9. Kritis

1423 Words
"Dok. Aku ingin melihat kondisi temanku,” kata Mara pada dokter muda yang memasuki ruangan. “Kau yakin? Kau sedang hamil muda, Nona, tidak boleh terlalu banyak pikiran. Sementara saat mengetahui keadaan temanmu, kau sampai pingsan,” ujar dokter itu. "jika melihat keadaannya, bagaimana jika pingsan lagi?" Mara terdiam, ia memang terpukul mendengar keadaan Famela sebelumnya, tapi bukan berarti ia tak boleh melihatnya, bukan? “Tapi jika kau memaksa, silakan saja. Yang penting aku sudah mengingatkan,” ucap dokter itu lalu mempersilakan Mara melewatinya. Saga mendelik menatap dokter itu. Dan setelah Mara pergi, ia mengikuti di belakangnya. “Urusan kita belum selesai,” ucap Saga saat melewati dokter itu sebelum meninggalkan ruangan. Dokter muda bernama Randy itu hanya mengedikkan bahu. Namun, senyum tipisnya terukir setelah Saga pergi. “Kak … Kak, baru kali ini aku lihat kau jadi gila begini. Apalagi demi wanita keras kepala sepertinya." Tak lama, Mara telah berdiri di sisi ranjang di mana Famela terbaring dengan banyak selang di tubuhnya. Ia pun tak bisa menahan tangis melihat kondisi Famela sekarang. Satu-satunya teman sekaligus keluarga yang ia punya, kini terbaring lemah tak berdaya. Setelah beberapa menit menemani Famela, perawat yang bertugas meminta Mara keluar. Mengingat keadaan Famela sekarang, ia tidak boleh dijenguk terlalu lama dan hanya 1 orang saja yang boleh melihat keadaannya itu pun dari pihak keluarga. Karena keluarga Famela belum juga tiba, Mara pun diizinkan masuk. Mara duduk di kursi tunggu setelah keluar dari ruang ICU dan melepas APD yang sebelumnya ia pakai saat melihat Famela. Sesekali ia masih terisak teringat kondisi Famela sekarang. Tiba-tiba sebuah roti terulur di depan Mara membuatnya mengangkat kepala menatap siapa yang memberinya roti itu. Mara hanya diam dan menepis pelan roti yang Saga berikan. Padahal suasana hatinya sedang kacau, tapi Saga seperti mengajaknya bercanda. “Bukankah kau selalu lapar? Maksudku, bayi dalam perutmu,” kata Saga saat ia duduk di samping Mara. Mara mengusap air matanya dan mengatakan, “Kau mungkin tidak suka padanya, tapi tak bisakah kau berpura-pura mengkhawatirkannya? Jangan bercanda di saat seperti ini.” “Bercanda?” gumam Saga disertai senyum miring. “daripada mengkhawatirkan temanmu itu, aku lebih mengkhawatirkan bayi dalam perutmu. Temanmu masih ada kemungkinan selamat, tapi bayimu? Dia masih terlalu lemah,” lanjutnya. Mara hanya diam. Ia pikir Saga tak akan peduli dengan kehamilannya bahkan akan merasa jijik. Tapi pria itu justru menunjukkan hal sebaliknya. Kling! Kling! Suara bunyi ponsel Mara terdengar, berada dalam saku celana Saga. Saga pun mengambilnya dan memberikannya pada Mara. “Aku mengambilnya saat kau pingsan,” ucap Saga. Mara hanya diam dan menerima ponsel itu lalu membuka pesan dari salah satu teman, sebuah rekaman cctv yang menunjukkan kecelakaan yang Famela alami. Dalam rekaman, terlihat beberapa mobil dan motor berhenti di depan traffic light sampai tiba-tiba sebuah truk tronton terlihat melaju dari belakang dengan kecepatan tinggi dan menghantam beberapa kendaraan di depannya. Mara menutup mulut saat membuka video kedua yang menunjukkan rekaman amatir warga. Darah mengalir di mana-mana, bahkan ditemukan potongan tubuh korban hingga otak yang tercecer diduga terlindas ban truk yang mengalami rem blong itu. “Tidak usah dilihat jika tidak kuat,” ucap Saga seraya mengambil ponsel dari tangan Mara melihat Mara mual. Ia lalu menghapus video itu. “A- apa yang kau lakukan?” ucap Mara sambil menahan mualnya melihat Saga menghapus video yang Sandra kirim tadi. “Menghapusnya. Kau hamil, jangan melihat hal mengerikan seperti ini,” kata Saga. Mara menatap Saga dengan pandangan tak terbaca. Ia merasa Saga sudah seperti suami sungguhan yang mencemaskannya. Tiba-tiba ponsel Mara berdering membuatnya merebut kembali ponselnya dan mengangkat panggilan. “Halo, Mar, bagaimana keadaan Famela sekarang? Ya Tuhan, aku tak kuat melihat video tadi. Kuharap Famela baik-baik saja,” ujar pemilik suara di seberang sana. Ia adalah Sandra, orang yang mengirim video pada Mara. “Famela kritis,” ucap Mara dengan suara bergetar. “Ya Tuhan ….” Tepat di saat itu, seorang wanita paruh baya berjalan cepat ke arah Mara. Ia adalah Winda, ibunda Famela. “Mar, di mana Famela sekarang?” tanya Winda setelah berdiri di depan Mara. “Di ruang ICU, Tan. Famela … kritis,” jawab Mara yang telah mengakhiri panggilan dengan Sandra saat melihat ibunda Famela datang. Winda terduduk lemas di samping Mara. Namun, di detik berikutnya, Mara tak bisa berkata-kata. “Ya Tuhan, Famela, kau kritis sekarang, jika sampai kau mati, siapa yang membiayai adik-adikmu? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan keluargamu?” Mata Saga memincing tajam mendengar ucapan Winda yang bercampur dengan tangisan. Ia bukan orang baik, tapi mendengar kata-kata itu, ia menandai Winda sebagai orang jahat. Bukannya berdoa untuk kesembuhan putrinya, tapi wanita itu justru bicara di luar nalar. Beberapa waktu setelahnya, tak terasa hari telah gelap, dan Mara juga Saga masih di rumah sakit. “Bukankah kau ada jadwal?” tanya Saga. Ia masih ingat pesan Famela pagi tadi bahwa Mara harus jadi bintang tamu sebuah acara malam ini. “Ya. Kau benar. Aku … benar-benar lupa,” ucap Mara sambil memijit pangkal hidungnya. Jika bisa ia ingin mangkir, tapi itu tidak mungkin. Ia harus bekerja profesional. “Baiklah. Antar aku sekarang,” ucap Mara kemudian bangkit dari duduknya. Saga mengikuti langkah Mara hingga sampai di mobil mereka di parkiran. Tanpa menunggu lama, Saga yang mengemudi segera tancap gas menuju lokasi. Dalam perjalanan Mara hanya diam, bahkan meski ponselnya beberapa kali berdering ia tetap mengabaikannya. Ia masih memikirkan Famela. Sekitar 20 menit kemudian, Mara sampai di lokasi. Ia pun segera mengganti pakaian dan memoles wajahnya dengan make up tipis, menyamarkan mata sembab habis menangis. Jika ada Famela, wanita itu yang akan membantunya, tapi sekarang, ia harus mempersiapkan dirinya sendiri. *** “Sekarang, mari kita sambut bintang tamu kita malam hari ini. Tsamara Mara!” Suara tepuk tangan memenuhi studio, menyambut kehadiran Mara sebagai bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu karena berita pernikahannya yang masih hangat diperbincangkan. Mara muncul dengan senyuman mengembang dan lambaian kedua tangan pada penonton kemudian menjabat tangan pembawa acara, Lukman dan Hesta. Ia pun duduk di sofa dan berbincang ringan dengan keduanya. Di lain sisi, Saga berdiri di sudut ruangan, mengamati Mara dari posisinya. Meski Mara menyuruhnya menunggu di belakang, tapi ia enggan. Ia sudah bak bodyguard yang siap siaga menjaga sang majikan, tak ingin terjadi sesuatu padanya. Seiring berjalannya waktu, obrolan ringan di awal menjadi sedikit lebih serius saat Lukman menanyakan kabar tentang kecelakaan yang Famela alami. Mara pun tak bisa menahan tangis memberitahu bagaimana kronologi dan keadaannya sekarang. Semua orang telah tahu bahwa Famela ada manajer sekaligus asistennya. “Maaf. Bagiku, dia sudah seperti saudara jadi–” ucap Mara menggantung sambil menghapus air mata setelah menceritakan keadaan Famela. “jadi, kejadian siang tadi benar-benar membuatku terkejut,” sambungnya sambil berusaha tetap tersenyum meski air mata terus menggenang. Suasana pun terasa lebih hening dari sebelumnya, seakan penonton ikut terbawa suasana sedih karena tangisan Mara. Namun, kesedihan itu tak berlangsung lama. Setelah iklan, pembawa acara mengubah topik pembicaraan. Tak lagi membahas kecelakaan Famela, tapi membahas pernikahan Mara yang masih hangat-hangatnya. “Jadi, siapa sebenarnya sosok pria yang beruntung itu?” tanya Lukman lalu disambung oleh rekannya Hesta. “Apakah dari kalangan artis? Pengusaha? Atau teman masa kecil?” Mara tersenyum tipis meski sembab di matanya masih samar terlihat. “Dia … pengusaha. Dan dia bukan teman masa kecil,” jawab Mara. Mendengar itu, kedua host menggoda Mara, memancingnya agar memberitahukan siapa sebenarnya sosok suaminya. Namun, ia terus berusaha menutupi sampai akhirnya bintang tamu kedua dipanggil. Ia pun merasa sedikit lebih lega karena kedua host tak lagi terfokus padanya. Tak lama, tiba-tiba kepala Mara terasa berat. Namun, masih on camera membuatnya menahan sakit kepalanya itu meski wajahnya mulai terlihat pucat. Akan tetapi, ia tak bisa menahannya lagi saat rasa mual bercampur keringat dingin membuat matanya mulai terasa berat. “Tidak boleh. Aku … tidak boleh pingsan,” batin Mara dengan kedua tangan mengepal kuat di atas pangkuan, meremas roknya hingga kusut. Sayangnya, ia tak mampu bertahan. Ia pingsan tepat setelah iklan diputar. Seisi ruangan seketika menjadi panik melihat Mara pingsan. Host, bintang tamu lain di sebelah Mara dan kru begitu terkejut karenanya. Namun, dari semua orang itu, ada 1 orang yang paling terkejut dan panik hingga segera berlari menyusul Mara, mengabaikan bahwa ia tak boleh menunjukkan diri di depan semua orang. Dan tentu saja, ia adalah Saga. Saat Saga menyusul Mara, semua orang dibuat bertanya-tanya, siapa dia. Hingga bisik-bisik dari penonton pun samar terdengar. “Apa dia suaminya?” “Ya. Dia pasti suaminya. Lihat, dia sangat panik.” Namun, di antara bisik-bisik itu, ada satu orang yang bergumam, “Dia … bukankah dia itu ….” Melihat sosok Saga dengan jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD