3. Mencari Suami Bayaran

1544 Words
"Ba- bagaimana. Bagaimana hasilnya?” tanya Mara dengan suara bergetar. Pada akhirnya ia memberikan test pack-nya pada Famela, memintanya melihatnya karena ia merasa tak sanggup. Famela hanya diam menatap benda tersebut di tangan. Tangannya gemetar, jantungnya berdegup tak karuan. Ia lalu menoleh perlahan pada Mara yang duduk di sampingnya lalu mengangkat test pack di tangan, menunjukkannya padanya. Mata Mara melebar selebar-lebarnya melihat terdapat dua garis berwarna merah muda. Seketika dunianya seakan runtuh. “Ti- tidak. Ini … pasti salah. Aku … akan mencobanya lagi,” ucap Mara seraya bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Namun, setelah mencoba menggunakan test pack kedua dan ketiga, hasilnya masih sama yang membuatnya begitu lemas bahkan nyaris pingsan. Famela berjalan mondar-mandir sambil sesekali mengetuk jidat dan menoleh pada Mara yang terduduk lemas di sofa, memikirkan cara bagaimana mengatasi masalah ini. “Atau, apa gugurkan saja?” ucap Famela saat ia berhenti mondar-mandir, berdiri di depan Mata yang seolah tak memiliki daya sama sekali. Mara hanya diam, tak segera menjawab. Ia baru membuka suara beberapa saat kemudian. “Kau mau aku jadi pembunuh?” tanya Mara dengan tatapan kosong. Famela segera duduk di samping Mara dan menggenggam tangannya. “Lalu kau mau bagaimana? Kau masih punya banyak proyek, beberapa bahkan sudah tanda tangan kontrak dan memberi DP, kau mau kau dituntut karena membatalkan kontrak karena kehamilanmu? Selama beberapa bulan kedepan mungkin masih bisa ditutupi, tapi kau tak bisa menutupinya terus, Mar. Nanti perutmu akan membesar, dan kau belum menikah. Karirmu akan hancur,” ujarnya dengan rasa cemas. Di saat seperti ini ia tak mau menyalahkan Mara, apalagi setelah mendengar ceritanya, ia yakin Mara berada di bawah pengaruh obat. Mara meremas kedua tangan di atas paha, walau karirnya jadi taruhan, tapi ia tak mau menggugurkan janin dalam perutnya. Ia tidak sejahat itu untuk melakukan itu. “Atau, begini saja, akui kehamilanmu, katakan kau dijebak, semua orang pasti akan bersimpati padamu,” usul Famela teringat beberapa waktu sebelumnya ada seorang artis yang juga hamil di luar nikah dan mengumumkan kehamilannya di sebuah podcast. Meski terjadi pro dan kontra, tapi nyatanya artis itu masih wara-wiri di layar kaca. “atau, cari siapa pria itu dan suruh dia bertanggung jawab. Ah, atau, apa jangan-jangan pria itu adalah Riky? Katamu Riky memberimu minum. Ya, aku yakin, pasti dia.” “Tidak,” ucap Mara cepat. Ia yakin Famela berniat menghubungi Riky. “bukan dia. Aku memang sudah lupa seperti apa wajahnya, tapi aku sangat yakin dia bukan Riky,” imbuhnya. Kepala Famela serasa mau pecah. Ia bingung, ingin marah, tapi tak kuasa. Namun, tiba-tiba saja Famela teringat FTV baru yang akan Mara bintangi yang membuatnya menjentikkan jari. “Aku tahu!” seru Famela. “suami bayaran. Kau bisa membayar seorang pria untuk berpura-pura jadi suamimu, setidaknya sampai anak ini lahir, bagaimana?” Mara menatap Famela dengan pandangan tak terbaca. Usulan Famela itu lebih masuk akal daripada ia harus menggugurkan darah dagingnya yang tak berdosa, atau mencari ayah kandungnya. “Nah, bagaimana? Kau tidak mau menggugurkan kandunganmu, kau juga tak tahu siapa ayahnya, jadi solusi terbaik, sewa pria bayaran untuk pura-pura jadi suamimu,” ucap Famela. Mara terdiam lama, berpikir keras tentang usulan Famela hingga akhirnya ia mengangguk lemah. “Tapi, siapa? Kau ... tidak berpikir dia dari kalangan artis, kan?” tanya Mara. “Hm, kau benar. Kalau dari kalangan artis, tak perlu diragukan lagi kemampuan ber-aktingnya, tapi kita bisa saja menghadapi resiko yang lebih besar,” ucap Famela. Ia sudah cukup lama menemani Mara di dunia hiburan membuatnya sudah paham bagaimana gelap dan terangnya dunia itu. Tidak semua artis itu baik, kebanyakan bermuka dua. Famela berpikir keras sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide. “begini saja, aku akan mengadakan audisi.” Alis Mara berkerut tajam. "Apa? Apa kau gila?” “Ssst, iya-iya aku tahu. Mana mungkin aku membagikan selebaran ‘dicari suami bayaran untuk Tsamara Mara’, kau kira aku gila? Sudah, pokonya kau tenang saja, kau tinggal terima beres. Aku akan mengatur semuanya.” Bibir Mara bergetar saat matanya mulai tampak basah. Ia terharu Famela serius memikirkan masalah ini. “Thanks, Mel," ucap Mara saat ia memeluk Famela tiba-tiba. "terima kasih banyak, kau selalu mengerti aku, bahkan di saat seperti ini, saat aku melakukan kebodohan, kau tetap membantuku, sama sekali tidak menyalahkan semua padaku, terima kasih,” ucapnya kembali sambil menahan tangis. Famela membalas pelukan Mara dan mengatakan, “Apa yang kau katakan? Ini adalah tugasku." Dipeluknya Mara lebih erat di mana air mata mulai bercucuran dan tak lama, suara tangis terdengar dari keduanya. Beberapa hari kemudian, Famela menunjukkan beberapa foto pada Mara yang merupakan kandidat calon suami bayarannya. Bukan hanya foto, tapi juga identitas dan latar belakang mereka. “Terlalu pendek. Terlalu tinggi. Terlalu gemuk. Terlalu kurus. Terlalu jelek. Terlalu tampan.” Mara meletakkan satu-persatu foto di tangan setelah menelitinya dengan hati-hati. “Heh, kau ini, masa dari sepuluh orang tidak ada yang membuatmu tertarik?” keluh Famela. Padahal ia sudah memilah dan memilih dari banyaknya pendaftar. Ia menyebar informasi bahwa mencari sopir yang masih muda sekitar usia 24-30 tahun, berpenampilan menarik dan syarat-syarat lain, tapi kriteria lolos bukan hanya itu, melainkan ada tes ketulusan dan kejujuran. Siapa sangka ada sekitar 100 lebih pelamar mengingat saat ini memang sangat susah menemukan pekerjaan. 91 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan, nyatanya belum terlaksana. Dari 100 peserta, Famela menyeleksinya menjadi 50, lalu 20, dan berakhir menjadi 10. “Yang kau bilang terlalu tinggi ini, dia mantan atlet basket, chindo, dan kelihatannya baik,” ucap Famela mengambil selembar foto yang sebelumnya Mara letakkan ke atas meja. “dan yang ini, meski dia gemuk, dia cukup tampan dan sepertinya pria yang selalu patuh. Dan ah, yang ini.” Mengambil foto pria yang paling tampan. “karena dia terlalu tampan, dia jadi rebutan gadis-gadis di manapun dia bekerja. Jadi dia mau jadi sopir agar tak lagi mengundang jalang-jalang merayunya. Dan gong-nya, dia masih perjaka.” Mara menatap Famela dengan alis berkerut tajam di mana tatapannya seolah mengatakan, “Kau pikir aku percaya?” “Haih, jangan menatapku seperti itu, Mar. Kita ini sedang mencari pria bayaran yang mau jadi suamimu. Yang penting dia bisa jaga rahasia, good looking, itu sudah cukup, kan?” desah Famela yang tahu makna tatapan Mara. “ah, terserah kau saja. Aku capek,” ucapnya saat ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menutup wajahnya dengan bantal. Melihat itu membuat Mara merasa bersalah. Ia pun kembali mengambil beberapa foto pria calon kandidat sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mara melirik Famela dan merasa tak enak menyuruhnya bangun. Ia pun bangun dari duduknya dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, Mara merasakan aroma yang menggelitik hidung, tapi lupa di mana pernah mencium aroma itu. “Selamat siang. Paket makanan atas nama Nona Famela.” Mara terpaku menatap pria yang berdiri di luar pintu, berhadapan dengannya. Aroma ini, seperti pernah ia cium sebelumnya, aroma leather yang kuat. Pria itu juga tampan dengan mata tajam dan bibirnya, entah kenapa mampu membuat Mara menelan ludah seakan ingin menggigitnya. Mara segera menggeleng mengenyahkan pikiran tak masuk akal dalam kepala. “Ah, terima kasih,” ucap Mara seraya menerima paket makanan yang Famela pesan. Kurir makanan itu hanya mengangguk sebelum akhirnya berbalik dan melangkah. Namun, tiba-tiba saja Mara memanggil. “Tunggu!” panggil Mara membuat langkah pria itu terhenti. Pria itu lalu menoleh. Mara hanya diam saat pandangan mereka bertemu. Ia pun merutuki kebodohannya yang tiba-tiba memanggil kurir itu. Kurir itu kembali berbalik dan menghampiri Mara. “Ya,” kata kurir itu setelah berdiri di depan Mara, menunggu Mara mengatakan sesuatu. “Um, begini, boleh minta nomor ponselmu? Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya–” Tiba-tiba ponsel kurir itu terulur padahal Mara bahkan meski ia belum selesai bicara. Mara pun sempat terkejut dan menatap kurir itu dengan pandangan tak terbaca. “Mungkin Anda punya pekerjaan? Aku memang sedang mencari pekerjaan tambahan,” ucap kurir itu tanpa menarik kembali ponselnya, menyuruh Mara segera men-scan nomor chatnya. Sinar cahaya harapan seolah menerpa wajah Mara. Ia segera mengambil ponsel dari saku hoodienya dan men-scan nomor kurir itu. “Aku memang sedang mencari seseorang untuk bekerja denganku. Aku akan menghubungimu nanti untuk membicarakannya. Tapi sebelum itu, siapa … namamu?” “Panggil saja Sagara.” Singkat waktu, Famela tampak mengerjap, berusaha membuka mata sambil menguap. “Hoam … jam berapa sekarang?” gumam Famela sambil mengedarkan pandangan dan tak menemukan Mara. Ia lalu melihat jam dan terkejut ia tidur hampir 1 jam. “Eh? Ada makanan?” gumam Famela menatap box berisi makanan di atas meja. Tanpa berpikir lama, ia segera menyantapnya berpikir Mara menyiapkannya untuknya. “Baru bangun langsung makan, dasar,” ucap Mara sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk. Ia baru saja mandi. “Biar saja. Habisanya aku lapar. Siapa suruh tidak membangunkan aku?” sahut Famela dengan mulut penuh nasi dan katsu. Mara memutar bola mata malas lalu duduk di sofa samping sofa yang Famela duduki. “Dari mana kau beli ini? Rasanya seperti dari restoran mewah,” ucap Famela sambil terus makan seperti ia tak makan seminggu. Alis Mara seketika berkerut tajam. “Aku? Bukannya kau yang pesan?” Deg! Famela seketika menatap Mara dengan wajah pucat. Ia tak merasa memesan makanan sebelumnya. Melihat ekspresi Famela, Mara melebarkan mata dengan jantung serasa berhenti berdetak. Ekspresi Famela jelas mengatakan bahwa bukan dia yang memesan makanan. Kalau begitu, siapa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD