Bab 16 - Tes DNA

1044 Words
Mendengar pernyataan Ricky, Dony terkejut bukan main. Ia sangat geram, lalu menggebrak meja dengan keras. "RICKY!!! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu berbuat seperti itu?" Ucap Dony dengan emosi. "Ricky juga tidak tahu, Ayah. Yang Ricky ingat, kami makan malam bersama di restoran hotel Element. Keesokan harinya Ricky terbangun di kamar hotel dengan Ranty di sebelah Ricky tanpa busana. Ricky tidak ingat apa pun yang terjadi, hanya ingat saat makan malam bersama di restoran hotel itu." Ucap Ricky menceritakan kejadian yang dia alami saat itu. Dina menggeleng kepalanya tidak percaya. "Tidak, Ricky. Wanita jalangg itu pasti menjebakmu!" "Ibumu benar, bisa saja dia menjebakmu. Ayah tidak percaya ini! Dia pasti berbohong! Jangan-jangan, dia tidak benar-benar hamil. Dia hanya ingin menjebakmu agar kamu mau menikahinya!" Ucap Dony menimpali, matanya menyipit penuh curiga. Ricky menggeleng lemah. "Tidak, Ayah. Aku sudah melihat sendiri hasil pemeriksaan kehamilannya. Dia benar-benar hamil, Ayah." Ricky berusaha meyakinkan ayahnya, meskipun hatinya sendiri masih dipenuhi keraguan. Mungkinkah Ranty benar-benar menjebaknya? Tapi, bagaimana dengan hasil pemeriksaan kehamilan itu? Dina menggelengkan kepalanya dengan keras, air mata mulai membasahi pipinya. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Ricky? Bagaimana dengan Ken dan Luna? Apa kamu tidak memikirkan mereka?" Ucap Dina dengan nada yang penuh kekecewaan. Ricky terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa bersalah dan malu atas perbuatannya. Ia tahu bahwa ia telah menyakiti hati banyak orang, terutama kedua orang tuanya dan kedua anaknya yang masih kecil. Ricky sadar sepenuhnya, menikahi Ranty bukanlah solusi yang tepat. Dony menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Ia tahu bahwa ia harus tetap tenang dan memberikan nasihat yang bijak kepada putranya. "Ricky, Ayah mengerti bahwa kamu merasa bertanggung jawab atas kehamilan Ranty. Tapi, pernikahan bukanlah satu-satunya jalan keluar. Ada banyak cara lain yang bisa kamu lakukan untuk membantu Ranty dan calon anakmu tanpa harus menikahinya." "Ayah sarankan, setelah usia kehamilan Ranty empat bulan, lakukan tes DNA terlebih dahulu. Jika memang terbukti anak yang dikandung Ranty adalah anakmu, maka Ayah dan Ibu dengan terpaksa akan merestui pernikahan kalian, dengan satu syarat. Ayah tidak ingin kalian mengadakan resepsi pernikahan. Kalian hanya dapat mendaftarkan pernikahan kalian saja. Tapi jika ternyata bukan anakmu, Ayah harap kamu membatalkan niatmu untuk menikahi wanita itu!" Tegas Dony pada putranya. "Iya, betul apa yang dikatakan Ayahmu. Sebaiknya lakukan tes DNA dulu untuk memastikan bahwa anak yang dikandung Ranty itu benar-benar anakmu. Ibu tidak ingin kamu tertipu oleh wanita itu." Tambah Dina menimpali perkataan suaminya. Ricky mendengarkan nasihat kedua orang tuanya dengan seksama. Ia menyadari bahwa mereka hanya ingin yang terbaik untuknya. Ia juga menyadari bahwa ia tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ricky pun tidak menentang syarat yang ayahnya berikan, dia memang tidak berniat untuk mengadakan resepsi pernikahan. "Baiklah, Ayah, Ibu. Aku akan menjalankan nasihat kalian dengan baik. Aku akan melakukan tes DNA setelah usia kehamilan Ranty empat bulan. Jika memang terbukti anak yang dikandungnya adalah anakku, aku akan menikahi Ranty sesuai yang ayah katakan." Jawab Ricky tegas dengan nada yang lebih tenang dan mantap. Pernikahan ini hanya akan berada di atas kertas saja, karena Ricky juga tidak mencintai Ranty sama sekali, dia hanya ingin bertanggung jawab untuk anak yang ada di dalam kandungannya. Dony