12. Sama-sama Menikmatinya

1068 Words
Mara tak bisa menahan desah, juga tak bisa berhenti meremas mahkota hitam legam Saga. Rambut model comma hair yang biasanya tertata rapi, kini berantakan. Mara tak mampu menahan gejolak menggebu yang membuncah saat lidah tak bertulang Saga menjelajahi area sensitifnya. Pria itu sangat lihai, membuatnya ingin berteriak setiap detiknya. Atau, apa karena dirinya yang terlalu lemah? Hanya belaian kecil dengan ujung lidahnya sudah membuatnya seperti bom yang ingin meledak. Dada Mara terlihat naik turun, napasnya menderu tak terkendali saat sprei di bawahnya basah oleh liquid bening miliknya. Namun, alih-alih merasa jijik, raut wajah Saga justru menunjukkan gairah yang semakin memuncak. Dijilatinya sisa cairan pada kedua jarinya seperti es krim kemudian menyapu bibirnya dengan lidah. “Manis,” ucap Saga sebelum memposisikan diri di atas Mara. Wajahnya berada tepat di atas wajah Mara yang tampak merah. Ia lalu menunduk meraup bibir Mara saat memberinya hidangan utama. Mara Mara melebar tatkala benda asing yang dulu pernah merobek selaput daranya kembali memasukinya. Hentakan Saga yang tiba-tiba membuat punggungnya sampai terangkat. Rasa sakit pun serasa menjalar ke setiap jengkal tubuhnya. Namun, bibir Saga yang membungkam bibirnya seolah menjadi penenang. Saga tak berhenti menikmati bibir Mara, memberitahunya cara berciuman yang benar. Tangannya pun tak tinggal diam, memberi Mara pijatan yang membuatnya meremang setiap detiknya apalagi dengan gerakan teratur di bawah sana. Cukup lama kemudian, Saga membuat desahan Mara semakin terdengar saat ia mempercepat gerakan, seolah ingin segera menjemput puncak. Dan saat ia telah sampai pada puncak kenikmatannya, ia tak mampu menahan geraman nikmat di ceruk leher belakang Mara. Tubuh Mara mengejang saat merasakan bagian tubuh Saga yang terbenam berkedut-kedut mengeluarkan benihnya, menyatu dengan cairannya yang keluar di saat bersamaan. Berbagai perasaan pun bercampur membuatnya menjatuhkan kepala, membenamkan wajahnya pada bantal. Posisinya saat ini berada di bawah Saga yang memeluknya dari belakang. Ia bahkan merasakan keringat Saga menyatu dengan keringat di punggungnya. “Luar biasa,” bisik Saga di telinga Mara sebelum pria itu bangun menegakkan punggungnya. Dan sebelum ia melepas penyatuan mereka, diremasnya kedua bokongsintal Mara yang membuat jantungnya bergetar. Perhatiannya lalu merangkak pada pinggang ramping Mara, lalu punggung indahnya yang begitu mulus tanpa jerawat dan berakhir pada mahkota Mara berwarna dark brown yang berantakan. “s**t!” batin Saga saat sesuatu yang harusnya ia tarik mundur, mulai mengeras kembali perlahan. Di lain sisi, Riky terkejut saat mendapatkan kabar dari polisi bahwa laporannya tak dapat dilanjutkan lagi. “Tidak adanya saksi dan bukti yang kuat membuat kami tak bisa melanjutkan laporan Anda,” jelas polisi dari seberang sana. “Apa? Apa jariku yang hampir putus tidak bisa jadi bukti?!” bentak Riky tak terima. Ia heran, padahal belum lama Mara menghubunginya perihal penangkapan Saga, tapi kenapa sekarang tiba-tiba polisi berkat demikian? “Sebaiknya Anda hentikan laporan jika tidak, Anda mungkin bisa jadi tersangka.” “Apa?! Apa yang–” Belum selesai Riky bicara, panggilan telah diputus sepihak. “Ada apa?” tanya Sonia, manajer Riky. Ia yang sedari tadi menemani Riky di rumah sakit. “Sial!” geram Riky. “polisi bilang mereka tidak bisa melanjutkan laporanku. Bukankah ini gila? Mereka juga mengatakan aku bisa jadi tersangka jika tetap melanjutkan masalah ini,” jelasnya dengan kemarahan yang tercetak jelas di wajah. “Apa? Bagaimana bisa?” tanya Sonia penasaran. “Mana kutahu?!” balas Riky. “aku tak mau tahu, aku ingin sopir itu membayar apa yang sudah dia lakukan padaku! Kau harus melakukan sesuatu!” Wanita berusia 35 tahunan itu membenarkan kacamatanya dan mengangguk. “Aku akan coba hubungi Om Surya,” ujar Sonia. Surya adalah pengacara terkenal yang masih memiliki hubungan saudara dengannya. Sonia mengambil ponselnya dari saku kemudian menghubungi Om Surya. “Halo, Om. Ada yang ingin aku bicarakan.” *** Saga membawa sup daging dan nasi di atas nampan ke kamar Mara. Ia telah bangun pagi-pagi sekali, memasak khusus untuk Mara dan kini, berniat membangunkannya dan menyuruhnya serapan. Semalam setelah pergumulan panas mereka, mereka tidur bak suami istri sungguhan. Mara bahkan semalaman tidur dalam dekapannya. Saga meletakkan nampan ke atas meja kemudian membangunkn Mara. Ia duduk di tepi ranjang, mengamati wajah ayu Mara yang tampak lelah. Dipandanginya wajah Mara lamat-lamat dan ia sama sekali tak merasa bosan. Tiba-tiba kerutan di dahi Mara tampak samar diikuti matanya yang perlahan terbuka. Ia pun terkejut menemukan wajah Saga begitu dekat dengan wajahnya. “Apa yang kau lakukan?!” pekik Mara seraya menarik kepala ke belakang, mengambil jarak dari Saga. “Mengamati wajahmu saat tidur,* jawab Saga. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mengambil sarapan Mara. “Sarapan. Semalam kau kurang makan, jadi kau harus makan makanan berat sekarang,” ucap Saga. Mara menatap Saga dan sarapannya di atas nampan dengan pandangan tak terbaca. Ia baru bangun, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul. Kesadarannya baru timbul saat ia merasakan sesuatu mengalir dari area sensitifnya. Ia baru sadar bahwa semalam telah melakukan ‘itu’ lagi dengan Saga, bahkan bukan hanya sekali. Saga menghela napas saat Mara tak juga bangun. Ia meletakkan nampan ke atas nakas dekat ranjang, mengambil sup daging buatannya lalu duduk di tepi ranjang. “Bangun, atau kau mau makan dengan posisi tidur?” ucap Saga. Mara terdiam sejenak sebelum akhirnya bangun dengan hati-hati. Ringisan samar pun terdengar lolos dari mulut saat ia berhasil duduk. Posisi duduk membuat sisa benih yang Saga buang semalam mengalir. Mara mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya sampai batas d**a. Perhatiannya lalu tertuju pada sup daging di tangan Saga yang aromanya menggelitik hidungnya. Mara berada dalam kebimbangan. Ia lapar, ingin mengambil sup itu dari tangan Saga tapi ia pikir harusnya dirinya tak bersikap seperti ini. Harusnya ia marah, bukan? Sebab Saga dengan lancang kembali menyiramkan benihnya semalam. Saga menyendok kuah sup dan irisan daging yang sengaja ia iris kecil lalu menyodorkannya pada Mara. Mara terkejut sebelum akhirnya membuang muka. “Marah? Padahal semalam kau sendiri yang memintaku cepat melakukannya,” ucap Saga tanpa menarik tangannya. “lagipula ….” Saga menggantung ucapannya. Ia menarik sendok yang ia sodorkan lalu meniupnya yang masih mengepulkan asap transparan. Ia lalu kembali menyodorkannya pada Mara. “lagipula, kau juga menikmatinya, bukan?” Jantung Mara serasa mencelos. Ucapan Saga mengingatkannya pada apa yang mereka lakukan semalam. Ia tak bisa berhenti mendesah karena sentuhan yang Saga berikan. Tiba-tiba suara bel terdengar membuat perhatian Saga teralihkan. Ia pun meletakkan sup Mara kembali ke atas nampan berniat melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi begini. Dan saat ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan sosok tamu yang berdiri di hadapan membuatnya bersyukur dirinya yang membuka pintu, bukan Mara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD