malaikat kecil yang sangat cantik dan tampan. Bagaimana perasaanmu sekarang, sayang?" Tanya Ricky sambil mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. "Sama-sama Mas Ricky." Nayla tersenyum hangat, lalu wanita itu melanjutkan kembali perkataannya, "Aku merasa sangat lelah Mas Ricky. Apakah Mas Ricky sudah melihat anak-anak kita?" Ricky tersenyum hangat mendengarnya. "Sudah sayang, mereka sangat cantik dan tampan seperti dirimu. Tunggu sebentar ya, Mas akan memanggil kedua orang tua kita kemari." Ucap Ricky sambil menggenggam jemari istrinya tersebut. Nayla hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Ricky. Tak lama setelah itu, kedua orang tua dan mertuanya datang menemui Nayla. Ibu Nayla menangis sesenggukan melihat keadaan putrinya yang terbaring lemah tak berdaya. "Bagaimana perasaanmu sekarang sayang? Ibu dan Ayah sangat khawatir padamu." Ucap Ibu Nayla seraya membelai lembut rambut hitam putrinya. Nayla berusaha untuk tetap tersenyum dan menjawab, "Ibu, aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi ya." Nayla berusaha membujuk ibunya, agar tidak sedih. "Bagaimana Ibu tidak menangis sayang, kamu mengalami pendarahan hebat, untungnya kamu dapat melahirkan kedua putra dan putrimu dengan selamat." Ucap ibunya lagi. "Sudah sayang, jangan menangis lagi. Tenangkan dirimu. Yang penting sekarang Nayla sudah baik-baik saja." Ucap Jony sambil menepuk pelan pundak istrinya. Kemudian Nayla memanggil Ricky yang terdiam sejak tadi. "Mas Ricky.. Apakah Mas Ricky sudah menemukan nama yang baik untuk kedua anak kita?" Tanya Nayla sambil menatap wajah suaminya yang tampan. "Sudah sayang, Mas akan menamakan jagoan dan peri kecil kita dengan nama Ken Kyla Pratama dan Luna Kyla Pratama. Kyla adalah gabungan dari kedua nama kita. Bagaimana menurutmu?" Ucap Ricky, matanya berbinar saat menyebutkan kedua nama putra dan putrinya itu. Mata Nayla berbinar mendengar suaminya menamai kedua buah hati mereka dengan nama yang indah. "Sangat bagus Mas Ricky, aku suka nama yang Mas Ricky berikan untuk kedua buah hati kita. Aku ingin melihat anak-anak kita, bisakah Mas Ricky membawa anak-anak kita kemari?" Tanya Nayla kepada suami yang sangat ia cintai itu dengan wajah yang masih terlihat pucat. "Apa tidak sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu, sayang? Setelah kamu bangun nanti, Mas akan membawa anak-anak kita untuk bertemu denganmu." Ricky menatap Nayla dengan wajah yang masih terlihat cemas. Melihat keadaan istrinya yang terbaring dengan tubuh yang lemah. "Mas Ricky, aku ingin menemui mereka sekarang. Boleh kan?" Nayla menggenggam tangan suaminya dengan wajah penuh harap. Ricky yang masih terlihat ragu kemudian menatap kedua orang tua dan mertuanya untuk meminta pendapat, mereka dengan serempak mengangguk menyetujuinya. Akhirnya Ricky menyetujui permintaan Nayla, pria itu kemudian meminta dua orang perawat untuk membawa kedua bayi kembar mereka ke ruang perawatan Nayla. Sedangkan para orang tua meninggalkan ruangan, memberi ruang untuk keduanya saling bicara. Nayla yang melihat kedatangan si kembar pun tersenyum bahagia, baru sekarang Nayla dapat menemui dan melihat si kembar setelah berjam-jam mereka lahir. Keduanya masih terlelap di pelukan perawat. Ingin sekali Nayla menggendong dan memeluk si kembar dalam pelukannya. Namun kondisinya masih terlalu lemah, untuk duduk saja dia sudah sangat sulit. Perawat tersenyum pada Nayla, sambil meletakkan satu per satu bayi ke dalam pelukan Nayla. "Bu Nayla, kedua bayinya sangat sehat dan menggemaskan." Ucap salah seorang perawat. Nalya hanya tersenyum lembut pada suster sebagai tanggapan. Lalu jemarinya mengelus lembut pipi kedua bayi tersebut. Nayla membelai Ken dan Luna dengan penuh kasih sayang. "Ken, Luna, ini Mama sayang. Terima kasih karena kalian telah lahir dengan selamat. Mama senang sekali melihat kalian berdua." Ucap Nayla dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Nayla mengecup kening Ken dan Luna dengan perasaan sedih. Setelah puas melihat buah hatinya, Nayla menyerahkan kembali kedua buah hatinya pada perawat. Nayla masih menatap lekat anak-anaknya dalam gendongan perawat. 'Maafkan Mama sayang, karena Mama mungkin tidak dapat menemani dan melihat pertumbuhan kalian berdua. Maafkan Mama yang tidak dapat menemani kalian hingga kalian beranjak dewasa. Mama berharap, kalian berdua menjadi anak yang baik dan berguna di masa depan. Berbaktilah kepada Papa kalian ya sayang. Karena Mama percaya jika Papa kalian akan merawat kalian dengan baik.' Batin Nayla, air matanya mulai mengalir. Nayla mulai merasakan kondisinya yang makin memburuk, pertemuannya dengan Ken dan Luna mungkin adalah untuk pertama dan terakhir kalinya. Nayla terdiam sesaat, mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan yang mendalam. Ia ingin memberikan kesan baik pada kedua anak-anaknya. "Mas Ricky.." Panggil Nayla dengan suara lirih. Ricky yang sejak tadi berdiri di sampingnya, langsung mendekat dan menggenggam tangannya dengan erat. "Iya, Sayang? Ada apa?" Tanya Ricky dengan nada khawatir. Ia dapat merasakan perubahan pada diri Nayla. Nayla menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Mas Ricky, Nayla ingin meminta sesuatu padamu. Apakah Mas Ricky bersedia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD