19. Remukkan hingga Hancur

1301 Words
Brak! Saga membuka pintu lebar dengan napas terengah. Setelah menempuh perjalanan secepat kilat, ia sampai di rumah Mara dan tak menunggu waktu segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Mata Saga melebar kala pandangannya menangkap sosok Riky yang tergeletak di lantai ruang tamu. Ia tak sendiri, melainkan bersama Sonia yang juga pingsan. “Tuan, Nyonya di kamarnya,” ujar Toni, anak buah Saga yang membereskan Riky dan Sonia bersama 3 rekan lainnya. Saga sengaja menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi Mara dan mereka sengaja datang sedikit terlambat demi mendapatkan bukti. Saga hanya diam dan bergegas ke kamar Mara. Sesampainya di sana, ia menemukan Mara terbaring di ranjangnya ditemani seorang dokter yang tiba beberapa menit sebelum Saga. Ada pula anak buah Saga yang berdiri tak jauh dari ranjang, seolah mengawasi dokter agar ia melakukan tugasnya dengan benar. “Bagaimana keadaannya?” tanya Saga seraya berjalan ke arah ranjang. Dokter itu tak segera menjawab, tetap melanjutkan kegiatan memeriksa Mara. Setelah selesai, ia memberitahu Saga bahwa Mara baik-baik saja, begitu juga dengan kandungannya. Namun, sekali lagi berpesan agar lebih menjaganya. Saga hanya diam, tapi tangannya terkepal kuat. Ia lalu pergi dari sana untuk membuat perhitungan pada Riky. Sebelumnya saat Sonia telah mengambil banyak foto Mara yang tanpa pakaian, ia menyiapkan kamera sebelum pergi dari kamar, membiarkan Riky mengeksekusi Mara sesuai keinginan. Namun, tepat saat ia keluar kamar, dan Riky merangkak ke atas ranjang setelah melepas seluruh pakaian, anak buah Saga tiba dan segera membuat perhitungan pada keduanya. “Siapa kalian?” ucap Sonia yang terkejut saat menemukan 4 pria seperti telah menunggunya. Keempat pria itu berdiri beberapa langkah di depan pintu dengan jarak masing-masing 2 langkah seakan bersiap mengepung. Tak ada yang bicara, 1 pria yang berdiri di ujung kanan, segera menangkap Sonia, menyatukan kedua tangannya di balik punggung dan mengikatnya. Sonia tak sempat mengelak, dan saat berusaha melepaskan diri, 1 pria lainnya menamparnya. Tamparannya begitu keras hingga ia jatuh dan kehilangan kesadaran dengan darah keluar dari sudut bibirnya. Di dalam kamar, Riky tak berhenti mengagumi tubuh Mara. Semuanya sempurna. Ia seolah lupa bahwa Mara telah menikah, sepertinya tak peduli juga. “Mara … harusnya dari dulu aku melakukan ini. Kau sangat seksi,” ucap Riky seraya membelai wajah Mara dengan tangannya yang terbalut perban. Brak! Pintu kamar terbuka lebar membuat Riky segera menoleh. “Siapa kalian!” teriak Riky melihat 4 pria masuk. Riky bangkit dari atas tubuh Mara menatap keempat pria itu dengan wajah pucat. Keempatnya bertubuh tinggi tegap dan menatapnya tajam seperti ingin menghabisinya. Langkah Toni berhenti tepat di tepi ranjang dan tanpa aba-aba langsung mengulurkan tangan kanannya mencekik leher Riky. Cekikannya begitu kuat hingga kedua mata Riky melotot. Riky berusaha melepaskan cekikan Toni, tapi percuma kekuatannya tak seberapa apalagi dengan jari-jarinya yang belum sembuh. Saat Toni hampir menghabisi Riky, rekannya segera mengurus Mara, menutupi tubuh Mara dengan selimut lalu membawanya pergi ke kamarnya sendiri. *** Saga menatap Riky yang kini terikat di kursi. Setelah mendengar semuanya dari Toni, ia memutuskan memberi Riky pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan karena telah berani melihat tubuh istrinya. Byur! Toni menyiram Riky dengan seember air hingga akhirnya pria itu bangun. Ia gelagapan seperti hampir tenggelam. Napas Riky terasa besar dan berat dan saat tamparan mendarat di pipi, ia baru sadar sepenuhnya akan apa yang telah terjadi. “Kau– kau,” ucap Riky melihat Toni berdiri di depannya. Toni menyingkir dari hadapan Riky membuat Riky terkejut saat menemukan Saga duduk di kursi raja beberapa langkah di depannya. “Si- siapa kau!” teriak Riky. Saat ini Saga memakai topeng yang membuat Riky tak mengenalinya. Saga hanya diam sambil memukul pelan tongkat t di tangan kanannya pada tangan kirinya. Riky mulai berkeringat tapi tetap berusaha menyembunyikan ketakutan. Namun, teringat ia hampir mati karena dicekik oleh Toni membuat ketakutannya terpancar jelas. Saga bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Riky. Langkahnya lalu berhenti tepat di depannya. Riky menelan ludah susah payah menatap Saga yang bersembunyi di balik topengnya. Namun, tatapan tajam di baliknya masih terlihat jelas. “Ja- jangan bunuh aku. Katakan apa maumu dan akan kuberikan,” ucap Riky dengan suara bergetar. Saga hanya diam lalu mengangkat tongkat t di tangannya dan dalam satu kedipan mata, tongkat itu menghantam bahu Riky membuatnya seketika berteriak kesakitan. Brugh! Lagi, Saga menghantam bahu kanan Riky setelah sebelumnya bahu kiri. Belum puas, ia memukul kaki Riky bergantian mulai dari paha hingga ujung kaki secara bergantian, kanan dan kiri. Teriakan kesakitan Riky pun kian terdengar memilukan. Klang! Saga menjatuhkan tongkat di tangan setelah sekujur tubuh Riky penuh dengan jejak merah bekas hantaman tongkatnya. Riky juga sudah lemas. Saga mengangkat tangan ke udara memanggil Toni. “Jangan biarkan dia mati,” perintah Saga. “Siap, Tuan,” kata Toni dan berniat membawa Riky untuk diobati. Namun, sebelum itu Saga berbisik di telinga Riky. “Berani mengganggu istriku, kuhancurkan tubuhmu hingga remuk.” Riky mengangguk lemah di sisa kesadarannya yang menipis sambil menahan perih dan sakit di sekujur tubuhnya. Sepertinya, ia tak akan berani lagi mengganggu Mara. Di lain sisi, Mara membuka mata yang terasa berat dan terkejut saat menemukan langit-langit kamarnya yang menyambutnya. Ia pun berusaha mengingat-ingat dan segera bangun menegakkan punggungnya teringat ia pingsan setelah Sonia menamparnya. “Di- di mana dia sekarang?” batin Mara. Mara menunduk dan menemukan tubuhnya tekan memakai pakaian. Seketika rasa penasaran muncul, mungkinkah ada yang sudah menyelamatkannya? Tapi siapa? “Sudah bangun.” Mara tersentak kala suara Saga terdengar. Pria itu berjalan memasuki kamar sambil membawa makanan. “Ka- kau, sejak kapan kau sampai?” tanya Mara sambil meremas kerah kemejanya. “Sejak beberapa waktu yang lalu,” jawab Saga. Saga duduk di tepi ranjang mengabaikan tatapan penuh selidik Mara padanya. “Kau mencarinya?” tanya Saga seolah bisa membaca apa yang Mara pikirkan. “tenang saja dia belum melakukan apapun padamu,” ucapnya kemudian. “Jadi kau yang sudah menyelamatkan aku?” tanya Mara dengan ragu. “Anggap saja begitu,” kata Saga lalu mengambil sesendok nasi dan daging untuk Mara, berniat menyuapinya. “Di mana dia sekarang?” tanya Mara. “tunggu. Sonia. Dia sudah–” “Aku sudah hancurkan ponselnya,” potong Saga. Mara terdiam. Ia ingat jika Sonia mengancam akan menyebarkan foto bugilnya. “Jangan bahas mereka. Sebaiknya makan,” kata Saga lalu menyodorkan sesendok nasi dan daging pada Mara. Namun, Mara menolak. “Bagaimana bisa aku percaya? Kau bisa saja bekerjasama dengan mereka. Berapa mereka membayarmu!” tuduh Mara. Saga menatap Mara dengan pandangan tak terbaca lalu mengatakan, “Aku tidak butuh uang. Aku bahkan tidak menuntut bayaranku padamu.” “Karena kau gigolo!” Saga menghela napas berat. Ia lalu meletakkan makan siang Mara yang terlambat ke atas nakas dekat tempat tidur dan kembali duduk ke tempat sebelumnya. “Aku bukan gigolo,” ucap Saga. “Tapi–” “Jangan percaya ucapan tua bangka itu. Dia ingin kita berpisah.” Mara menatap Saga dengan seksama dan merasa, pria itu serius seserius ucapan sebelumnya. “Dia mau aku menikah dengan wanita pilihannya,” ujar Saga. Karena kakeknya sudah terlanjur bertemu Mara, ia tak akan menutupinya lagi tapi tetap tak mengungkap identitasnya. Mara terdiam cukup lama tanpa mengalihkan pandangan dari Saga sampai tiba-tiba ia memijit pangkal hidungnya sambil mendesah berat. “Kalau masih tak percaya, kita bisa periksa. Kau yang tentukan di rumah sakit mana agar tak mengira aku membayar dokter agar dinyatakan sehat,” ujar Saga. “jadi tenang saja, anak kita tidak akan punya penyakit menular begitu juga dirimu.” Mara yang sebelumnya menyembunyikan wajah di balik kedua tangan yang menutupinya, seketika menatap Saga dengan alis berkerut penuh rasa terkejut dan penasaran. Kata-kata Saga seolah menunjukkan bahwa pria itu tahu ia baru saja memeriksakan diri ke rumah sakit lain. “Kau, bagaimana bisa ... kau tahu?” tanya Mara, heran dari mana Saga mengetahuinya. “kau ini, sebenarnya siapa?” tanyanya kembali
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD