Saga berdiri di depan pintu salah satu kamar di rumah besar yang ia masuki. Ia lalu mendorong pintu di hadapannya perlahan, dan berjalan memasuki ruangan.
“Kakek,” ucap Saga setelah menghentikan langkahnya dua langkah di sisi ranjang.
Suara Saga membuat pria tua yang berbaring di atas ranjang membuka mata. Perhatiannya lalu tertuju pada Saga.
“Mana calon istrimu?” tanya pria tua itu. Salim Kusuma namanya, 70 tahun, salah satu konglomerat kaya di kota dan merupakan kakek Saga.
Tepat di saat itu, pintu kamar terbuka, dan masuklah 2 orang pelayan.
“Silakan, Tuan,” ucap pelayan seraya memberikan nampan berisi bubur hangat pada Saga sesuai permintaannya.
Saga menerimanya lalu pelayan itu pergi meninggalkan kamar.
“Sudah saatnya makan siang. Sebaiknya kakek makan dulu,” ucap Saga seraya duduk di kursi di sisi ranjang.
“Kakek tidak akan makan sebelum kau bawa calon istri ke sini,” tegas Salim. Pria yang seluruh rambutnya telah memutih itu, lalu membuang muka seolah tak mau melihat Saga.
Saga hanya diam sebelum akhirnya mengatakan, “Belum saatnya.”
Salim seketika kembali menoleh pada cucu tersayangnya.
“Belum saatnya? Kau mau menunggu kakek mati dulu baru saatnya?” ucap Salim sarkas.
Saga mengembuskan napas berat dari mulut. Jika bukan karena masih peduli pada kakeknya itu, ia mungkin tak akan datang hari ini.
“Kakekmu ini sudah tua. Apa keriput dan uban di kepala kakekmu ini tak bisa membuatmu sadar? Kakek hanya ingin melihat cucu Kakek menikah sebelum kakek mati. Apa keinginan kakek semudah ini tidak bisa kau penuhi? Kau tidak mau kakek jodohkan, kalau begitu cepat bawa cucu menantu ke sini!”
Telinga Saga terasa panas mendengar omelan sang kakek. Tapi ia tak bisa membantah karena kakeknya akan semakin banyak bicara.
Salim bangun dan duduk, lalu kembali menasehati Saga yang di telinganya terdengar seperti omelan memuakkan.
“Baiklah. Kalau begitu kakek putuskan, kau harus menikah dengan Nadira,” pungkas Salim setelah lelah menceramahi Saga.
“Tidak,” ucap Saga tegas.
“Kalau begitu–”
Belum selesai Salim bicara, ponsel dalam saku Saga berdering membuatnya segera mengangkat panggilan.
“Jemput aku sekarang dan kita ke rumah sakit. Famela kecelakaan.”
Saga melebarkan mata sesaat mendengar suara Mara dari seberang sana. Ia segera bangkit dari duduknya, meletakkan makan siang Salim ke atas meja kemudian pergi sambil berlari membuat Salim melotot.
“Kai! Kaisar!” teriak Salim. Nama panjang Saga adalah Sagara Kaisar dan identitasnya yang sebenarnya adalah, pendiri Kaisar Innovation Technologi sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri kecantikan. Dan ia juga merupakan putra pertama Pratomo Kusuma dan Diana Tanjung, pemilik perusahaan properti yang terkemuka.
Saga bergegas memasuki mobil yang sudah siap menunggunya dan menyuruh sopir segera tancap gas. Dalam perjalanan, ia mengganti pakaian yang sebelumnya ia kenakan dan segera turun setelah sampai di lokasi tempat ia meninggalkan mobil Mara.
Di lain sisi, Mara menunggu Saga dengan gusar hingga beberapa kali meneleponnya menyuruhnya cepat-cepat. Sebelumnya ia mendapat telepon bahwa Famela mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit sekarang.
“Kenapa dia lama sekali?” geram Mara. Ia sudah mendapat izin dari sutradara untuk pulang lebih awal setelah memberitahu apa yang terjadi, tapi harus menunggu Saga yang tak juga datang.
Sekitar 5 menit kemudian, mobil Saga akhirnya tiba.
“Lama sekali,” kata Mara saat ia memasuki mobil. “cepat ke rumah sakit,” tegasnya tak mau mendengar alasan dari Saga.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya mobil Mara sampai di rumah sakit. Ia pun bergegas masuk ke dalam gedung dan mendapat informasi jika Famela masih menjalani penanganan di IGD.
Mara duduk di kursi tunggu dengan cemas dan gusar sambil berdoa semoga Famela baik-baik saja. Tapi, pada akhirnya air matanya mulai bercucuran.
Saga duduk di sebelah Mara lalu mengulurkan sapu tangan. Mara pun menerimanya digunakannya mengusap air mata. Setelah perasaannya sedikit lebih tenang, ia menghubungi orang tua Famela, memberitahukan tentang apa yang terjadi.
“Baiklah. Kami akan segera ke sana,” ucap ibu Famela setelah Mara mengatakan apa yang terjadi. Setelahnya, Mara menutup panggilan.
Cukup lama kemudian, dokter yang menangani Famela keluar dan menemui Mara, menyampaikan bahwa Famela akan dipindahkan ke ruang ICU karena keadaannya kritis. Terjadi cedera kepala serius karena kecelakaan yang Famela alami.
Mara tak dapat menyembunyikan keterkejutan serta kecemasan setelah dokter menyampaikan kondisi Famela sekarang. Ia yang sebelumnya berdiri saat bicara dengan dokter, terduduk kembali dengan lemas. Namun, tak lama setelahnya, ia jatuh pingsan.
Singkat waktu, Mara tampak mengerjap dan saat matanya terbuka sempurna, air matanya menetes teringat keadaan Famela.
“Kau menangisinya seperti dia saudaramu,” ucap Saga yang sedari tadi menemani Mada.
Mara hanya diam, tenggelam dalam pikirannya tentang kondisi Famela. Ia lalu bangun dan meminta Saga mengantarnya melihat Famela di ICU.
“Aku ingin melihatnya,” ucap Mara di sela tangis yang coba ia tahan dan redam.
“Tapi dokter menyuruhmu istirahat,” kata Saga.
“Bagaimana aku bisa istirahat sebelum melihat keadaannya? Aku mau melihatnya, sekarang,” tegas Mara dan turun dari ranjang berniat melihat Famela tak peduli Saga mau mengantarnya atau tidak.
Saga manahan Mara, tak ingin terjadi hal lebih buruk karena dokter telah berpesan shock berlebihan bisa membahayakan kandungannya.
“Jangan keras kepala. Kau hamil sekarang. Shock berlebihan bisa membahayakan kandunganmu,” ujar Saga.
Mara terperangah menatap Saga, terkejut bagaimana bisa Saga tahu tentang kehamilannya padahal dirinya sama sekali tak pernah mengatakan tentang hal itu.
“Kau– kau … bagaimana bisa–”
“Dokter yang memberitahuku tadi,” jawab Saga sebelum Mara selesai bicara.
Mara terdiam dan perlahan menundukkan kepala.
“Sekarang kau tahu alasan aku membayarmu menjadi suamiku,” ucap Mara dengan suara lemah.
Saga hanya diam, padahal sebenarnya ia sudah tahu sejak awal. Bahkan alasan utamanya menyamar karena tahu Mara tengah mengandung anaknya. Anaknya? Tentu saja, karena pria malam itu adalah, dirinya.
Ingatan Saga dibawa kembali ke hari itu, di mana ia menghabiskan malam dengan Mara. Hari itu ia sengaja menginap untuk menghindari Nadira, wanita yang sudah lama mengejarnya. Diberitahu bahwa Nadira menunggunya di rumah, ia memilih menginap di hotel. Dan seperti sebuah takdir, di hotel itu ia dipertemukan dengan Mara. Sebenarnya ia bukan pria gampangan yang dengan mudah tergoda, hanya saja malam itu ia merasakan hal berbeda dari Mara. Saat Mara menciumnya, ia tahu Mara belum pernah berciuman sebelumnya dan hal itu membuatnya penasaran. Dan rasa penasaran itu akhirnya menuntunnya pada malam manis menggairahkan yang belum pernah ia rasakan.
Saga kira, ia bisa melupakan kejadian itu begitu saja, menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan yang tak perlu mengusik hidupnya setelahnya. Tapi entah kenapa, kejadian itu terus terngiang dalam kepala bahkan desahan Mara seolah terus berbisik di telinga. Dan entah sebuah kebetulan atau takdir yang sudah digariskan, dua Minggu setelahnya Saga menemukan Mara saat rapat marketing. Tim marketing memilih Tsamara Mara sebagai model iklan mereka. Meski bukan artis yang sangat terkenal, tapi Mara memiliki citra yang baik, tak pernah terlibat skandal, dan memiliki kecantikan alami tanpa sentuhan meja operasi. Dari sana ketenangan Saga yang telah terusik pasca malam panasnya, kian semakin terusik. Ia pun mencari tahu semua tentang Mara bahkan mengirim mata-mata. Dan saat mata-matanya memberi informasi bahwa Mara kemungkinan hamil, tanpa berpikir melakukan tes DNA, ia sangat yakin itu adalah darah dagingnya. Namun, alih-alih menemui Mara dan mengatakan ia adalah pria yang malam itu menghabiskan malam dengannya, ia justru memilih berpura-pura menjadi pria biasa dan mendekati Mara dengan caranya. Dan semua itu ia lakukan karena ….
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat Saga tersentak dan tersadar dari lamunan. Dan saat ia menoleh, matanya melebar melihat orang yang sangat ia kenal berjalan memasuki ruangan.
“Jangan sekarang,” batin Saga menatap orang itu yang berjalan ke arahnya.