4. Membuat Kesepakatan

1737 Words
Woek! Famela memuntahkan makanan yang baru saja melewati tenggorokan. Meski merasa sayang, tapi ia tak mau terjadi sesuatu padanya, berpikir makanan yang entah dari siapa itu mungkin beracun. “Mar! Cepat muntahkan makanan itu juga!” teriak Famela dari kamar mandi, tapi Mara tetap duduk tenang menatap ponselnya. Setelah membersihkan mulut, Famela keluar dari kamar mandi dan kembali memaksa Mara memuntahkan makanan yang telah dicerna dalam perut. “Mara! Cepat muntahkan isi perutmu! Kau mau keracunan?” Mara menghela napas dan menatap Famela malas. “Mel, sudah satu jam lebih dan aku baik-baik saja,” ucapnya. Famela duduk di samping Mara dan mulai mengoceh. “Siapa tahu efek racunnya dua jam, atau tiga jam lagi. Lagipula, kenapa kau tidak tanya padaku? Kau tahu sendiri aku tak pernah menyuruh kurir naik, selalu menyuruh mereka menunggu di bawah.” Mara terdiam mencerna ucapan Famela. Selama ini Famela yang selalu mengambil makanan atau apapun ke bawah, bagaimana bisa ia lupa? “Ah, atau, apa jangan-jangan makanan itu sudah diberi guna-guna? Dia mau mengguna-gunamu, agar kau tergila-gila. Ah, atau, makanan itu sudah diberi ajian gila? Mungkin orang yang iri padamu, sengaja ingin membuatmu gila agar karirmu hancur,” ucap Famela sambil meremas tangan Mara, menatap Mara dengan wajah panik yang berlebihan. Bukannya ikut panik, Mara justru menatap Famela dengan wajah datar nan masam. “Mel, plis, berhenti berpikir konyol,” ucap Mara. “Apa? Konyol? Aku serius, Mar. Kau tak tahu? Ilmu hitam itu ada, jangan menganggapnya remeh!” Mara berdecak. “Terserah kau saja. Aku mau cari udara segar,” kata Mara seraya bangkit dari duduknya. Ia tak mau memikirkan ucapan Famela, yang ada, ia makin ovt dan mengganggu suasana hatinya. “Mar! Mara! Tunggu dulu! Meski kau libur lebih baik di rumah saja!” teriak Famela tapi percuma, Mara tetap pada keinginannya keluar. Tak lama kemudian, Mara dan Famela telah dalam perjalanan di mana Famela masih saja membahas soal makanan tadi hingga membuat Mara hilang kesabaran. “Mel, kalau kau masih membahasnya, aku turun,” ancam Mara. “Bagaimana aku tak membahasnya? Ini masalah serius,” tukas Famela sambil tetap fokus pada kemudi. “Kau lihat aku masih baik-baik saja. Daripada itu, kenapa kita tidak bahas suami bayaran saja? Aku sudah menemukan calon,” ucap Mara dan berhasil membuat atensi Famela sepenuhnya padanya. “What? Kau serius? Kau mau yang mana? Kau memang harus cepat memilih sebelum perutmu besar, Mar.” “Dia bukan kandidat yang kau berikan. Tapi aku tertarik padanya.” Seketika Famela menginjak rem karena terkejut. *Apa? Jangan bercanda. Memangnya siapa? Jangan bilang artis pendatang baru, atau artis senior yang sekarang miskin dan butuh uang.” “Mel, bisakah kau dengarkan aku dulu? Dia kurir yang mengantar makanan tadi. Entah kenapa … aku merasa tertarik dengannya. Aromanya seperti pernah kurasakan sebelumnya, tapi aku lupa di mana.” “What? Mar, plis, jangan gila. Dia bisa saja bagian dari orang yang mau meracunimu!” “Mel, berhenti membahas makanan itu beracun. Aku baik-baik saja, kau melihatnya,” tegur Mara. Entah kenapa ia yakin tak ada yang aneh dengan makanan itu. Dan ia tak berpikir berlebihan seperti Famela. “kalau memang makanan itu beracun, aku pasti sudah mati sekarang.” “Nggak. Pokoknya aku nggak setuju,” tegas Famela. “Kenapa?” “Kalau nggak setuju ya nggak setuju. Kita belum tahu siapa dia, seperti apa orangnya. Apakah dia berpenyakit atau tidak. Kau harus memikirkan itu, Mar. Meski pernikahan kalian sandiwara, kalian tetap harus tinggal di bawah atap yang sama agar tak ada yang curiga. Kalau dia berpenyakit dan menularimu, bagaimana?” cerocos