13. Nyeri Perut

1112 Words
Pria itu terkejut hingga matanya melebar menemukan Saga berdiri menyambutnya. “A- Anda ….” “Ada yang bisa kubantu? Pak Surya,” ucap Saga. Pria yang berdiri di hadapan Saga adalah Surya, si pengacara terkenal, Om dari Sonia manajer Riky dan datang sesuai permintaan keponakannya itu. Saga dan Surya saling mengenal membuat Surya terkejut menemukan Saga di rumah calon terdakwa. “Tuan Kaisar, saya begjtu terkejut. Saya pikir saya salah lihat. Tapi, ini benar Anda,” ucap Surya seraya mengulurkan tangan menjabat tangan Saga. “Apa kedatanganmu ke sini atas permintaan aktor tak laku bernama Riky?” tanya Saga setelah menerima jabat tangan Surya. Pertanyaan Saga kembali membuat Surya terkejut. “Anda mengenalnya?” tanya Surya. Ia masih belum sadar bahwa orang yang ingin Riky penjarakan adalah Saga. Tentu saja ia tidak menyadarinya karena ia tahu siapa Saga sebenarnya. Saga berdecak. “Dia belum menyerah juga,” batinnya. “Katakan padanya, jika dia masih ingin di dunia hiburan, berhenti membuat masalah,” ucap Saga. Kerutan di dahi Surya tampak samar. Ia mulai menemukan titik terang. “Apa mungkin, Anda … adalah orang yang klienku maksud?” tanya Surya hati-hati. “Kau datang untuk berurusan dengan orang yang tidak kau kenali wajahnya?” tanya Saga sarkas. “Maaf, Tuan Kaisar. Manajernya adalah keponakanku dan dia–” Saga mengangkat tangan setengah ke udara sebagai isyarat agar Surya diam. Meski ia pengacara terkenal, tapi ia bak harimau kehilangan taring di hadapan Saga karena tahu Saga adalah cucu kesayangan konglomerat Salim Kusuma. “Terserah bagaimana caranya, buat pria itu berhenti mencari urusan denganku,” kata Saga sebelum akhirnya menutup pintu. “A- tu- tunggu–” Ucapan Surya terpotong saat pintu di hadapannya tertutup rapat. Namun, tiba-tiba pintu kembali terbuka saat Saga mengatakan, “Tapi jangan biarkan dia tahu siapa aku. Jika tidak, aku akan melaporkannya pada kakekku dan kau, akan tahu akibatnya.” Saga kembali menutup pintu setelah mengatakan itu. Belum saatnya ia membuka identitas sebenarnya entah itu pada Mara atau orang-orang di sekitarnya. Surya bergeming, tetap berdiri di tempat selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi Sonia. “Halo, Om. Bagaimana?” tanya Sonia dari seberang sana. “Kali ini Om tidak bisa bantu.” “Hah? Apa? Kenapa?” “Om harus mengurus kasus lain yang lebih penting. Dan katakan pada Riky untuk berhenti melanjutkan masalah ini.” “Apa? Tapi kenapa, Om?” Surya tak berniat memberi Sonia penjelasan. Ia segera menutup panggilan lalu melangkah pergi dari sana. Di tempat Sonia, ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang Surya katakan. Jika memang benar seperti itu alasannya, harusnya Om-nya itu mengatakannya sebelumnya. “Ada apa?” tanya Riky. “Om Surya mundur. Dia tidak bisa mengurus kasusmu,” jawab Sonia. Mata Riky nyaris melotot. “Apa? Bagaimana bisa?!” geramnya. “Aku tidak tahu. Om Surya bilang dia ada kasus yang lebih penting,” ujar Sonia. “tapi aku heran, jika benar begitu, kenapa Om Surya tidak mengatakan apa-apa padaku sebelumnya? Riky tampak berpikir. Sebelumnya polisi angkat tangan, dan sekarang Surya. Hal itu pun membuatnya bertanya-tanya, merasa penasaran. Ia pun berpikir ini mungkin ada hubungannya dengan Mara. “Sewa detektif untuk memata-matai Mara dan sopir brengseknya itu,” perintah Riky. Sonia hanya diam menatap Riky dengan pandangan sulit diartikan. “Rik, bisakah kau berhenti terobsesi dengan Mara? Masih untung saat itu Mara tidak tahu apa yang sudah kau lakukan. Tapi–” “Berisik. Kenapa kau berisik sekali? Kau hanya manajerku, aku yang menggajimu. Lakukan saja apa yang aku katakan,” potong Riky. Sonia hanya diam. Sekali lagi untuk kesekian kalinya, Riky membantah saran yang ia berikan. Jika bukan karena memiliki perasaan pada Riky, ia mungkin sudah lama pergi. Ya, Sonia mencintai Riky meski tahu sifat buruknya. Meski Riky kerap kali bicara hingga berbuat kasar, ia tak bisa menghapus perasaannya. Kembali pada Saga, ia kembali ke kamar Mara dan seulas senyum tipis tercipta saat menemukan mangkuk sarapan Mara telah kosong. Ia pikir Mara tetap jual mahal dengan tidak menyentuh makanannya, tapi rupanya tidak. Samar-samar suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi membuat Saga mengarah pandangan. Di dalam kamar mandi sendiri, Mara tengah membersihkan diri dari sisa keringat semalam, membersihkan sisa-sisa jejak tubuh Saga pada tubuhnya sambil terus menghela napas saat menemukan jejak kepemilikan yang Saga tinggalkan. Bukan hanya di area leher, tapi juga di area dadanya hingga paha. Tiba-tiba ringisan samar terdengar saat Mara membersihkan area sensitifnya, membersihkan sisa-sisa kebringsan Saga semalam. Ringisan pun kembali terdengar saat perut bawahnya tiba-tiba terasa nyeri. Kadang kali Mara memang merasakannya, tapi kali ini nyerinya lebih terasa membuatnya sedikit khawatir. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan janin. Singkat waktu, Mara telah tampil rapi dengan outfit casualnya. Mengambil tas, ia menyiapkan apa saja yang ia perlukan. Tak lupa, ia membawa topi dan masker. Ia berniat pergi ke klinik untuk memeriksakan kandungan. “Mau ke mana?” Mara begitu terkejut saat Saga muncul di depannya kala ia membuka pintu kamar. “Bukan urusanmu,” jawab Mara lalu berjalan melewati Saga. Namun, langkahnya terhenti saat Saga menahan tangannya. “Aku antar,” ucap Saga. “Tidak perlu. Aku mau bawa mobil sendiri,” kata Mara seraya menarik tangannya. Akan tetapi, Saga menahannya lebih kuat. “Apa yang kau inginkan?!” ucap Mara yang mulai kesal. “Entah apa alasanmu, kau ingin menjaga calon anakku. Jadi aku juga akan melakukan hal serupa,” kata Saga dengan raut wajahnya yang datar, tapi terlihat serius di mata Mara. Mengingat Mara menghabiskan sarapannya, ia yakin Mara melakukan itu bukan semata karena dirinya kelaparan, tapi demi kandungannya. “Kau mau berapa?” ucap Mara. “katakan kau mau berapa, aku akan memberikannya. Tapi kita akan bercerai dan jangan pernah muncul dalam hidupku, dan anggap kita tak pernah bertemu.” Saga terdiam sejenak menyelami raut wajah Mara sekarang. “Apa kau melihat segala sesuatu dari uang? Aku tidak butuh uangmu,” ucap Saga. Mara menepuk jidat dan tampak frustasi. Rasanya ia menyesal sudah memilih Saga sebagian suami bayarannya. Ia pun merutuki kebodohannya dalam hati. Setelah mendesah berat, Mara kembali menatap Saga. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya. “kau bilang membutuhkan uang untuk pengobatan adikmu, apa itu semua hanya rekayasa?” “Aku tidak pernah bilang membutuhkan uang untuk adikku,” kata Saga. “berhenti membicarakan uang dan omong kosong ini. Jika kau mau pergi, aku akan mengantarmu,” ujarnya seraya menarik tangan Mara. Tiba-tiba Mara memegangi perutnya saat rasa nyeri kembali terasa. Melihat itu membuat Saga merasa cemas. “Ada apa? Kenapa perutmu?” tanya Saga dengan wajah pucat dan rasa khawatir berlebih. Mara berusaha menahan nyeri itu, dan tak ingin hal buruk terjadi pada calon buah hatinya, ia pun terpaksa meminta Saga mengantarnya ke klinik segera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD