Pintu kamar Mara terbuka dan terkejutlah Mara saat menemukan Saga di hadapan. Saat Saga hendak membuka pintu, di saat yang Sama Mara melakukan hal serupa.
“Ya Tuhan, kau membuatku kaget,” ucap Mara.
“Maaf. Aku ingin mengetuk pintu, sudah hampir jam sepuluh,” kata Saga.
“Ya udah. Ayo berangkat,” ucap Mara sambil memakai kacamata hitamnya. Namun, saat ia akan melangkah, ia bertanya, “Mela sudah pergi?” Dan dijawab anggukan oleh Saga.
Tak lama kemudian, Saga dan Mara telah berada dalam perjalanan. Saga yang fokus mengemudi, sesekali melirik Mara yang duduk di belakang, menikmati sandwich yang sebelumnya Famela siapkan sebagai sarapan sambil menscroll layar ponselnya.
“Boleh aku bertanya?” tanya Saga tiba-tiba.
“Apa,” sahut Mara tanpa melepas perhatian dari ponsel di tangan.
Bukannya segera bicara, Saga justru diam membuat perhatian Mara beralih padanya.
Alis Mara sedikit berkerut, menunggu Saga bicara.
“Aku pernah main FTV yang ceritanya, ada orang mati gentayangan karena gemar membuat orang penasaran,” celetuk Mara dan kembali menikmati sandwicnya yang tinggal sepotong.
Sudut bibir Saga sedikit terangkat. Ia tahu Mara sengaja, menyindirnya.
“Bagaimana denganmu? Aku yakin, di luar sana banyak orang penasaran siapa sosok pria yang menikahimu,” ucap Saga sarkas dan berhasil membuat mata Mara melotot.
“Gajimu kupotong lima persen."
“Bahkan kau belum membayar gajiku," ujar Saga.
“Apa? Belum? Tapi aku sudah menyuruh Famela mentransfermu,” kata Mara dengan alis berkerut. Ia sudah menyuruh Famela membayar Saga kemarin, setelah mereka sah menjadi suami istri.
“Tapi kenyataannya memang belum,” ujar Saga.
Mara menatap Saga penuh selidik sebelum akhirnya memutuskan menghubungi Famela. Ia yakin Famela juga masih di jalan sekarang.
“Halo, Mel. Kau belum memberi Saga uang?” tanya Mara setelah Famela mengangkat panggilan.
“Belum. Nanti saja, Mar.”
“Kenapa?”
“Aish, kau ini kenapa? Tentu saja untuk jaga-jaga. Dia juga baru kerja kemarin, jika kuberi uang sekarang dan dia kabur, bagaimana?”
Mara mendesah berat dan memijit pelipis. “Yah, baiklah.”
Setelah mengatakan itu, Mara mengakhiri panggilan.
“Kau dengar sendiri,” kata Mara.
“Apa kalian bersaudara?”
Lagi-lagi ucapan Saga berhasil membuat dahi Mara berkerut. “Kenapa?” tanyanya.
“Kau kelihatannya sangat patuh.”
“Patuh? Dia sahabatku, manajer dan asisten pribadiku,” ujar Mara.
“A ….” Hanya gumaman tak jelas yang lolos dari mulut Saga. Dan setelahnya, tak ada lagi yang bicara. Namun, sejak pembicaraan tadi, Mara menatap Saga dengan tatapan berbeda dari sebelumnya.
Tak lama kemudian, Mara telah sampai di lokasi syuting. Ia pun segera melakoni pekerjaannya sementara Saga pergi dari sana. Sebelumnya Saga mengatakan ia akan ke rumah sakit menemui adiknya, akan tetapi ia tidak.
Tanpa Saga sadari, sebuah mobil mengikuti di belakangnya dan segera mencegat mobil Saga saat melewati tempat yang cukup sepi. Hampir saja terjadi tabrakan jika saja Saga tak sigap menginjak rem.
Jbles!
Riky keluar dari mobilnya, menghampiri mobil Saga dan mengetuk kaca. Kaca mobil pun turun perlahan membuat Riky bisa melihat Saga lebih jelas daripada kemarin.
“Kau sopir barunya Mara?” tanya Riky. “ah, ya, aku yakin kau pasti sopirnya,” ucapnya kembali dengan tatapan mengejek.
Saga yang sebelumnya hanya diam dan menatap lurus ke depan, menoleh dan memberi Riky senyuman samar.
“Ya. Aku sopirnya,” jawab Saga.
Riky menatap Saga dengan pandangan tak terbaca sebelum akhirnya ia tertawa.
“Ya, aku tahu. Karena tak mungkin kau suaminya,” kata Riky setelah tawanya terhenti. “oh, ya, aku punya penawaran menarik.”
Saga hanya diam, tapi tatapannya seolah ia penasaran penawaran apa yang Riky berikan.
“Aku ingin tahu siapa suami Mara. Aku bisa membayarmu sesuai gajimu jika kau memberiku informasi,” ucap Riky.
“Hanya itu?”
“Apa? Hanya itu?”
Saga tersenyum miring dan menaikkan kaca mobil. Namun, Riky segera menahannya.
“Hei! Aku belum selesai!” bentak Riky.
Saga berdecak. Ia menatap Riky tanpa ekspresi lalu mengatakan, “Walau dua kali lipat, bahkan sepuluh kali lipat, aku tidak akan melakukannya.”
Setelan mengatakan itu, Saga kembali menaikkan kaca membuat tangan Riky terjepit karena masih berusaha menahan Saga, mengajaknya berdiskusi.
“He- hei! Kau gila?!” teriak Riky sebelum akhirnya erangan kesakitannya terdengar merasakan jari-jarinya seakan remuk terjepit.
Saga memundurkan mobilnya membuat Riky terseret. Ia lalu membelokkan setir, melewati mobil Riky yang menghalangi.
“Berhenti! Berhenti!” teriak Riky.
Saga melirik Riky sekilas sebelum akhirnya ia menurunkan kaca mobilnya, melepaskan kedua tangan Riky yang terjepit. Riky pun jatuh tersungkur ke tanah dan mengerang kesakitan seakan ke-8 jarinya putus.
Saga mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang hingga tak lama mobil itu berbelok ke jalanan yang sepi dan berhenti. Namun, tepat setelah ia turun, sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
Seorang pria turun dari mobil itu kemudian membuka pintu mobil belakang, mempersilakan Saga masuk. Di saat yang sama, satu pria lain lagi muncul dan memakaikan jas mahal pada Saga.
Jbles!
Pintu mobil mewah berwarna hitam itu tertutup setelah Saga duduk tenang di kursi belakang. Merapikan jasnya, ia memberi isyarat pada sopir di depan untuk jalan, meninggalkan mobil Mara yang dijaga oleh seorang pria yang memakai outfit serupa dengan dua pria yang melayani Saga.
Singkat waktu, Saga telah berdiri di depan rumah besar berlantai 3 yang begitu megah. Ia lalu melangkah tegas, berjalan masuk saat pintu utama rumah itu terbuka lebar.
Di lain sisi, Mara tengah istirahat dan menikmati makan siangnya dengan lahap sampai tiba-tiba matanya melotot dengan mulut terbuka saat membuka pesan dari salah satu rekan sesama artis. Pesan itu berisi video wawancara Dinar yang menanggapi pernikahannya.
“Aku juga kaget. Benar-benar terkejut dengan kabar itu. Padahal aku masih ingat saat menghadiri acara Pak Rano waktu itu, dia hanya sendiri. Kami sempat mengobrol dan dia tidak mengatakan apapun soal rencana menikah.”
“Bisa beri tanggapan tentang komentar negatif netizen?”
“Oh, kalau soal itu, aku kurang tahu. Tapi kalau tidak salah, banyak yang menduga dia hamil duluan, kan. Ada juga yang bilang suaminya jelek lah, suami orang lah. Tapi kalau menurutku, harusnya dia jujur. Sebagai public figure, harusnya dia bisa jadi contoh yang baik.”
Mara meremas ponselnya. Bukan ia marah karena komentar netizen, tapi ia marah karena Dinar ikut berkomentar. Dinar seperti tak jera padahal pernah dilaporkan karena terlalu suka ikut campur urusan orang demi panjat sosial.
Mara menutup layar tak ingin melihat lagi video itu. Ia muak meski paham Dinar sengaja melakukan itu demi popularitas.
Drt ….
Mara yang tengah memijit kepala, tersentak saat ponsel di atas pangkuannya berdering. Mengambil benda persegi itu, diangkatnya panggilan.
“Halo. Ada a–”
Belum selesai Mara bicara, raut wajahnya tiba-tiba langsung pucat mendengar kabar mengejutkan dari seberang sana.