Sarapan Bersama

1265 Words
Kini, di meja makan sudah ada Aswin dan Dista yang sedang memakan sarapan dalam hening. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Suasana masih canggung dan kaku, tapi mereka tetap menjalaninya, meskipun terpaksa. Dari awal duduk di meja tadi, Dista langsung mengambilkan nasi goreng dan menaruhnya di atas piring suaminya. Sementara itu Aswin hanya membuka suaranya sekali sebelum dia mulai memakan makananya. “Cukup …,” ucap Aswin ketika dia merasa cukup dengan nasi yang diambilkan oleh Dista. Aswin tampak terkejut dengan sikap Dista padanya. Dia tidak pernah menduga jika perempuan yang sebelumnya berstatus sebagai adik iparnya itu kini telah menjadi istrinya dan melayani dia makan. Bahkan, tadi waktu melihat Dista memasak sarapan untuk mereka, hatinya juga sudah bertanya-tanya. Perempuan itu pun langsung berhenti menambah nasi ke dalam piring Aswin dan kemudian meletakkan piring tersebut tepat di hadapan suaminya. Setelah itu mereka pun makan dalam keheningan hingga selesai. Selama ini pria itu tidak tahu jika ternyata Dista pandai memasak. Rasa makanan yang saat ini sedang dia santap sangat enak. Perempuan mandiri itu ternyata bukan hanya pintar men-design saja, tapi juga pintar memasak. “Ternyata dia bisa masak juga, dan rasanya sangat enak,” batin Aswin. Tentu saja mana mungkin dia mengeluarkan pujian untuk perempuan yang saat sedang duduk tak jauh darinya. Dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada perempuan itu di dalam pernikahan ini. Keduanya tahu jika mereka sama-sama terpaksa menjalankan pernikahan ini. Oleh karena itu, keduanya juga tidak akan saling menuntut untuk peran masing-masing, kecuali yang menyangkut tentang Serra. Aswin yang sudah menghabiskan sarapannya terlebih dahulu pun langsung menatap ke arah Dista yang tampak masih fokus dengan makanannya. Untuk beberapa saat Aswin menatap ke arah perempuan itu sebelum akhirnya membuka suaranya kembali. “Nanti siang kita akan menjemput Serra,” ucap Aswin dengan tiba-tiba. Dista yang tahu jika lelaki yang ada duduk di depannya ini sedang berbicara padanya pun langsung menganggukkan kepalanya. Namun, detik kemudian dia kembali melanjutkan sarapannya. Berbeda dengan Aswin. Pria itu lebih memilih bangkit dari duduknya berniat untuk pergi lebih dulu. Namun, belum sampai mengayunkan kakinya lelaki itu kembali menatap ke arah Dista. “Terima kasih sarapannya …,” ujarnya dengan tiba-tiba. “Padahal hanya sebuah sarapan saja,” batin Dista. Menurutnya sarapan ini merupakan hal yang biasa. Tidak ada yang spesial sama sekali. Jika dulu dia akan menyediakan untuk dirinya sendiri, tapi tidak dengan sekarang. Apalagi jika sebelumnya dia bebas mau sarapan atau tidak, tapi lain lagi dengan sekarang. Mau tidak mau dia harus menyiapkannya untuk sang suami. Ya … hanya sebatas itu yang mampu dia lakukan sebagai seorang istri. Semuanya akan berbeda jika dia berperan sebagai seorang ibu untuk Serra. Tentu dia tidak akan setengah hati untuk melakukannya. Dia akan menjadi ibu yang baik untuk keponakan yang sekaligus anak sambungnya tersebut. Setelah mengatakan itu Aswin langsung mengayunkan kakinya menuju ke halaman belakang. Dia pergi meninggalkan Dista sendirian di meja makan, sedangkan perempuan itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke punggung pria itu dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. *** Waktu seakan cepat berlalu. Kini matahari sudah berada di atas yang menandakan jika waktu sudah siang. Sambil menunggu waktu, Dista memang lebih memilih berada di dalam kamar. Baginya di kamar inilah merupakan tempat paling nyaman di rumah itu karena dia tidak harus banyak berinteraksi dengan pria yang saat ini telah berstatus sebagai suami sahnya. “Untungnya aku menempati kamar yang berbeda, kalau nggak gimana nasibku?” desah Dista. Apa dia harus berterima kasih kepada Aswin karena telah memintanya untuk menempati kamar yang biasa dia tempati sebelumnya? Ya … ternyata pria itu juga memiliki rasa tidak nyaman sama seperti dirinya. “Aku bisa bebas di dalam kamar ini, kalau di luar kamar pasti canggung banget,” lanjut Dista masih dengan pemikirannya sendiri. Akhirnya Dista bisa melakukan banyak hal selama di dalam kamar. Perempuan itu bisa menelepon siapa saja yang ingin dia hubungi tanpa merasa terganggu sedikit pun. Dia juga bisa mencorat-coret kertas hingga menciptakan sebuah design pakaian yang cantik. Akhirnya pasangan suami istri itu pun sudah berada dalam perjalanan menuju ke kediamana Wijaya untuk menjemput Serra. Sejak berangkat baik Dista maupun Aswin tidak mengeluarkan suara. Lagi-lagi suasana hening mengiringi perjalanan mereka hingga akhirnya suara dehaman Dista membuat laki-laki itu menolehkan kepalanya untuk sesaat sebelum akhirnya kembali fokus ke depan. “Boleh nyalain musik apa nggak? Sepi banget dan aku nggak bisa kalau suasana sepi kayaknya gini, soalnya bawaannya sakit perut,” tutur Dista. Aswin pun yang mendengar penuturan perempuan yang saat ini duduk di sampingnya pun langsung menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuan. “Silahkan …,” jawab Aswin singkat. Tangan Dista pun langsung terulur. Dia segera menyalakan musik dari audio yang ada di depannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakannya setelah mendapatkan persetujuan dari Aswin. Sejak tadi dia merasa jenuh dengan perjalanannya kali ini. Akhirnya selama dalam perjalanan ke kediaman Wijaya hanya terdengar suara musik yang mengiringi karena bibir sepasang suami istri itu masih sama-sama bungkam. Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil putih yang dikendarai oleh Aswin dan Dista pun sampai di kediaman Wijaya. Entah kenapa pria itu beberapa hari ini sering menggunakan mobilnya yang berwarna putih dari pada yang berwarna hitam. Apa mungkin mobil itu biasa digunakan oleh Kalista selama perempuan itu menjadi istri pria itu dulu? Aswin mematikan mesin setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, kemudian Dista pun bergegas turun meinggalkan Aswin yang masih berada di dalam mobil. Perempuan itu berlari menuju rumah karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. “Bunda … Ayah …,” teriak Dista memanggil orang tuanya. Namun, tanpa dia duga ternyata dia juga mendapatkan teriakan yang sama. Suara gadis kecil yang sangat familiar di telinganya menerobos masuk pendengarannya. “Mama …!” terdengar suara gadis kecil sedang berteriak dari arah samping. Seketika Dista pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah asal suara. Dia melihat seorang gadis kecil yang sedang berlari menuju ke arahnya dengan senyum yang ceria. Tiba-tiba saja tubuh mungil itu memeluknya dengan erat. Pelukan yang tiba-tiba diterima oleh Dista itu pun seketika membuatnya terdiam kaku. Tubuhnya seakan membeku di dalam pelukan tangan kecil tersebut. Satu kata ‘Mama’ yang sengaja ditujukan padanya telah berhasil menyita perhatiannya. Bahkan, saat ini otak dan hatinya seperti sedang sibuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Tubuh perempuan itu seakan sulit untuk dibuat bergerak. Dista sangat mengenal suara teriakan itu. Suara yang sangat familiar baginya itu tak lain adalah suara Serra, keponakannya sendiri. Sebelumnya bocah itu memanggilnya dengan sebutan ‘Madis’ dan sekarang kenapa Serra merubah panggilannya menjadi ‘Mama’ padanya? Apakah karena statusnya dari tante yang berubah menjadi ibu sambung? “Mama …,” panggil Serra untuk yang kedua kalinya karena masih belum juga mendapatkan jawaban dari perempuan yang kini telah menjadi mamanya. Kemudian perempuan itu pun mencoba melepaskan pelukan Serra agar dirinya bisa berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis kecil tersebut. Dengan raut wajah kebingungan perempuan itu menatap ke dalam manik bening milik Serra. “Se … rra manggil Madis dengan sebutan apa tadi?” tanya Dista. Perempuan itu ingin memastikan jika pendengarannya tidak mengalami masalah. Apa yang dia dengar apakah memang sama dengan apa yang diucapkan oleh anak sambungnya itu. Serra yang mendengar pertanyaan dari tante yang sekaligus juga mama sambungnya seketika langsung menundukkan kepalanya. Bocah perempuan itu tiba-tiba saja tidak berani untuk menatap ke arah sang mama. Serra berpikir jika perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan “Mama” itu tidak menyukai panggilan tersebut. Dia takut jika perempuan yang kini telah menjadi mamanya akan memarahinya. “Serra panggil Mama karena sekarang Madis kan udah jadi Mamanya Serra. Madis nggak suka dipanggil kayak gitu, ya? Kalau Madis nggak suk …,” tutur Serra dengan suara lirihnya, tapi langsung terpotong oleh suara Dista.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD