Kalimat itu terdengar datar, tapi ada sesuatu di baliknya. Arvin ingin mengatakan banyak hal—ingin meminta Zahra pulang, ingin memeluknya dan menyuruhnya istirahat, ingin melarangnya berdiri terlalu lama.
Tapi ia juga tahu.
Di kafe ini, Zahra bisa bernapas.
“Kamu udah makan?” tanya Arvin akhirnya.
Zahra terdiam sepersekian detik. Lalu tersenyum kecil. “Nanti.”
Itu bukan jawaban. Tapi Arvin tidak memaksa. Ia hanya duduk di salah satu meja, mengawasi dari jauh, seperti penjaga yang bingung harus menjaga dari apa.
Sore hari, tanda-tanda itu muncul.
Zahra berdiri di dekat rak minuman ketika pandangannya tiba-tiba berkunang. Suara di sekelilingnya meredup, seperti ditarik menjauh. Tangannya refleks berpegangan pada meja.
“Mb Zahra!”
Ia hampir jatuh kalau tidak segera ditopang Arvin.
“Za—hei, lihat aku.” Arvin memegang wajahnya dengan panik. “Kamu kenapa?”
Zahra berusaha tersenyum, tapi bibirnya pucat. “Cuma… pusing dikit.”
“Kita ke rumah. Sekarang.”
“Aku belum selesai—”
“Zahra.” Nada suara Arvin berubah. Bukan marah. Takut. “Cukup.”
Pegawai-pegawai menatap cemas saat Arvin mengantar Zahra ke mobil. Sepanjang perjalanan, Zahra diam, memeluk perutnya, napasnya pendek-pendek.
Arvin menggenggam setir lebih erat. Rahangnya mengeras.
Di rumah, Zahra duduk di sofa. Arvin berlutut di depannya, membuka sepatu Zahra dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Kamu nggak bisa terus kayak gini,” katanya akhirnya. “Kandungan kamu semakin besar, Za. Kondisi ibu hamil dan yang nggak hamil beda. Dokter juga udah.bilanh, kan?”
Zahra menunduk. Air matanya jatuh satu-satu, tanpa suara.
“Aku cuma… aku nggak tahu harus ngapain lagi,” bisiknya. “Kalau aku diam, aku merasa jahat. Merasa nggak pantas bahagia.”
Arvin memeluknya. Erat. Lama.
“Kamu bukan orang jahat,” katanya di sela napas. “Kita hanya manusia biasa yang nggak bisa melawan takdir Allah.”
Zahra terisak, bahunya naik turun. “Aku tahu. Tapi selalu saja perasaan itu muncul, terutama kalau aku hanya diam. Aku ngerasa semua mata nyalahin aku, Mas.”
Arvin menutup mata. Dadanya terasa sesak. Ia terjepit—antara ingin membiarkan Zahra sibuk demi kewarasannya, dan ketakutan kehilangan mereka berdua jika ia terus memaksakan diri.
“Kita cari cara yang lebih aman,” kata Arvin pelan. “Kamu tetap boleh ke kafe. Tapi nggak seharian, dan nggak boleh terlalu banyak bergerak. Aku bakal atur jadwal kerja dan jam makan mu.”
Zahra mengangguk kecil. Tidak sepenuhnya yakin, tapi terlalu lelah untuk membantah.
Malam itu, Zahra tertidur lebih cepat dari biasanya. Arvin duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya yang pucat, tangan Zahra masih melingkar di perutnya, melindungi kehidupan kecil yang bergantung pada mereka.
Arvin menyadari satu hal pahit: keikhlasan dan perasaan cinta yang perlahan tumbuj saja tidak cukup untuk menyelamatkan semua orang. Kadang, cinta justru harus memilih—menahan, membatasi, bahkan melawan keinginan orang yang paling dicintai.
Di luar sana, Miranda masih koma. Keluarganya masih menyimpan luka. Dan Zahra—perempuan lembut yang ingin semua orang selamat—sedang berjuang agar dirinya sendiri tidak tenggelam.
Siang itu kantor Arvin terasa lebih sibuk dari biasanya.
Sejak putusan kasus besar beberapa bulan lalu—kasus yang sempat memenuhi layar televisi dan tajuk berita—nama Arvin Pratama melesat. Ia tidak hanya memenangkan perkara, tapi membalikkan arah opini publik. Terdakwa yang semula dicap monster akhirnya bebas, sementara pelaku sebenarnya—suami korban—diseret ke hadapan hukum. Sebuah kemenangan yang bersih, pahit, dan mahal secara emosional.
