11. Pasrah di Bawah Saga

1395 Words
Mara tersentak saat tangan Saga menekan pintu di belakangnya, membuat mereka dalam posisi kabedon sekarang. “A- apa yang mau kau lakukan?” tanya Mara sedikit terbata. Entah kenapa ia merasa aura Saga sangat berbeda. “Apa ucapanku masih kurang jelas?” kata Saga kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Mara. “aku ingin kita bercinta.” Kedua tangan Mara mendorong ke depan tepat setelah Saga membisikkan kalimat itu. “Apa kau gila? Kau hanya suami bayaranku!” bentaknya dengan mata melotot. Saga mencengkram kedua tangan Mara yang mendorong dadanya lalu menaikkannya ke atas kepala, menekannya ke pintu. “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!” teriak Mara berusaha meronta. Namun, sia-sia karena kekuatan Saga lebih besar darinya. Sudut bibir Saga terangkat. Ia lalu mengatakan, “Waktu itu kau justru yang memaksaku, kenapa sekarang memohon agar aku melepaskanmu?” Mara sedikit melebarkan mata, ucapan Saga membawanya pada ingatan malam itu. Namun, masih berpikir pria itu tak mungkin Saga, ia berpura-pura tak tahu maksud ucapannya. “Jangan asal bicara. Aku tak tahu apa maksudmu,” kata Mara tanpa mengalihkan tatapan tajamnya. Saga terdiam melihat bagaimana cara Mara menatapnya. Tatapan Mara seakan ia bicara yang sebenarnya. Namun, ia tak akan lupa bahwa Mara adalah seorang pesandiwara, aktris berbakat walau belum sangat terkenal. “Akting yang sangat bagus,” ucap Saga kemudian melepaskan tangan Mara. Ia sama sekali tak berniat menyakiti wanitanya itu. Mara meringis saat kedua tangannya telah bebas. Tekanan tangan Saga cukup kuat membuat pergelangan tangannya sedikit memerah. “Tapi kita tidak sedang syuting sekarang,” ucap Saga saat bersedekap d**a. “jangan berpura-pura lupa kehamilanmu saat ini karena kita bermain s*x malam itu.” Mara yang setengah menunduk memperhatikan pergelangan tangan, seketika mengangkat kepala. Kali ini wajah terkejutnya tak bisa ia sembunyikan. Siapa sangka, pria bayaran yang ia pilih, ternyata adalah ayah dari bayi yang ia kandung saat ini. “Jangan menatapku seperti itu.” Ucapan Saga menyadarkan Mara dari keterkejutan serta ketidakpercayaan. Mara mengalihkan pandangan saat napasnya mulai tak terkendali, seakan-akan begitu terkejut dengan kenyataan ini. Saga mengulurkan tangan, meraih dagu Mara dan menghadapkan wajahnya padanya. Ia pun dapat melihat raut wajah Mara yang sulit diartikan. Matanya sedikit basah, seperti mau menangis, tapi berusaha memberinya tatapan setajam belati. Sayangnya, wajahnya terlihat merah seperti menahan malu, atau … apakah menahan amarah? Saga tidak mengerti. “Jadi pria itu adalah kau?” ucap Mara. “Sudah sangat jelas.” Mara memaksa mengalihkan pandangan meski tangan Saga tetap memaksanya menatapnya. Ia bingung, malu, berbagai perasaan bercampur berkecamuk. Tentu ia tak lupa bahwa dirinya lah yang memaksa Saga, tapi saat itu dirinya dalam pengaruh obat. Tiba-tiba sebuah pikiran terbesit dalam kepala yang membuatnya kembali menatap Saga. “Jika kau pikir aku yang sudah membuatmu terangsang, kau salah. Kau yang mendatangiku,” ucap Saga seolah tahu apa yang Mara pikirkan. Mara terdiam. Bukan itu yang ia pikirkan melainkan, bagaimana bisa kebetulan membuat pria yang tidur dengannya menjadi suami bayarannya. “Ja- jadi, kau sengaja? Kau sengaja menjadi suami bayaranku?” Mara tersentak saat Saga memeluk pinggangnya tiba-tiba. Tubuh mereka pun menempel tanpa sekat dengan wajah Saga yang begitu dekat. “Menurutmu? Kau kira aku akan membiarkan pria lain menjadi ayah dari anakku?” ucap Saga. Mara melebarkan mata. Itu berarti Saga sudah tahu bahwa dirinya hamil sebelum mereka membuat kesepakatan, bukan? Tapi, bagaimana bisa? Apa mungkin, Famela? “Kenapa?” tanya Mara dengan tatapan kosong. “kenapa kau mau melakukan semua ini?” “Apa jawabanku masih kurang jelas? Karena kau mengandung anakku. Jika tidak, malam itu adalah malam pertama dan terakhir kita bertemu,” ucap Saga. Mulut Mara terkatup rapat. Sekarang sudah jelas semua ini karena bayi dalam perutnya. “Sekarang aku tanya padamu. Kenapa kau tidak menggugurkannya? Kau seorang public figur, kehamilanmu bisa merusak reputasi dan karirmu.” Kali ini giliran Saga yang bertanya. Alasannya bukan semata karena darah dagingnya dalam rahim Mara, melainkan ia kagum sekaligus penasaran kenapa Mara memilih mempertahankan bayinya. “Dia tidak bersalah. Dia ada karena kesalahan yang aku buat. Mana mungkin aku bisa menggugurkannya?” Saga tercenung. Jawaban Mara berhasil menyentuh hatinya. Sejak awal saat tahu Mara hamil dan ia memilih mempertahankannya, ia telah merasakan gejolak di d**a. Feelingnya mengatakan Mara adalah wanita yang berbeda. Sudut bibir Saga terangkat. Sekarang dirinya semakin yakin membawa Mara menemui kakek dan keluarganya. “Kita cerai.” Dua kata terucap dari mulut Mara membuat lengkungan tipis di bibir Saga seketika lenyap. “Kita cerai saja. Sejak awal aku tidak berniat mencari ayah dari anak yang aku kandung,” ucap Mara kembali. “Cerai? Apa kau lupa? Dalam perjanjian kita bercerai sembilan bulan kemudian,” ucap Saga. “tapi, akan kupastikan kita tidak akan bercerai, selamanya,” sambungnya sebelum akhirnya menundukkan kepala meraih bibir Mara. Mara berusaha mengelak, tapi ia tak bisa. Saga menahan tubuh dan kepalanya, memaksanya mengikuti keinginan. Saga menikmati bibir Mara tak sabaran. Namun, bisa ia pastikan, ia tak akan menyakiti Mara seperti saat Mara menciumnya ganas waktu itu. Mara meremas kemeja Saga saat mendorong pria itu tak ada artinya. Ia ingin berteriak, tapi bibir Saga membungkamnya. Setelah beberapa menit berlalu, Mara mulai pasrah saat telah merasa lelah, membiarkan Saga menikmati bibirnya semaunya. Bukannya semakin bersemangat, kepasrahan Mara membuat Saga menghentikan pagutan. Ia melepas tautan bibirnya dan Mara menciptakan benang saliva di antara mereka. Napasnya terengah, begitu juga dengan Mara. Mara kira, ini akan berakhir. Sayangnya, tidak. Saga justru mengangkat tubuhnya, menggendongnya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar. “A- apa yang mau kau lakukan?” tanya Mara dengan napas terengah. Ciuman Saga sebelumnya membuat paru-parunya kekurangan oksigen. “Kenapa kau selalu bertanya? Dulu kau yang memaksaku, sekarang giliranku. Kau harus membayarnya,” jawab Saga lalu merebahkan Mara dengan hati-hati ke ranjang lalu segera menindihnya, mencegahnya kabur. “Membayar? Dulu pengalaman pertamaku, bukankah itu bayaran yang sangat mahal?” ucap Mara. “Begitu juga denganku,” kata Saga. “sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi–” Ucapan Saga menggantung saat tangannya membelai wajah ayu Mara yang tampak berantakan karena ulahnya menciumnya secara paksa. “layani aku. Jika tidak, besok berita kehamilanmu akan tersebar ke penjuru kota bahkan mungkin dunia.” Mara melotot. Bisa-bisanya Saga mengancamnya. Sekarang ia menyesal, harusnya ia mendengarkan Famela hari itu saat ia memilih Saga sebagai suami bayarannya. “Akan kukatakan bahwa kau telah memperkosaku, mengambil keperjakaanku, dan mengandung darah dagingku.” Wajah Mara merah padam hingga telinga. Rasa panas yang sebelumnya bertahan di wajah, mulai naik ke ubun-ubun. “Lakukan! Lakukan saja! Meski aku tak lagi di dunia hiburan, aku masih bisa hidup!” “Ya, kau benar. Tapi, bagaimana dengan sahabatmu itu? Dia pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan aku tak yakin keluarganya akan peduli.” Mara terdiam. Itu benar. Meski selama ini Famela selalu peduli pada keluarganya, tapi tidak dengan mereka. Mereka pasti tak akan peduli dengan biaya rumah sakitnya. Mara memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya dirinya mengambil keputusan. “Lakukan. Lakukan saja semaumu, tapi jangan sampai melukai calon anakku,” ucap Mara tanpa menatap Saga. Saga tak mengerti, kenapa Mara bisa begitu lemah jika sudah menyangkut Famela. Padahal, menurut informasi yang ia dapat, Famela telah banyak mencurangi Mara. Semua uang Mara dikendalikan olehnya, bahkan ia yakin Mara tak tahu berapa uangnya di rekening saat ini. Famela hanya menjadikan Mara sapi perah, ladang uang. “Apa yang membuatnya begitu istimewa? Sampai-sampai kau menyerah ketika aku menyebutnya,” kata Saga. Ingin sekali mengatakan kejahatan yang telah Famela lakukan, tapi jika itu ia lakukan, ia akan membongkar kembali satu rahasianya. Mara pasti bertanya-tanya bagaimana bisa dirinya mengetahui banyak hal. Mara hanya diam, seolah pikirannya dibawa terbang pada masa lalu, kenapa dan bagaimana dirinya begitu melindungi Famela. Mara yang sebelumnya menoleh ke samping menghindari tatapan Saga, kini menatapnya dan mengatakan, “Karena dia satu-satunya keluarga yang aku miliki.” Saga tak dapat mengalihkan pandangan sedetikpun. Kedua netra Mara yang menatapnya seolah menyiratkan banyak kisah di masa lalu yang tak seorang pun tahu, yang tak pernah dan tak ingin ia ungkapkan pada siapapun. “Bisa kau melakukannya sekarang? Semakin cepat semakin baik,” ucap Mara dan berhasil menyadarkan Saga. Mara tak ingin membagi lebih banyak rahasia dengan Saga. Saga mengenyahkan banyak pertanyaan dalam kepala. Mara sudah menyerahkan diri sukarela, tak boleh ia siakan, bukan? Lagipula tujuannya sejak awal memang untuk bercinta dengannya. “Baiklah jika itu yang kau inginkan,” ucap Saga sebelum akhirnya ia membisikkan sebuah kata di telinga Mara yang berhasil membuat mata Mara melebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD