Mara menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan dari mulut sebelum akhirnya memulai live di akun sosial medianya. Kali ini bukan sekedar live biasa tapi juga untuk mempromosikan produk yang sudah bekerjasama dengannya. Dengan wajah cerah dihiasi senyuman ramah dan hangat, Mara menyapa penonton yang mulai berdatangan.
“Sebelum memulainya, aku minta maaf karena terlambat memulai live kali ini. Aku baru saja dari rumah sakit. Mungkin kalian sudah tahu apa yang terjadi pada manajerku. Ya, dia kecelakaan kemarin dan sampai hari ini belum siuman. Dengan sangat, kuharap teman-teman bisa mendoakan agar ia segera siuman dan pulih seperti sedia kala. Jujur saja, aku sangat terpukul atas kejadian ini,” ucap Mara lalu dilanjutkan mencurahkan isi hatinya tentang Famela.
Hingga detik itu berlangsung, netizen telah memenuhi kolom komentar dengan doa yang ditujukan untuk Famela. Beberapa juga memberi dukungan dan semangat. Akan tetapi, beberapa menit kemudian kolom komentar mulai dipenuhi komentar hujatan dan provokatif.
“Sahabat sedang kritis, masih bisa live streaming?”
“Tidak punya empati.”
“Mana masih sempat-sempatnya jualan pula.”
“Suamimu jelek.”
“Apa suamimu gelandangan?”
“Aku yakin suamimu miskin dan jelek.”
Jantung Mara serasa diremas membaca komentar buruk yang mulai menyerbu. Meski beberapa fans membalas dengan komentar membelanya, tapi komentar jahat semakin banyak muncul.
Tak lama kemudian, Mara mematikan kamera, mengakhiri live streamingnya lebih awal daripada biasanya. Biasanya ia akan live hampir 1 jam dengan skema yang sudah Famela atur. Namun, kali ini ia hanya mampu bertahan kurang dari setengah jam dikarenakan banyaknya komentar negatif.
“Ada apa sebenarnya?” batin Mara sambil menggigit ibu jari. Padahal ia buru-buru pulang untuk jadwal live, tapi harus menerima kenyataan pahit ini. Selama ini ia hampir tak pernah mendapat komentar buruk, mungkin ada tapi tak seberapa, tak sebanyak barusan.
Mara memijit kepala, ia mulai khawatir dan cemas jika hal ini terus berlanjut akan mempengaruhi karirnya.
Tiba-tiba suara bel terdengar membuat Mara bangkit dari duduknya. Ia pun berjalan menuju pintu depan dan tanpa berpikir segera membukanya.
Alis Mara berkerut tajam. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya menemukan Riky berdiri di hadapan.
Riky berdecak. “Tentu saja menemui sopirmu itu. Suruh dia keluar. Aku ingin meminta dia bertanggung jawab,” ucapnya seraya menunjukkan kedua tangan yang jari-jarinya terbalut perban.
“Dia tidak di rumah,” kata Mara.
“Apa? Jangan bohong. Mobilmu ada,” balas Riky sambil menunjuk mobil Mara.
“Dia sudah kupecat. Lebih baik pergi dari sini,” ucap Mara seraya hendak menutup pintu. Sebelumnya ia tak pernah bersikap ketus seperti ini pada siapapun, tapi kali ini ia mulai kesal pada Riky.
Riky menahan pintu menggunakan kaki, menahan Mara menutup pintu.
“Kalau begitu kau yang harus bertanggung jawab, Mar. Dia masih sopirmu saat menganiayaku.”
Mara menatap Riky tajam. Ia pikir Riky telah menunjukkan sifat aslinya.
“Berapa biasa berobatnya? Biar kuganti.”
Riky tersenyum sinis. “Biaya berobat? Kau pikir itu cukup? Gara-gara tanganku begini, aku tak bisa syuting. Kau harus mengganti kerugian yang kualami.”
“Berapa?” tanya Mara dengan wajah mengeras. Bukan bermaksud sombong, hanya saja ia ingin berhenti berurusan dengan Riky.
Senyum remeh terpatri di bibir Riky. “Mar, kenapa sekarang kau jadi sombong sekali? Kita ini sama, bukan artis papan atas, bukan artis terkenal yang selalu jadi pemeran utama. Kau pikir aku tidak tahu berapa bayaranmu? Bahkan aku bisa menebak berapa isi rekeningmu sekarang.”
Tangan Mara mengepal kuat di sisi tubuhnya. Yang Riky katakan memang benar, tapi bukan berarti ia akan diam.
“Begini saja, Mar. Aku punya saran,” ucap Riky yang mulai kembali menyunggingkan seringai tipis. “apa suamimu di rumah? Jika tidak, kau bisa mempersilakan aku masuk, lalu kita bisa bicara masalah ini baik-baik di atas kasur. Kau tahu maksudku, kan?”
Mata Mara melebar. Ia terkejut bahwa rekan yang selama ini ia anggap baik, dan memiliki ikatan pertemanan dengannya rupanya sama seperti pria hidungbelang pada umumnya.
Riky tertawa melihat ekspresi dan reaksi Mara. Sudah terlanjur, jadi ia tak akan memakai topengnya lagi. Ia sudah kesal karena gagal memberikan Saga pelajaran, dan ia sudah tak sabar ingin mencicipi Mara.
“Mar, Mar, ayolah, jangan melihatku seperti itu seperti kau sangat terkejut. Kita hidup di dunia yang sama, semua orang punya wajah dua, beda di dunia nyata dan di kamera. Aku yakin, kau juga tidak seperti yang kau tunjukkan di layar kaca. Wanita murni yang polos, baik, lemah lembut, anggun, semua itu pasti hanya palsu.”
Mara menepis tangan Riky saat pria itu berani menyentuh pipi saat menyebut sisi dirinya di layar kaca.
Riky meringis, tepisan Mara cukup kasar membuat jari-jarinya terasa nyeri.
“Kau gila, Rik! Pergi dari sini!” teriak Mara seraya memaksa menutup pintu tak peduli kaki Riky terjepit. Namun, tiba-tiba pintu terdorong kuat membuat Mara terdorong hingga nyaris jatuh. Rupanya Riky tak sendiri, ia bersama Sonia yang sedari tadi sengaja tak menunjukkan diri.
Riky masuk ke dalam diikuti Sonia yang menutup pintu. Sonia lalu mendekati Mara dan meraih tangannya.
“Apa yang kau lakukan?!” sentak Mara. Namun, Sonia dengan kasar menyatukan tangan Mara di balik punggungnya dan ia ikat.
“Lepaskan! Apa yang kau lakukan?!” teriak Mara berusaha melepaskan tangannya. Akan tetapi Sonia mengikat tangannya begitu kuat. Wanita itu seperti memiliki kekuatan melebihi wanita pada umumnya hingga Mara tak bisa melakukan apapun.
Riky menyeringai tipis. Sonia bukan hanya manajernya, tapi juga bodyguard setia yang bisa ia manfaatkan. Meski usianya lebih tua darinya, yang penting wanita itu sangat bermanfaat.
Sonia menyeret Mara ke kamar terdekat, kamar yang merupakan kamar Saga. Ia lalu mendorong Mara ke ranjang dan mencoba melepaskan pakaiannya satu persatu. Namun, Mara memberontak. Mara meronta dan berteriak.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Mara. Saking kerasnya, Mara sampai kehilangan suara merasakan sakit, panas dan perih di pipinya.
“Diam saja dan lakukan apa yang Riky mau. Jika tidak, akan kusebar foto bugilmu,” ancam Sonia dengan suara pelan. Ia melucuti pakaian Mara bukan hanya untuk memudahkan Riky menikmatinya, tapi juga untuk ia ambil foto guna mengancamnya.
Tubuh Mara lemas kala kepalanya mulai terasa berat. Dan meski ia berusaha mempertahankan kesadaran, pada akhirnya ia pingsan.
Riky tertawa puas. Bukannya merasa kasihan, ia justru merasa ini kesempatan emas.
“Cepat ambil fotonya. Aku sudah tak sabar,” kata Riky saat Sonia mengambil foto-foto Mara yang kini hanya memakai pakaian dalam. Dengan pingsannya Mara ia semakin mudah melucuti pakaiannya dengan gunting agar lebih cepat.
Di lain sisi, Saga keluar dari ruangan kakeknya dengan hela napas berat lolos dari mulut. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya kakeknya inginkan.
Saga memijit pangkal hidungnya. Apapun keinginan kakeknya, ia harap kakeknya tidak memberitahu Nadira tengang Mara. Ini belum saatnya.
Saga tersentak saat ponsel dalam saku celananya berdering. Merogoh saku celananya, diambilnya ponselnya dan mengangkat panggilan. Dan begitu pemilik suara di seberang sana bicara, matanya melebar, kemarahan langsung terpancar di wajah. Dan di detik itu juga, ia berlari tunggang langgang bak dikejar bom waktu yang siap meledak.