"Jangan mengulang pembicaraan yang sudah pernah kita bahas,” ucap Saga.
“Aku yakin ada yang kau sembunyikan begitu juga dengan kakekmu,” ucap Mara dengan tangan bersedekap d**a. “sekarang, jawab, bagaimana kau tahu aku pergi periksa tadi dan bagaimana kau bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan aku. Kau bukan dukun yang tahu semua yang kulakukan, kan?”
“Kau tidak senang kuselamtkan? Kau lebih senang digagahi pria b******k itu?”
Mata Mara melotot, menunjukkan ketidak senangannya dengan ucapan Saga.
“Keluar,” ucap Mara tiba-tiba. “aku tak peduli lagi siapa kau atau apa yang kau sembunyikan,” sambungnya tegas.
Saga berdecak. “Apa ini caramu berterima kasih?” ucapnya bernada kesal. Meski bukan dirinya yang menyelamatkan Mara, tapi jika bukan karena ia menyiapkan orang untuk menjaganya, entah apa yang terjadi padanya sekarang.
“Untuk apa aku berterima kasih pada orang yang membohongiku? Cepat pergi!”
Mara mendorong bahu Saga, menyuruhnya menyingkir darinya. Kalimat yang Sangat katakan sebelumnya sudah terlanjur membuatnya sangat kesal.
“Ya! Baiklah. Aku akan jujur!” ucap Saga lantang membuat gerak tangan Mara yang mendorongnya terhenti.
“Aku memang bukan pengantar makanan. Orang tuaku juga tidak bangkrut dan soal kakek, dia memang kakekku tapi kami tidak miskin. Jadi berhenti percaya kalau aku jadi gigolo hanya untuk membiayai pengobatannya atau apapun,” jelas Saga panjang lebar berharap dengan begini Mara tak lagi mencurigainya. Berharap dengan sedikit ketransparan bisa membuat hubungan mereka sedikit lebih baik.
“Kakekku kaya dan tujuanku menyamar, semata ingin tahu apa kau hamil anakku atau tidak. Karena aku ingin bertanggung jawab,” ucap Saga melanjutkan ucapan sebelumnya.
Mara hanya diam. Namun, beberapa detik kemudian melayangkan tamparan pada Saga.
“Apa yang kau lakukan? Aku sudah berkata jujur,” kata Saga sambil memegangi pipi.
“Itu bayaranmu yang sudah menipuku,” ucap Mara. Namun, saat ingatannya kembali dibawa saat ia merasa familiar dengan aroma Saga di awal pertemuan, ia merasa bersalah. Semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Saga, tapi kesalahannya. Ia yang bodoh percaya saja dengan apa yang Saga katakan.
“Jika seandainya aku muncul, mengakui bahwa aku adalah pria hari itu, apa pernikahan akan terjadi?”
Mara hanya diam, mengalihkan pandangannya. Ia yakin itu tak akan terjadi karena ia masih punya urat malu. Hari itu dirinya yang memaksa Saga, sangat memalukan jika ia harus berhadapan dengannya dan mengakui kesalahannya.
“Kita sudah sama-sama dewasa, berhentilah bersikap kekanakan. Meski kau tidak suka, anggap saja semua untuk anak dalam perutmu.”
Mara tetap diam dan kini meremas perut ratanya. Saga benar, sejak awal niatnya mencari suami bayaran adalah demi calon buah hatinya, setidaknya anaknya kelak memiliki status bahwa ia adalah anak dari seseorang, bukan anak haram seperti dirinya.
Mara terdiam cukup lama memikirkan semuanya. Berusaha menjadi lebih dewasa.
“Maaf,” ucap Mara tiba-tiba dengan suara bergetar dengan mata tampak berair. “sejak perjanjian dibuat, kau hanya harus jadi suami bayaran. Tentang siapa, tujuanmu, atau apa yang kau lakukan itu sama sekali bukan urusanku selama rahasia ini tetap tertutup,” sambung Mara lalu mengusap air mata yang mulai menetes.
Saga tak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan, yang ada di kepalanya sekarang, ia ingat pesan dokter bahwa mood wanita hamil bisa berubah-ubah sangat cepat.
“Harusnya aku berterima kasih karena kau membantuku menghindari sebutan anak haram pada calon anakku.”
Seperti tergerak sendiri, Saga meraih tangan Mara, menggenggam pergelangan tangannya dan menatapnya tepat pada kedua netra yang masih basah.
“Apa yang kau katakan? Tidak ada anak haram. Anak itu anakku.”
Mara tak bisa mengalihkan pandangannya di mana ia berpikir, kenapa Saga tampak sangat menginginkan anaknya?
“Ke- kenapa? Anak ini ada karena kesalahanku, harusnya kau tidak–”
“Kau pikir aku pria b******k yang senang membuang benihku pada wanita manapun?”
“Kau ingin bilang, bahwa kau pria baik-baik?”
“Tidak. Tapi aku bukan pria yang akan membiarkan darah dagingnya hidup tanpa sosok ayah.”
Mara merasa, sorot mata Saga sedikit berubah saat mengatakan kata terakhirnya. Itu membuatnya bertanya-tanya, ada apa, kenapa? Apa mungkin Saga juga tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sama seperti dirinya?
Saga melepaskan tangan Mara perlahan saat merasa ia sudah bicara terlalu jauh.
“Lupakan saja. Sebaiknya cepat makan,” kata Saga sebelum bangkit dari duduknya. Dan saat hendak melangkah pergi, ia kembali mengatakan, “kuharap kau menepati kata-katamu dengan tak lagi bersikap seperti anak-anak setelah ini.”
Setelah mengatakan itu, Saga melangkah pergi meninggalkan kamar, berpikir saat ia kembali ia telah melihat makanan Mara telah habis.
Tepat setelah Saga pergi, ponsel Mara berdering. Ia segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Pak Choir.
“Halo, selamat siang,” ucap Mara setelah panggilan terhubung.
“Selamat siang, Mara. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sejak kemarin aku berniat menghubungimu tapi terlalu sibuk.”
“Aku … baik-baik.saja, Pak. Terima kasih. Aku juga, sebenarnya aku berniat menemui Pak Choir untuk minta maaf tapi–”
“Ah, tidak perlu, Mar, tidak perlu. Saat itu kau memang tidak enak badan, jangan terlalu memikirkannya.”
Mara tersenyum kecut. Meski Pak Choir telah berkata demikian, tapi tetap saja ia masih merasa belum enak apalagi bayarannya dibayar penuh.
“Jaga kesehatan, Mar, apalagi kudengar Mela belum siupan. Aku turut prihatin.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Oh, ya, tolong sampaikan salamku pada tuan Kai– ah, maksudku, tolong sampaikan salamku pada manajer barumu. Dia waktu itu yang sigap menolongmu, segera membawa ke backstage. Kalau begitu, sudah dulu, Mar. Cepat sembuh dan ingat, jaga kesehatanmu.”
“Tu- tunggu, Pak Choir–”
Belum sempat Mara selesai bicara, panggilan telah terputus. Pak Choir seperti sengaja buru-buru mengakhiri panggilan.
Mara menurunkan ponsel dari telinga dan menatap layar ponselnya itu dengan pandangan tak terbaca. Jelas ia dengar Pak Choir menyebut sebuah nama. Kai. Kai siapa? batin Mara.
Di tempat Pak Choir sendiri, ia terlihat menepuk dadanya, jantungnya berdegup sangat kencang saat ia hampir saja menyebut nama Kaisar padahal Kaisar alias Saga sudah melarangnya bicara apapun.
“Ya ampun, hampir saja,” desah Pak Choir masih dengan mengatur napas dan menepuk dadanya.
Di lain sisi, di salah satu ruangan rumah sakit, Riky tak bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, hanya bisa meringis dan mengerang. Namun, di saat seperti ini tak ada yang bisa ia andalkan apalagi Sonia, dia sendiri mengalami luka lebam cukup serius di pipinya. Tamparan yang Toni berikan bahkan membuat beberapa giginya goyang. Pria itu seperti tak berperi kemanusiaan, menghajar seorang wanita seperti menghajar pria.
Kriet ….
Tiba-tiba suara derit pintu terdengar. Akan tetapi, rasa sakit di sekujur tubuh membuat Riky tak mampu menoleh melihat siapa yang berjalan memasuki ruangan. Perhatian Riky baru tertuju pada orang itu saat dia telah berdiri di sisi ranjang.
“Ka- kau,” ucap Riky setelah melihat orang itu dengan jelas.