Mara berusaha keras mengenyahkan pikiran bahwa Saga adalah pria yang menghabiskan malam dengannya hari itu. Namun, aroma parfumnya, jabat tangannya, membuatnya mengingat kenangan malam itu kembali.
“Kalau boleh tahu, kapan usaha keluargamu bangkrut?” tanya Mara tiba-tiba.
“Hampir satu tahun yang lalu,” jawab Saga.
Mara hanya diam. Itu artinya, memang tidak mungkin Saga. Saga tak akan mampu check in hotel yang per-alamnya bisa jutaan, dia juga tak mungkin menjadi tamu di acara tersebut karena yang Rano undang hanya dari kalangan artis dan pejabat.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan?” tanya Saga.
“Kau harus menikahi Mara,” sahut Famela. Ia lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan dokumen tentang perjanjian pernikahan yang sudah ia buat.
“Nikah … kontrak?” tanya Saga kembali setelah membaca sekilas isi dokumen perjanjian yang Famela tunjukkan.
“Yap. Sembilan bulan,” jawab Famela. “tapi sekali lagi kuingatkan, masalah ini tidak boleh bocor ke publik. Jika sampai masalah ini bocor, aku tak bisa menjamin apa kau masih bisa membiayai adikmu yang penyakitan itu atau tidak,” imbuhnya dan seketika mendapat delikan dari Mara.
“Mel.” Mara menegur Famela yang ucapannya terdengar kasar. Perhatiannya lalu beralih pada Saga. “hanya sembilan bulan dan selama itu aku akan membayarmu setiap bulan. Lima juta, apa itu cukup?”
“Pasti cukup lah, Mar. Daripada dia jadi kurir, memang berapa gajinya?” seloroh Famela. “dan ingat, kau harus berhenti jadi kurir,” pungkasnya.
“Jika aku berhenti, apa yang harus aku lakukan?”
“Terserah. Tapi publik tidak boleh tahu kalau kau itu kurir,” potong Famela. “berikan alamat emailmu. Aku akan kirimkan detail kontraknya,” ucapnya.
Saga mengeluarkan ponselnya dan tak lama menerima kiriman dokumen kontrak pernikahan dengan Mara. Ada lebih dari 15 poin yang beberapa di antaranya merugikannya.
“Jadi … aku tidak boleh menunjukkan diriku?” tanya Saga setelah membaca beberapa poin kontrak.
“Yep. Jika kau menunjukkan wajahmu, orang mungkin akan ada yang mengenalimu sebagai kurir makanan. Aku sudah mengatur semuanya, kau adalah pengusaha, dan kalian sudah berpacaran lama tapi diam-diam. Pokoknya, semuanya sudah aku atur, kau hanya tinggal menikahi Mara dan menerima bayaranmu. Beres,” jelas Famela. “sekarang, cermati detail kontraknya baik-baik dan tanda tangan segera karena, besok adalah jadwal pernikahan kalian.”
***
Singkat waktu, hanya ada Mara dan Famela dalam room setelah Saga pergi beberapa waktu yang lalu di mana ia telah menandatangani kontrak.
“Kau gila? Kenapa harus besok?” tanya Mara. Ia memang siap kapanpun, tapi ia merasa terlalu cepat.
Sambil menikmati kentang gorengnya, Famela mengatakan, “Bukankah lebih cepat lebih baik? Selain itu, kupikir kau akan senang. Kau tertarik padanya, kan?”
“Apa yang–”
“Tapi ingat, Mar, dia cuma kurir makanan dan mantan orang kaya. Jangan sampai kau benar-benar jatuh cinta padanya, bisa-bisa dia memanfaatkanmu. Jika benar dia dulu kaya, dia terbiasa hidup mewah dan saat kau jatuh cinta padanya, dia akan menjadikanmu Bank uang. Aku yakin dia hanya mokondo. Modal kont–”
Tangan Mara seketika menutup mulut Famela sebelum wanita itu bicara kotor.