Kini, antrean tamu tak pernah sepi.
Sekretarisnya bolak-balik membawa map. Telepon berdering hampir tanpa jeda. Nama Arvin dipanggil dengan nada penuh harap—dan kadang putus asa—oleh orang-orang yang percaya bahwa ia adalah jalan terakhir.
Arvin menutup berkas terakhirnya tepat ketika jam menunjukkan setengah jam sebelum makan siang. Ia menghela napas panjang, meneguk air putih, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Kepalanya berat, tapi pikirannya jernih. Di sela kelelahan itu, wajah Zahra sempat melintas—senyumnya yang tipis, cara tangannya selalu refleks melindungi perutnya.
Tok. Tok.
“Mas Arvin,” suara sekretarisnya terdengar ragu dari balik pintu. “Ada tamu. Katanya… ingin bertemu pribadi.”
“Janji?” tanya Arvin tanpa menoleh.
“Tidak. Tapi… dia menyebut nama lama.”
Arvin menegakkan tubuh. Ada sesuatu di cara sekretarisnya mengucap itu—terlalu hati-hati.
“Silakan masuk,” kata Arvin akhirnya.
Pintu terbuka.
Dan dunia seperti bergeser sepersekian detik.
Perempuan itu melangkah masuk dengan langkah tenang, mengenakan blazer abu-abu muda dan gaun sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak lebih dewasa dari yang Arvin ingat—lebih tirus, dengan garis lelah di bawah mata yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan riasan tipis.
Arvin berdiri refleks. “Rania?”
Rania tersenyum kecil. Senyum yang dulu sangat ia kenal. “Halo, Vin.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada kehebohan. Hanya dua orang dengan masa lalu yang cukup dewasa untuk tidak berpura-pura asing.
“Silakan duduk,” kata Arvin, menunjuk kursi di depannya.
Rania duduk, meletakkan tasnya rapi di pangkuan. Tangannya saling bertaut, jari-jarinya sedikit gemetar—hal kecil yang tidak luput dari mata Arvin.
“Kamu… terlihat sibuk,” kata Rania, melirik sekeliling ruangan.
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Arvin singkat, lalu tersenyum sopan. “Kamu apa kabar?”
Rania menghela napas, panjang. “Kalau aku jawab ‘baik’, itu bohong.”
Arvin tidak memotong. Ia menunggu. Ia selalu tahu: Rania bukan tipe yang datang tanpa alasan.
“Aku butuh pengacara,” lanjut Rania akhirnya. “Dan aku memilih datang ke kamu.”
Arvin mengangguk pelan. Profesionalitas otomatis mengambil alih. “Kasus apa?”
Rania ragu sejenak. Lalu, “Penggelapan. Nama aku dicatut. Aku dijadikan penanggung jawab perusahaan yang sebenarnya sudah aku tinggalkan setahun lalu.”
Arvin meraih pulpen, membuka catatan. “Kronologinya?”
Rania mulai bercerita. Tentang perusahaan lama. Tentang rekan bisnis yang dulu ia percaya. Tentang dokumen yang ia tandatangani tanpa menyadari jebakan di baliknya. Suaranya stabil, tapi matanya berkali-kali menghindari tatapan Arvin.
“Kenapa baru sekarang?” tanya Arvin pelan, setelah Rania selesai.
“Karena aku mencoba menyelesaikannya sendiri,” jawab Rania jujur. “Dan gagal.”
Hening menyelip di antara mereka.
Arvin menatap Rania lebih lama dari yang ia sadari. Ia melihat bukan perempuan yang pernah ia cintai, tapi seseorang yang sedang terpojok—dan berusaha tetap berdiri.
“Kamu tahu,” kata Arvin akhirnya, “kita punya hubungan pribadi di masa lalu.”
Rania tersenyum pahit. “Aku tahu. Makanya aku sempat ragu datang.”
“Aku harus jujur,” lanjut Arvin. “Aku sudah menikah.”
Rania mengangguk cepat. “Aku tahu. Aku baca beritanya.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, “Selamat.”
Nada itu tulus. Tidak ada iri. Tidak ada sisa.
“Kalau aku terima kasus ini,” kata Arvin hati-hati, “itu murni profesional.”
“Itu yang aku harapkan,” jawab Rania cepat. “Aku tidak datang untuk mengungkit apa pun. Masa lalu kita… sudah selesai. Kita putus baik-baik, Vin. Aku menghormati hidup kamu sekarang.”
Arvin menatap mata Rania. Ia mencari—dan menemukan—ketulusan di sana.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan pelajari berkasnya dulu. Kalau tidak ada konflik kepentingan, aku bisa ambil.”
Rania menghembuskan napas lega, seolah beban besar terangkat dari dadanya. “Terima kasih.”
Arvin berdiri, mengambil map dari tangan Rania. Jari mereka sempat bersentuhan singkat—dan keduanya refleks menarik tangan.
Tidak ada percikan.
Hanya jarak yang sehat.
“Satu hal,” kata Arvin sebelum Rania bangkit. “Aku minta kamu transparan. Tidak ada yang disembunyikan. Aku tidak bisa membela kebohongan.”
Rania mengangguk mantap. “Aku datang ke kamu justru karena itu. Aku butuh orang yang tidak memihak aku karena perasaan.”
Arvin tersenyum tipis. “Kamu datang ke orang yang tepat.”
Rania tersenyum. “Aku tahu.”
Arvin sibuk sejenak, membuka map yang sudah menumpuk di meja. Perempuan itu ragu sejenak, lalu memutuskan untuk bicara saja.
“Vin,” panggilnya pelan.
Arvin mengangkat kepala. “Iya?”
“Aku tahu ini mendadak,” kata Rania sambil tersenyum tipis, senyum yang lebih hati-hati dari sebelumnya. “Tapi… kamu mau kan, makan siang bareng aku? Sekalian aku bisa jelasin beberapa hal yang belum sempat aku ceritakan.”
Ada jeda singkat. Bukan karena Arvin perlu berpikir lama—justru karena jawabannya sudah terlalu jelas di kepalanya.
Arvin menutup map itu, berdiri, dan menatap Rania dengan sikap tenang. Tidak kaku, tidak juga berjarak berlebihan.
“Maaf,” katanya jujur. “Aku nggak makan siang di luar.”
Rania terdiam, alisnya sedikit terangkat. “Oh.”
“Istriku menungguku di rumah,” lanjut Arvin, nadanya datar tapi tegas. Tidak ada penjelasan berlebihan, tidak ada alasan berlapis. “Aku selalu pulang makan siang kalau bisa.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Rania, rasanya seperti penanda batas yang digambar sangat jelas—dan tidak bisa dilangkahi.
“Oh…” Rania mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. “Iya. Aku paham.”
Arvin melanjutkan dengan nada profesional, seolah menutup bab personal di antara mereka. “Kalau kamu mau, kembali saja sore ini. Atau besok pagi. Kita bahas kasusmu lebih detail. Aku perlu waktu pelajari berkasnya dulu.”
“Besok pagi aja,” jawab Rania cepat, seakan ingin segera mengembalikan posisinya sebagai klien. “Jam sembilan?”
“Bisa,” kata Arvin. “Sekretaris aku yang atur.”
Rania mengangguk. Ia meraih tasnya, lalu berhenti sejenak sebelum benar-benar melangkah pergi.
“Kamu berubah, Vin,” katanya pelan, tanpa nada menggoda. Lebih seperti pengamatan. “Dalam arti yang… baik.”
Arvin tersenyum samar. “Hidup mengubah orang.”
“Atau cinta,” tambah Rania lirih.
Arvin tidak menyangkal, tidak juga mengiyakan. Ia hanya membuka pintu untuk Rania.
“Yang jelas hidup terus berlanjut, dan kita sudah berubah,” balas sopan.
Rania berdiri. “Aku tahu.”
Di ambang pintu, ia menoleh. “Vin… terlepas dari semua ini, aku senang kamu bahagia.”
Arvin membalas tatapannya. “Aku harap kamu juga akan baik-baik saja.”
Pintu tertutup perlahan.
Arvin kembali duduk, menatap map di tangannya. Ada rasa aneh di dadanya—bukan rindu, bukan penyesalan. Lebih seperti kesadaran bahwa hidup terus berjalan, mempertemukan orang-orang lama dalam versi yang sama sekali berbeda.
Rania melangkah keluar. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekali lagi. Tidak ada penyesalan di matanya—hanya penerimaan.
Setelah pintu tertutup, Arvin menghembuskan napas perlahan. Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu meraih ponselnya.
Satu pesan belum dibalas.
Ia tersenyum kecil, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar kantor.