"Kakek!”
Wanita tinggi itu berjalan cepat ke arah ranjang.
“Kakek, kakek baik-baik saja? Seseorang memberitahuku kakek di rumah sakit jadi aku segera ke sini,” ucapnya yang tak lain adalah Nadira, wanita yang selama ini mengejar-ngejar Saga.
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Salim. Ia pikir, mungkin Randy.
“Randy, Kek. Jadi aku langsung buru-buru ke sini. Kakek baik-baik saja? Ya ampun, aku sampai lupa tidak bawa apa-apa karena khawatir dengan kakek,” ucap Nadira dengan wajah begitu cemas.
Salim hanya diam dan memperhatikan Nadira dengan seksama. Nadira cantik, bak boneka Barbie, tapi kecantikannya hasil meja operasi. Hidungnya, bibirnya, rahangnya, semua palsu begitu juga buah dadanya, pinggulnya, dan bokongnya. Sangat berbeda dengan Mara. Wajah Mara cantik khas asia. Hidungnya mancung dari lahir, bibirnya tipis. Buah dadanya tidak terlalu besar, pun tidak kecil, berpadu sempurna dengan bentuk tubuhnya dengan warna kulit sawo matang.
Kerutan di dahi Nadira tampak samar melihat Salim memeprhatiakannya.
“Kek, ada apa?” tanya Nadira kemudian duduk di kursi.
“Ah, tidak ada. Kakek hanya sedang berpikir, kau sangat cocok dengan Kaisar.”
Wajah Nadira tampak bersemu. Ia tersenyum malu. Namun, senyumnya perlahan lenyap digantikan dengan wajah sendu.
“Kakek benar. Tapi, Kek, sampai sekarang Kaisar terus mengabaikan aku,” ucap Nadira mengadu dengan wajah sendu. “Kakek, tolong kakek bujuk Kaisar agar dia segera menikahiku. Memangnya kakek tidak kasihan padaku? Kakek bilang aku ini yang paling cocok dengan Kaisar, kan.”
“Kakek sudah berusaha,” kata Salim. “tapi kakek tidak bisa memaksanya.”
“Selalu saja,” batin Nadira mengumpat dalam hati.
“Um, Kek, Nadira ada ide,” ucapnya merasa ini adalah saat yang tepat membujuk Salim. “bagaimana kalau kakek pura-pura sakit dan meminta Kaisar menikah denganku? Aku yakin, Kaisar tidak akan menolak.”
Salim hanya diam di mana dalam kepala tengah membandingkan antara Nadira dan Mara.
“Nadira, apa kau sangat mencintai Kaisar?” tanya Salim.
“Eh? Kek, kenapa masih bertanya? Tentu saja, Kek. Jika tidak, mana mungkin aku mau menunggu Kaisar selama ini? Di luar sana banyak pria yang mengejarku, Kek, tapi aku tetap memilih Kaisar,” ucap Nadira.
“Bagaimana jika sampai kapanpun dia tidak menerimamu?”
“Kek, apa yang kakek katakan? Kaisar pasti akan menerimaku, Kek. Mungkin Kaisar belum mencintaiku sekarang, tapi aku yakin, dia akan mencintaiku nanti setelah menikah.”
Salim menghembuskan napas berat. Setiap kali bertemu, yang Nadira bahas hanya agar ia memaksa Saga mau menikahinya membuatnya lama-lama malas meladeninya.
“Kek, bagaimana ideku tadi?” tanya Nadira. Salim belum memberinya jawaban atas ide agar Salim pura-pura sakit.
Di lain sisi, Saga masih berhadapan dengan Mara. Saga yang masih syok dengan apa yang ia dengar, seakan-akan kehilangan kewarasan.
“Mana,” kata Mara seraya menengadahkan tangan, meminta kunci mobil yang Saga bawa.
Alis Saga berkerut, tak tahu maksud Mara. Mungkin otaknya masih nge-lag.
Mara menghela napas berat. “Kunci mobil. Berikan kunci mobilnya,” ucap Mara.
Saga mengambil kunci mobil dari saku celana, tapi bukan untuk memberikannya pada Mara.
“Biar kuantar.”
“Tidak. Aku mau pergi sendiri.”
“Kau meninggalkan aku di sini?”
“Kakekmu di dalam. Kenapa tidak menemaninya saja?” kata Mara lalu mengambil paksa kunci mobil di tangan Saga.
Saga kecolongan. Mara berhasil mengambil kunci mobilnya dan segera masuk lalu tancap gas, benar-benar meninggalkan Saga.
Saga masih berdiri di tempat sebelum akhirnya mengacak rambutnya dan nyaris berteriak memaki kakeknya.
Saga bergegas memasuki gedung kembali menemui kakeknya. Sesampainya di sana, ia merasa menyesal karena harus bertemu Nadira.
“Kai.”
Wajah Nadira tampak cerah saat Saga tiba. Ia pun segera menghampiri Saga yang masih berdiri di depan pintu.
“Kai, akhirnya kau datang,” ucap Nadira seraya merangkul lengan Saga.
Saga merasa risih. Tentu saja, karena Nadira seolah sengaja menjepit lengannya dengan buah dadanya.
“Lepas,” kata Saga seraya menarik paksa tangannya. Ia segera menghampiri sang kakek berniat bertanya maksud kakeknya bicara tak masuk akal.
Nadira menghentak kaki kesal dan mengikuti Saga di belakangnya. Namun, langkahnya terhenti saat Saga menunjuknya.
“Keluar,” kata Saga tegas.
“Apa? Tapi, Kai. Aku–”
“Aku bilang, keluar,” ucap Saga kembali dengan suara lebih dingin dari sebelumnya.
Nadira kembali menghentak satu kaki, merasa kesal. Ia pun merengek pada Salim meminta pertolongan.
“Kek, lihat Kaisar. Dia mengusirku,” ucap Nadira mengadu, merengek seperti anak kecil kehilangan balon.
Saga mendecih kasar. Ia benar-benar benci melihat tingkat manja Nadira.
“Keluarlah dulu,” kata Salim.
Nadira pikir Salim akan membelanya, tapi ia terlalu percaya diri dan akhirnya, ia pun pergi.
“Hih, dasar kakek tua. Dia sebenarnya berpihak padaku atau tidak?” geram Nadira setelah berada di luar ruangan. Kadang Salim menjinjungnya setinggi langit membuatnya merasa menjadi istri Saga adalah hal yang begitu mudah. Tapi ada kalanya kepercayaan diri yang terlalu tinggi karenanya, dipatahkan oleh Salim jua.
“Awas saja, sebentar lagi Kaisar akan jadi milikku,” gumam Nadira sebelum melangkah pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti tak jauh dari sana saat tanpa sengaja bertemu Randy yang baru keluar dari ruangan.
“Ran!” panggil Nadira seraya berlari kecil menghampiri Randy.
“Sudah ketemu kakek?” tanya Randy setelah Nadira berdiri di hadapan.
“Ya, dan sekarang kakek sedang bicara dengan kakakmu. Oh, ya, bagaimana keadaan kakek?”
“Seperti biasa,” jawab Randy diseetai kedikan bahu ringan. “kenapa? Kau mau kakek sakit lalu memaksa kakak menikahimu agar bisa sembuh?”
Mata Nadira seketika melotot. Apa Randy seorang cenayang? Seakan dia tahu apa yang baru saja ia bicarakan dengan kakeknya.
Kembali pada Saga, ia tak bisa menahan kekesalannya.
“Kek! Apa maksud kakek mengatakan aku gigolo?!”
“Tidak ada. Kakek hanya ingin,” jawab Salim seperti tanpa dosa.
“Apa kakek tahu apa yang sudah kakek lakukan?!” bentak Saga yang napasnya mulai memburu tak terkendali. “Kakek pikir itu lelucon yang bagus? Mara bisa saja sangat membenciku, dia bahkan mungkin mengira aku berpenyakit!”
“Ya kalau dia benar-benar cinta padamu, dia harusnya menerima itu,” kata Salim kemudian berbaring memunggungi Saga.
Wajah Saga sudah merah padam hingga telinga, kekesalannya telah mencapai puncak. Namun, ia tak bisa melakukan apapun meski rasa hati ingin melempar orang tua itu ke laut.
Saat Saga masih berdebat dengan Salim, dan Randy masih bicara dengan Nadira, Mara telah berada di rumah sakit lain. Ia benar-benar melakukan pemeriksaan untuk memastikan kekhawatirannya. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter menyampaikan hasil yang telah keluar bahwa Mara dinyatakan sehat. Tak ada indikasi penyakit kelaminmenular.
“Dok, apa dokter yakin?”
“Maaf, maksud Anda? Apa kabar baik ini kabar buruk bagi Anda?” tanya dokter yang memeriksa Mara sebelumnya. Bukannya bersyukur, Mara seperti tak percaya dengan hasil pemeriksaannya.
“Ah, tidak. Bukan begitu, tapi ….” Mara bingung bagaimana menjelaskannya dan memilih pergi meski ia masih belum puas. Ia pun berpikir akan periksa lagi ke rumah sakit lain demi hasil yang lebih akurat.
Tak lama, Mara telah duduk di mobilnya. Ia masih cemas, masih memikirkan Saga dan apa yang kakeknya sampaikan.
Mara menyandarkan punggungnya, satu tangannya memijit pelipis dan satu tangannya meremas setir. Jika tahu semua akan serumit ini, ia menyesal sudah membawa Saga dalam kehidupannya.
“Mel, bangun lah. Kau benar, harusnya aku mendnegarkanmu,” monolog Mara lalu memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiran walau rasanya tak mungkin.
Tiba-tiba ponsel dalam tas Mara berbunyi. Mengambil benda itu, ia menepuk jidat dan segera tancap gas pergi dari sana setelah melihat apa yang tertera pada layar.