“Kau bicara seakan aku mudah jatuh cinta. Selain itu, dari mana kau tahu dia mokondo? Jika memang begitu, dia tak mungkin jadi kurir, mungkin jadi gigolo,” kata Mara.
Famela menyingkirkan tangan Mara dari mulutnya. “Terserah kau saja. Tapi aku sudah mengingatkanmu. Besok setelah cek kesehatan, kalian langsung ke KUA, kecuali dia ada penyakit menular.”
Keesokan harinya, Famela mengantar Saga masuk ke rumah sakit untuk melakukan medical check up. Sementara Mara menunggu di dalam mobil.
“Hm, bagus,” ucap Famela setelah hasil dari dokter keluar dan mengatakan Saga sehat jasmani dan rohani. Tidak ada indikasi penyakit menular atau penyakit serius.
“Kalau begitu, kita ke KUA sekarang,” ucap Famela seraya menjentikkan jari, memberi isyarat Saga mengikutinya. Namun, sebelum melangkah, Saga bertanya.
“Bukankah harus ada wali? Meski hanya kontrak, tapi dalam kontrak dijelaskan pernikahan ini resmi.”
Famela yang berdiri di depan Saga, menoleh dan mengatakan, “Pakai wali hakim. Mara yatim.”
Mendengar itu, Saga tak lagi bertanya, hanya pasrah mengikuti Famela bak kerbau dicocok hidungnya.
Singkat waktu, pernikahan pun terjadi, berada di salah satu ruangan tertutup di KUA. Seperti kata Famela, Mara berwalikan hakim dan dirinya juga 2 petugas KUA yang menjadi saksi. Proses pernikahan itu terjadi cukup singkat, tapi Famela berhasil mengambil cukup banyak gambar untuk ia up ke sosial media agar tak menimbulkan kegaduhan saat kandungan Mara membesar.
Setelah proses selesai, Mara, Famela dan Saga dalam perjalan pulang di mana Saga yang menyetir.
Mara menatap buku nikah di tangan dan terus saja menghela napas berat. Ia tak pernah mengira pernikahan indah yang ia inginkan sekali seumur hidup, terjadi dengan sangat tidak spesial. Bagaimana spesial? Ia bahkan tidak memakai make up. Famela bilang, ia bisa menggunakan filter jika meng-up fotonya di sosial media. Ia juga hanya memakai kebaya sederhana harga ratusan ribu yang Famela siapkan.
Famela mengusap bahu Mara dan menatapnya iba. “Aku tahu pasti berat untukmu, Mar. Kita punya cita-cita menikah dengan pria kaya raya, mencintai dan meratukan kita, tapi dirimu justru menikah dengan pria biasa dan cara seperti ini. Hanya di KUA, tanpa pesta, tanpa tamu. Ah … rasanya aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu sekarang.”
“Kapan aku bilang mau menikah dengan pria kaya raya?” ucap Mara sambil menyingkirkan tangan Famela dari bahu. Ia lalu menyandarkan punggungnya dan melihat keluar kaca mobilnya yang berjalan dengan kecepatan sedang. “mau bagaimana lagi? Menyalahkan diri sendiri atau siapapun tidak akan mengubah keadaan. Setidaknya, dengan begini aku sudah bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah aku lakukan. Bukan seperti mereka,” ujarnya kemudian, di mana pandangannya seolah menerawang jauh.
Famela terdiam kemudian memeluk Mara dari samping. Tanpa menyebut siapa yang Mara maksud ‘mereka’, atau bertanya makna dari ucapannya, dirinya sudah sangat paham dan mengerti.
Tanpa Mara dan Famela sadari, meski Saga tampak fokus dengan kemudinya, tapi ia mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Singkat waktu, mobil Mara berhenti di depan sebuah rumah yang berada di sebuah komplek perumahan. Famela sengaja menyewa rumah itu demi sempurnanya pernikahan sandiwara yang akan Mara jalani.
“Ini kamarmu,” ucap Famela saat membuka pintu kamar tamu, menunjukkan kamar untuk Saga.
Saga hanya mengangguk kemudian masuk dan melihat setiap sudut kamar itu.
“Jika dia di sini, bagaimana dengan adiknya?” tanya Mara pada Famela. Tentu ia tak lupa, Saga mengatakan adiknya sakit di rumah, entah sakit apa.
“Biar itu jadi urusannya, Mar. Terserah dia mau mengurus adiknya seperti apa. Walau aku sudah mengatur merahasiakan identitasnya, siapa tahu ada yang berniat jahat? Mencari tahu semua tentang suamimu, dan akhirnya tahu kau membayarnya?” jawab Famela. Ia pikir, jika Saga tetap tinggal di rumahnya sendiri dengan alasan mengurus adiknya yang sakit, peluang sandiwara ini terendus publik lebih kuat.
Mara hanya diam, mengikuti skema yang sudah Famela rancang. Ia percaya Famela sudah memikirkan semuanya matang-matang.
Tiba-tiba perhatian Mara mengarah pada Saga. Ia lalu bertanya, “Bagaimana adikmu?”
“Kau membayarku, jadi aku akan membawanya ke rumah sakit.”
Alis Mara sedikit berkerut. “Memangnya, sakit apa?”
“PPS,” jawab Saga membuat Mara kian mengernyitkan alis.
“Post power syndrom?” tanya Famela dan segera menoleh pada Mara saat Mara menatapnya penuh tanya. “anggap saja gangguan mental. Om-ku pernah mengalaminya setelah dia bangkrut dan rugi milyaran,” ujarnya memberitahu Mara.
“Oh,” gumam Mara dengan mulut membentuk huruf O.
Tak lama kemudian, Famela dan Mara telah berada di kamar Mara. Famela tengah mengatur postingan di sosial media Mara, sementara Mara menemaninya sambil makan camilan.
“Mar, apa kau tak merasa semakin sering makan camilan? Ingat, camilan tidak bagus buat tubuhmu,” ujar Famela yang merasa berisik dengan suara Mara mengunyah.
“Jika bisa aku sudah melakukannya, Mel. Tapi akhir-akhir ini aku merasa lebih sering lapar,” ucap Mara.
Famela mendesah berat dan menepuk jidat. Ia lupa, Mara hamil sekarang. Mungkin karena itu Mara jadi lebih sering merasa lapar.
Tak lama kemudian, ribuan notifikasi masuk ke semua akun sosial media Mara setelah Famela mengunggah foto buku pernikahannya dan Saga dengan caption, ‘Alhamdulillah, sah’.
Mara memijit pelipis membaca pesan dari beberapa rekan artis dan teman yang menanyakan kebenaran postingannya bahwa ia sudah menikah. Bukan hanya bertanya dan memberi selamat, kebanyakan lainnya juga menanyakan siapa sosok pria yang menjadi suaminya. Malas meladeni lebih dari 50 pesan, ia meletakkan ponselnya.
“Kuharap ini hanya mimpi dan besok saat aku bangun, aku kembali ke satu bulan yang lalu,” ucapnya disertai desahan berat.
Famela yang duduk di sofa sambil memegang tab di tangan, membenarkan letak kacamatanya. Ia tengah sibuk memantau komentar-komentar dari netizen.
“Kau tahu itu tak akan terjadi, Mar. Saranku, lebih baik kau istirahat sekarang karena besok kau ada syuting dan aku yakin, besok wartawan akan mengerubungimu,” ucap Famela. Meski ia tampak fokus pada layar, tapi ia mendengar desahan berat Mara.
Di lain sisi, Saga tampak bicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
“Bagaimana?” tanya pemilik suara dari seberang sana.
“Semua sesuai rencana,” jawab Saga.