dan Dina mengangguk lega mendengar jawaban Ricky. Mereka berharap bahwa putranya akan membuat keputusan yang tepat dan tidak menyesal di kemudian hari. "Baguslah kalau kamu sudah mengerti, Ricky. Ayah dan Ibu hanya ingin kamu bahagia dan tidak salah dalam mengambil keputusan." Ucap Dony sambil menepuk bahu putranya. "Iya, Ricky. Jangan lupa, kamu harus selalu memikirkan perasaan Ken dan Luna. Mereka masih kecil dan membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu. Jangan sampai pernikahanmu dengan Ranty membuat mereka merasa diabaikan dan tidak dicintai." Tambah Dina dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang. Ricky mengangguk, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia merasa terharu dengan perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu berusaha menjadi ayah yang baik bagi kedua anaknya dan tidak akan pernah mengecewakan mereka. Ricky bangkit dari duduknya dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat. "Terima kasih, Ayah, Ibu. Ricky berjanji akan selalu mengingat nasihat kalian." Ucapnya dengan suara yang bergetar. Dina menatap Ricky dengan penuh kasih. "Ricky, karena hari sudah siang, bagaimana kalau kamu makan siang bersama kami?" Tanya ibunya lembut. Ricky mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang setelah percakapan yang penuh emosi itu. "Baiklah, Bu." Jawabnya singkat. Ia tahu bahwa kedua orang tuanya sangat mengkhawatirkannya, dan ia tidak ingin membuat mereka semakin cemas. Ricky merasa lapar, dia belum makan apapun sejak pagi tadi. Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan, di mana meja sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat. Aroma masakan yang menggugah selera sedikit membangkitkan nafsu makan Ricky yang sempat hilang. Dony menarik kursi untuk istrinya, lalu duduk di seberang Ricky. Saat mereka mulai menyantap makanan, suasana hening menyelimuti ruang makan. Ricky makan dengan tenang, mencoba menikmati setiap suapan. Ia merasa bersyukur bisa makan bersama kedua orang tuanya, di tengah masalah yang sedang ia hadapi. Dina memperhatikan putranya dengan seksama. Ia tahu bahwa Ricky sedang berusaha keras untuk menenangkan diri. "Ricky, jangan terlalu dipikirkan masalah ini. Ayah dan Ibu akan selalu ada untukmu." Ucap Dina memecah keheningan. Ricky tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu. Aku tahu." Jawabnya. Ia merasa lega mendengar kata-kata ibunya. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian menghadapi masalah ini. "Kamu harus tetap kuat, Ricky. Kamu punya dua anak yang membutuhkanmu. Jangan sampai masalah ini membuatmu menyerah dan terpuruk." Timpal Dony memberikan semangat. Ricky mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia teringat pada Ken dan Luna, kedua buah hatinya yang masih kecil. Ia tidak boleh menyerah, ia harus kuat demi mereka berdua. "Aku mengerti, Ayah." Ucapnya dengan suara yang bergetar. Setelah makan siang, Ricky merasa sedikit lebih baik. Ia berterima kasih kepada kedua orang tuanya atas dukungan dan nasihat yang mereka berikan. Ia tahu bahwa ia harus segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini. "Ayah, Ibu, Ricky pamit dulu ya. Ada beberapa hal yang harus Ricky urus di kantor." Ucapnya sambil berdiri. "Hati-hati di jalan, Ricky. Jangan lupa untuk istirahat yang cukup, Nak." Pesan Dina dengan nada khawatir. Ricky mengangguk dan mencium kedua pipi ibunya. Ia juga memeluk ayahnya. "Terima kasih, Ayah, Ibu. Ricky pasti akan menjaga diri baik-baik." Jawabnya. Ricky kemudian berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ricky beranjak pergi untuk menuju kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD