Seperti itulah cintanya terhadap Ranty, kekasih yang dia kencani selama duduk di bangku sekolah menengah atas. Setelah memandangi kekasihnya cukup lama, akhirnya Ranty pun terbangun. Ranty memeluk Rendy dan bersandar di d**a bidang pria itu.
"Rendy, jika rencana kita berhasil, mungkin dalam waktu dekat aku akan menikah dengan Ricky." Ucap Ranty yang berada dalam pelukan pria tersebut.
Tatapan Rendy terlihat sendu, namun dia masih akan memenuhi apapun yang Ranty inginkan. "Lalu bagaimana denganku nanti, sayang?" Rendy bertanya sambil mengusap pelan kepala Ranty.
"Mau bagaimana lagi, yang jelas kita akan jarang bertemu setelah aku menikah dengannya. Tapi kamu tenang saja, sayang. Karena yang ada di dalam hatiku hanyalah dirimu seorang. Aku hanya ingin mengeruk semua harta kekayaan yang di miliki oleh Ricky. Apalagi jika anak dalam kandunganku ini adalah anak laki-laki, pasti akan sangat bagus nantinya." Ucapnya dengan penuh arti.
Rendy tidak mempermasalahkan perkataan Ranty. Semua ini sudah mereka rencanakan dari jauh hari sebelumnya, jadi Rendy tidak akan menyesali pilihan hidup yang telah dia ambil.
Walaupun Ranty akan menikahi pria lain, hatinya masih menjadi miliknya. Itulah yang terpenting bagi Rendy, karena dia juga tidak ingin kehilangan wanita yang sangat dia cintai ini.
"Aku mengerti, Sayang. Yang penting kamu bahagia, itu sudah cukup untukku." Ucap Rendy tulus, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Ia tahu bahwa dirinya hanyalah alat bagi Ranty, tapi cinta telah membutakannya.
Ranty mengangkat wajahnya dan menatap Rendy dengan mata berkaca-kaca. "Aku janji, Rendy. Setelah aku mendapatkan semua yang kuinginkan, aku akan kembali padamu."
Rendy hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu apakah janji itu akan ditepati oleh Ranty, tapi ia memilih untuk percaya padanya. Baginya, kebahagiaan Ranty adalah segalanya.
"Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Ranty, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan segera menghubungi teman-temanku di laboratorium. Aku akan pastikan mereka melakukan yang terbaik untuk kita berdua."Jawab Rendy dengan nada serius.
Ranty mengangguk. "Aku percaya padamu, Rendy. Jangan biarkan kita kehilangan semua hal yang sudah hampir berada di genggaman tangan kita dengan mudah."
Rendy memeluk Ranty sekali lagi. Ia tahu betapa besar risiko yang mereka hadapi, tapi ia tidak akan menyerah. Demi cinta, ia siap melakukan apa saja, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.
Setelah berpelukan cukup lama, Ranty akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia harus segera kembali ke apartemennya. Jangan sampai ada orang lain yang curiga.
"Aku harus pergi sekarang, sayang." Ucap Ranty sambil mengenakan pakaiannya.
"Hati-hati di jalan, sayang. Kabari aku jika kamu sudah sampai." Sahut Rendy dengan nada khawatir.
Ranty mengangguk dan mencium bibir Rendy sekilas sebelum pergi. Rendy menatap kepergian Ranty dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bahagia karena bisa membantu wanita yang dicintainya, tapi juga merasa sedih karena harus berbagi Ranty dengan pria lain.
Setelah Ranty pergi, Rendy segera mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu temannya yang bekerja di laboratorium. Ia menjelaskan situasinya dan meminta bantuan temannya untuk memanipulasi hasil tes DNA.
"Bisa saja aku membantumu, Rendy. Tapi memanipulasi hasil tes DNA, itu sangat berisiko sekali. Jika ketahuan, kita berdua bisa masuk penjara." Jawab temannya dengan nada khawatir.
"Aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mohon bantuanmu, aku jamin semuanya akan baik-baik saja." Pinta Rendy dengan nada memohon.
Temannya terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas dan berkata, "Baiklah Rendy, aku akan bantu kamu. Tapi kamu harus janji padaku, jangan pernah libatkan aku dalam semua kekacauan ini."
"Aku janji, aku tidak akan melibatkanmu, Rio." Jawab Rendy dengan nada lega.
Setelah menutup telepon, Rendy menghela napas panjang. Ia tahu bahwa ia telah mengambil langkah yang sangat berbahaya, tapi ia tidak menyesalinya. Demi Ranty, ia rela melakukan apa saja.
Ricky duduk di ruang kerja kantornya dengan wajah murung. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai masalah. Denis telah menyelidiki latar belakang Ranty, namun yang didapat hanyalah informasi bahwa Ranty adalah seorang yatim piatu. Ia sangat rajin, bekerja sambil kuliah untuk membiayai hidupnya. Setelah lulus, ia melamar dan diterima sebagai sekretaris Ricky.
Sementara Ricky tenggelam dalam pikirannya, Ranty sudah tiba di kantor. Denis, asisten Ricky menyambutnya dengan sopan. "Selamat pagi, Bu Ranty. Pak Ricky sudah menunggu di ruang kerjanya." Ucap Denis padanya.
Ranty tersenyum manis. "Terima kasih, Pak Denis. Aku akan segera ke sana."
Dengan langkah anggun, Ranty menuju ruang kerja Ricky. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. "Selamat pagi, Pak Ricky." Sapa Ranty dengan nada lembut.
Ricky mendongak dari kumpulan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. "Ranty, selamat pagi. Ada apa?" Tanyanya tanpa ekspresi.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah Pak Ricky baik-baik saja. Semalam sebelum pulang, aku lihat wajah Pak Ricky terlihat sangat pucat." Jawab Ranty dengan nada khawatir yang dibuat-buat.
Ricky menghela napas. "Aku baik-baik saja, Ranty. Hanya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Sahutnya singkat.
Ranty mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Ricky. "Jangan terlalu keras pada diri sendiri, Pak Ricky. Ingat, ada aku yang selalu siap membantumu." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Ricky menatap Ranty dengan tatapan kosong. "Terima kasih, Ranty." jawabnya datar.
Suasana di ruang kerja menjadi canggung. Ranty merasa ada sesuatu yang berbeda dari Ricky. Ia tidak seramah biasanya.
"Apa yang sedang Pak Ricky pikirkan? Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu." Ucap Ranty lembut.
Ricky terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku hanya sedang memikirkan tentang tes DNA itu."
Ranty terkejut mendengar ucapan Ricky. Ia berusaha menutupi kegugupannya.
"Sebenarnya, kenapa aku harus melakukan tes DNA, Pak Ricky? Apa Pak Ricky tidak percaya padaku?" Tanyanya dengan nada sedih.
"Bukan begitu, Ranty. Aku hanya ingin memastikan semuanya dengan jelas. Aku tidak ingin ada keraguan di kemudian hari." Jawab Ricky tegas.
Ranty mencoba memeluk Ricky dari samping. "Aku mengerti Pak Ricky. Aku akan melakukan apa pun yang Pak Ricky inginkan. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak berbohong padamu." Ucap Ranty mencoba meyakinkan Ricky.
"Apa-apaan kamu Ranty!" Ucapnya tanpa sadar mendorong Ranty agar dia melepaskan pelukannya.
"Agh... Pak Ricky.. Apa yang baru saja kamu lakukan, aku hampir saja terjatuh." Ucap Ranty dengan tatapan sedih, tangannya memegang perutnya yang masih kecil
Ricky merasa marah pada Ranty karena tiba-tiba memeluknya. Namun ada rasa bersalah dalam hati Ricky, karena mendorong wanita itu. "Maafkan aku, Ranty. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Ricky sedikit merasa bersalah.
Ranty tersenyum samar. Ia tahu bahwa ia telah berhasil membuat Ricky merasa bersalah padanya. "Tidak apa-apa, Pak Ricky. Saya mengerti, saya harap Pak Ricky dapat mempercayai saya setelah hasil tes menyatakan jika bayi ini benar adalah anak dari Pak Ricky." Ucapnya sambil tersenyum cerah pada Ricky.
"Baiklah Ranty, kamu sebaiknya kembali ke rumahmu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Ucap Ricky datar.
Ranty merasa sangat kecewa dengan sikap Ricky yang sangat dingin padanya. Tapi dia tidak dapat melakukan apapun.
"Baiklah Pak Ricky, sampai jumpa lagi." Ucap Ranty mencoba untuk tersenyum lembut.