Setelah berpamitan dengan kedua orang tua, mertua, serta seluruh keluarga yang lain, kini Aswin dan Dista sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan menuju rumah pria tersebut.
Selama dalam perjalanan keduanya saling terdiam. Suasana hening menyelimuti dalam mobil tersebut. Karena tidak ingin terus merasa canggung, akhirnya Aswin pun memutar lagu dari audio mobil.
Dista lebih memilih menatap keluar jendela karena menurutnya pemandangan di luar sana lebih menarik daripada pemandangan di dalam. Bahkan, di dalam hati perempuan itu terus saja bermonolog.
“Kalau Serra ikut kan suasana nggak seram kayak gini,” batin Dista.
Akhirnya yang menjadi kekhawatiran Dista pun terjadi. Suasana canggung antara dirinya dengan lelaki yang baru saja menikahinya itu pun terjadi juga. Hubungan antara kakak dan adik ipar kini telah berubah menjadi sepasang suami istri.
“Ada sesuatu yang harus di beli dulu sebelum kita sampai rumah?” tanya Aswin dengan tiba-tiba.
Dista pun langsung memalingkan wajahnya ke asal suara. Dia melihat laki-laki yang duduk di sebelahnya masih menatap lurus ke depan. Lantas ia pun berpaling kembali dan menatap lurus ke depan juga.
“Kalau aku sih nggak ada, apa Kak Aswin ada yang mau dibeli?” tanya Dista balik setelah menjawab pertanyaan dari Aswin.
“Nggak ada!” jawab Aswin singkat.
Ya … memang seperti itulah dia. Tidak banyak bicara kecuali bersama dengan Kalista dan Serra. Pria itu memang selalu menjaga martabatnya sebagai seorang suami dan pemimpin keluarga di mana pun dia berada.
Namun, kali ini sudah berbeda. Wanita yang ada di sebelahnya ini adalah istrinya. Tentunya dia harus memasukkan perempuan itu ke dalam pengecualian. Apa karena dia masih belum bisa menerima kehadiran adik iparnya sebagai seorang istri atau memang dia sengaja tidak ingin memasukkan perempuan itu ke dalam pengecualian.
Akhirnya suasana kembali hening hingga mobil putih itu memasuki sebuah halaman yang sangat familiar bagi Dista. Dulunya dia sering datang berkunjung ke rumah ini sebagai seorang adik yang sedang mengunjungi kakaknya. Namun, kini statusnya sudah berubah.
Setelah mobil sudah terparkir dengan sempurna di depan garasi, kedua orang itu pun keluar. Mereka berjalan masuk ke dalam. Aswin yang berjalan terlebih dahulu, sedangkan Dista mengikuti di belakangnya.
Ketika masuk ke dalam rumah, foto pernikahan kakaknya masih terpampang rapi di ruang tamu rumah tersebut. Dista yang melihatnya pun langsung menyunggingkan senyumannya.
Seandainya saja kakaknya itu masih hidup, mungkin dirinya tidak akan menjalani takdir seperti ini, menurutnya. Namun, ibarat nasi sudah menjadi bubur, tentu semuanya tidak akan kembali seperti dulu, bukan?
Sekarang Dista harus bisa membuat bagaimana bubur itu bisa terasa nikmat untuk dia nikmati. Dia memikirkan itu sampai-sampai tidak sadar jika Aswin telah memanggil-manggil dirinya sejak tadi. Hingga akhirnya suara nyaring dari Aswin mampu membuat perempuan itu tersadar.
“Dista …!”
Seketika sang pemilik nama pun terlonjak kaget mendengar suara nyaring Aswin yang memanggil namanya. Sontak saja dia langsung memandang ke arah laki-laki itu.
“Kenapa, Kak?” tanya Dista yang sudah memasang wajah normalnya kembali dari rasa keterkejutannya.
Ia pun kini fokus kepada laki-laki yang ada di depannya itu. Dista memang sangat pintar menguasai dirinya sejak dulu. Tepatnya setelah perempuan itu memiliki butik. Dunia kerja memang mengharuskannya terus tetap tenang, apalagi pekerjaannya berhubungan langsung dengan orang-orang penting.
“Meskipun kita sudah sah menjadi suami istri, tapi saya masih belum bisa menerima kamu menjadi istri saya. Apalagi harus berbagi tempat tidur bersama dengan kamu karena itu sangat tidak mungkin saya lakukan,” ucap Aswin menjelaskan.
Pria itu hanya ingin mempertegas hubungan antara keduanya. Dia tidak ingin Dista salah mengartikan semua sikapnya nanti. Oleh karena itu, dia harus mengatakan semua itu di depan.
“Jadi kamu bisa menggunakan kamar yang biasa kamu tempati ketika sedang menginap di sini,” sambung Aswin.
Ucapan Aswin tentu tidak membuat Dista terkejut. Justru perempuan itu mengerti kenapa laki-laki itu bersikap demikian. Di samping itu, dia juga merasa lega karena salah satu kekhawatirannya tidak terjadi.
Sebelumnya perempuan itu sudah bingung dan cemas jika mereka harus tidur di dalam satu kamar. Tentunya akan terasa aneh dan tidak nyaman jika dirinya tidur di ranjang yang sama dengan laki-laki yang sebelumnya menjadi suami dari kakak perempuannya.
“Syukurlah, ternyata Kak Aswin juga berpikiran seperti itu,” batin Dista.
Sakit hati? Tentu saja tidak. Bahkan, sebenarnya dia ingin meminta pada lelaki itu untuk menempati kamar terpisah. Apa yang dirasakan oleh Aswin tentunya sama dengan apa yang dirasakan oleh Dista.
Wanita itu juga belum bisa menerima sepenuhnya pria itu yang dulunya berstatus sebagai kakak iparnya sekarang telah berubah menjadi suaminya. Dia bisa menerima pernikahan ini, tapi untuk menerima laki-laki itu menjadi suaminya? Tentu saja masih belum bisa dia lakukan.
“Oke, aku juga belum siap untuk berbagi tempat tidur bersama Kakak. Kalau begitu aku pergi ke kamar dan selamat malam!” balas Dista dengan penuh keyakinan.
Setelah mengatakan itu, ia pun segera beranjak meninggalkan pria itu seorang diri di ruang tamu. Aswin hanya menatap punggung Dista yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
***
Suasana yang berbeda menyambut Dista ketika membuka mata. Biasanya setiap dia membuka mata akan disuguhkan dengan nuansa broken white, tapi kini dia sudah disuguhkan warna abu-abu. Tentu saja warna yang sangat kontras dengan warna kamarnya di kediaman Wijaya.
Perempuan itu pun langsung berniat ingin mengubah warna kamar yang sekarang dia tempati agar tidak terkesan mencekam seperti saat ini. Benar-benar warna yang mencerminkan pemiliknya, kaku dan dingin.
Seketika Dista pun teringat akan sesuatu. Perempuan itu langsung bangkit dari ranjang dan langsung mencuci wajah dan menggosok gigi. Kini statusnya sudah menjadi seorang istri dan sudah menjadi kewajibannya untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Meskipun dia masih belum bisa menerima Aswin sebagai suaminya, tugas seorang istri harus tetap dia jalankan, menurutnya. Jadi mau tidak mau dia pun bergegas pergi ke dapur untuk berperang dengan segala perlengkapan dapur.
Sementara di dalam kamar utama, Aswin baru saja terbangun. Tiba-tiba saja aroma masakan langsung menerobos ke dalam indra penciumannya tanpa permisi. Aroma harum dari masakan yang menurutnya sangat menggugah selera.
Seketika pikiran pria itu langsung tertuju kepada Dista, adik ipar yang sekarang telah menjadi istrinya. Ya … dia sangat yakin jika pasti perempuan itulah yang sedang memasak.
“Apa Dista yang masak?” gumam Aswin dan beranjak dari tempat tidurnya.
Ia pun bergegas pergi ke kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Pria itu langsung mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum memutuskan untuk ke dapur.
Beberapa saat kemudian ia pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Ketika kakinya baru saja menginjak lantai dapur, dia melihat ada seorang perempuan yang sangat dia kenal sedang fokus memasak dengan dibantu oleh bibi.
“Ehemm …,” Aswin pun berdeham.
Pria itu memang sengaja bersuara untuk memberi tahu Dista jika dia juga ada di dapur. Namun, semua itu berbeda dengan Dista. Perempuan itu pun langsung terlonjak kaget ketika mendengar suara dehaman seseorang di belakanganya.
“Kak Aswin! Sejak kapan Kakak di situ?” tanya Dista.
“Baru saja. Masak apa?” tanya Aswin balik setelah menjawab pertanyaan dari perempuan itu.
“Nasi goreng,” jawab Dista singkat.
Setelah mengatakan itu ia pun melanjutkan kembali acara masaknya dan tidak menghiraukan Aswin yang masih berdiri di tempatnya. Lebih baik dia menyelesaikan masakannya agar bisa segera membersihkan diri.
Aswin pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan memilih menuju ke ruang keluarga sambil membaca berita online melalui ipad-nya. Memang seperti itulah yang menjadi kebiasaan pria itu.
Aswin tidak pernah melewatkan berita yang memuat tentang perkembangan dunia kesehatan yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagai seorang dokter senior dia memang tidak ingin melewatkan informasi apa pun mengenai ilmu kesehatan sekecil apa pun.
“Loh … orangnya sudah pergi?” tanya Dista pada dirinya sendiri.
Dia yang baru saja tersadar jika Aswin sudah tidak berada di tempatnya hanya bisa mengedikkan bahunya. Dia kembali sibuk menyiapkan masakan yang sudah selesai ke meja makan.