Famela. Mara tampak berpikir kemudian menghubungi Sagara. “Halo. Ini aku yang tadi,” ucap Mara setelah panggilan terhubung. “Ya.” “Temanku bilang, bukan dia yang pesan makanan. Bisa kutahu, siapa? Karena jika makanan itu beracun, kau akan terseret,” ucap Mara. Sebenarnya ia ingin menghubungi Saga sedari tadi, tapi ia sengaja menundanya. “Hah? Mar, kau punya nomor kurir itu? Kenapa tidak bilang dari tadi?!” teriak Famela seakan-akan berniat menelan Mara. Jika tahu begitu, ia bisa langsung menanyakan siapa yang mengirim makanan itu. Tangan Mara terangkat, berada di depan wajah Famela, menyuruhnya diam. “Aku tidak tahu. Seseorang menghentikan aku saat sedang mengantar makanan, menyuruhku mengirim makanan itu ke apartemen Anda. Dia memberiku uang banyak, jadi aku tidak mungkin menolak.” Mara hanya diam. Jika benar begitu, pasti orang dekat yang melakukannya. “Seperti apa orangnya?” Belum sempat Saga menjawab, Famela merebut ponsel Mara. “Hei! Katakan siapa yang sudah menyuruhmu! Jika sampai kami mati, kau akan dipenjara seumur hidup!” teriak Famela. “Tapi, bukankah kalian berdua saat ini masih hidup?” “Iya! Tapi–” Mara merebut ponselnya kembali sebelum Famela bicara. “Seperti apa orangnya?” “Dia memakai masker dan topi, jadi aku tak melihat wajahnya, dan dia tinggi.” Mara berdecak lalu mengatakan, “Begini saja. Aku tunggu di Mandalika. Kami memang belum mati sekarang, tapi aku sudah terlanjur memakannya, jika terjadi apa-apa padaku, kau yang harus bertanggung jawab.” “Baiklah.” Setelah itu, panggilan terputus. “Mar, apa yang kau lakukan? Kau mengajaknya bertemu?” “Yap. Bukankah kau ingin masalah makanan tadi selesai? Dia tidak tahu siapa yang menyuruhnya, jika memang terjadi apa-apa padaku, dia yang harus bertanggung jawab, kan?” ucap Mara. Mandalika adalah tempat karaoke yang cukup terkenal dengan kerahasiaan privasi yang tinggi dan juga keamanan yang tak perlu diragukan lagi. Jika mengajak Saga bertemu di restoran biasa atau tempat umum, ia khawatir akan terendus publik. Singkat waktu, Mara dan Famela telah berada di salah satu room Mandalika dan belum lama mereka duduk, Saga telah sampai. Famela mengerutkan alis melihat Saga saat membuka jaket kurirnya. Daripada seperti kurir, pria itu lebih mirip CEO di drachin-drachin, cukup tampan dan memiliki postur tinggi tegap. Famela melirik Mara dan bergumam, “pantas saja.” “Maaf membuat kalian menunggu.” Kerutan di dahi Famela semakin terlihat mendengar cara Saga bicara, sangat berbeda dengan kurir-kurir yang ia temui selama ini. “Kami baru sampai,” kata Mara dan menyuruh Saga duduk di sofa lain meski sofa panjang yang ia duduki menyisakan tempat luas. Rasa penasaran Famela semakin menjadi melihat cara duduk Saga. Cara duduknya seperti orang dari kalangan terhormat. “Kau benar-benar kurir?” tanya Famela penuh selidik, memberi tatapan mengintimidasi. “Ya,” jawab Saga. “Oh, tidak. Kau pasti bohong. Caramu bicara, caramu duduk, aku yakin kau bukan dari kalangan bawah. Atau, apa kau CEO yang menyamar?” Mara seketika melotot mendengar celotehan Famela. Lagi-lagi Famela bicara tak masuk akal. “Apa?” tanya Famela melihat Mara melotot padanya dan memberinya cubitan ringan. Kekehan samar terdengar lolos dari mulut Saga. “Dulu orang tuaku sangat kaya, tapi tiba-tiba saja bangkrut. Jadi untuk tetap bertahan hidup, aku melakukan pekerjaan apapun,” ucapnya. “ada adikku yang sakit-sakitan di rumah, jadi aku tidak bisa meninggalkannya dengan bekerja sehari penuh,” imbuhnya, menjawab pertanyaan selanjutnya yang belum Famela katakan. “Dan … orang tuamu?” tanya Mara hati-hati. Saga terdiam cukup lama sampai akhirnya mengatakan, “Aku … tak ingin membicarakannya,” ucapnya dengan mengalihkan pandangan, seolah menyembunyikan raut wajahnya yang sendu. “Sudah cukup cerita sedihnya,” celetuk Famela tiba-tiba. “sekarang, katakan, siapa yang sudah menyuruhmu mengirim makanan atas namaku!” “Aku tidak tahu. Dia hanya memberiku uang ini.” Mengeluarkan uang 500 ribu dari saku, menunjukkannya pada Famela dan Mara. “Apa kau gila? Demi uang goceng kau mempertaruhkan dirimu? Kau tak berpikir bagaimana kalau makanan itu berisi racun? Memangnya kau tak kenal siapa Mara? Jika terjadi apa-apa padanya, semua orang akan menguliti hidup-hidup.” Saga melirik Mara dan mengatakan, “Bagiku uang ini sangat berarti. Sehari bekerja belum tentu aku mendapatkan uang sebanyak ini. Mungkin karena itu aku tidak berpikir jauh.” Saga setengah menundukkan kepala, menunjukkan rasa bersalahnya. “Kalau begitu … aku akan bertanggung jawab. Gunakan uang ini untuk periksa ke rumah sakit. Jika memang ada racun, aku siap dihukum,” ucap Saga seraya menyerahkan uangnya pada Mara. Mara menatap uang yang Saga sodorkan lalu mendorongnya. “Simpan saja,” ucap Mara. “Tapi–” “Kalau Mara suruh simpan ya simpan,” ucap Famela. Tentu saja Mara tak akan memeriksakan diri, tak ingin kehamilannya diketahui. Cukup hanya Mara dan dirinya yang tahu tentang kehamilan Mara. “Meski makanan itu tidak beracun, aku juga baik-baik saja, tapi aku tetap menuntut tanggung jawab darimu. Mungkin aku hanya sedang beruntung, bisa juga ini hanya pancingan. Bisa jadi setelah ini orang itu menyuruhmu lagi karena pengiriman pertama ini sukses,” ucap Mara. Saga menarik kembali uangnya dan memasukkannya ke saku tanpa mengalihkan pandangan dari Mara. “Jadi … aku harus menyerahkan diri ke polisi?” tanya Saga. Famela memperhatikan Mara dengan wajah serius. Entah kenapa perasaannya tidak enak, berpikir Mara akan mengambil keputusan yang gegabah. Mara menggeleng lalu mengatakan, “Tidak. Cukup buat perjanjian denganku. Tapi jika masalah ini sampai bocor ke orang lain bahkan publik, aku bisa membuatmu dipenjara seumur hidup.” “Mar! Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau mau–” Ucapan Famela terhenti saat tangan Mara kembali terangkat, memberi isyarat padanya untuk diam. “Bagaimana?” tanya Mara pada Saga, mengabaikan Famela yang menggerutu. “Aku tidak tahu perjanjian untuk apa dan apa isinya, bagaimana aku harus setuju?” “Kau harus setuju, karena jika tidak, kita akan ke kantor polisi sekarang. Kau sendiri yang bilang akan bertanggung jawab, kan? Tapi, jika kau dipenjara, bagaimana dengan adikmu? Kau bilang punya adik yang harus kau jaga, kan?” ucap Mara kemudian bangkit dari duduknya, melangkah hingga berdiri tepat di depan Saga. Famela terkejut. Ia tak menyangka Mara bisa bersikap jahat seperti ini, mengancam dengan cara halus. Tapi, tetap saja ia tak setuju Saga yang jadi suami bayaran Mara. Mara menatap serius jelaga Saga yang juga menatapnya. Entah kenapa, atau mendapat ilham dari mana sampai-sampai ia begitu menggebu menginginkan Saga yang menjadi suami bayarannya. “Baiklah,” ucap Saga tiba-tiba kemudian mengulurkan tangan berniat berjabat tangan dengan Mara sebagai tanda kesepakatan. Mara menatap tangan Saga yang menggantung sebelum akhirnya menjabatnya. Dan di detik itu juga, dirinya merasa Dejavu, seakan pernah menjabat tangan itu sebelumnya. Mara yang sebelumnya menatap jabat tangannya dan Saga, seketika mengangkat kepala. Aroma yang menggelitik ingatan, tangan besar yang menjabat tangan sekarang, menuntunnya mengingat kembali permainan panasnya dengan pria asing malam itu. “A- apa mungkin … dia adalah …,” batin Mara tanpa bisa mengalihkan pandangan dari jelaga sekelam malam milik Sagara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD