Arvin tersenyum sendiri sepanjang perjalanan.
Bayangan Zahra muncul begitu saja—cara ia tadi pagi mengeluh soal pinggang pegal sambil tetap memaksa pergi ke kafe, cara alisnya mengerut setiap kali berbicara soal warna cat dan pencahayaan. Arvin berniat menculik istrinya sebentar. Membawanya makan siang di restoran yang tenang, memaksanya duduk manis, menyuapinya kalau perlu.
Mobilnya berhenti tepat di depan Kafe Marigold.
Arvin turun, membuka kancing jasnya, lalu berhenti melangkah.
Di depan kafe, Zahra berdiri menghadap dua orang tukang. Tangannya memegang gulungan kertas—gambar desain. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai terlepas menyentuh pipi. Ia berbicara serius, sesekali menunjuk ke arah fasad kafe yang kini hampir rampung.
“Kalau list kayunya diturunin setengah senti, nanti lampunya nggak silau,” kata Zahra lembut tapi tegas.
Salah satu tukang mengangguk. “Iya, Bu. Tinggal finishing ini aja. Dua-tiga hari beres.”
Arvin memperhatikan dari kejauhan. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya—bangga, kagum, dan sedikit cemburu yang manis. Zahra tampak hidup di tempat itu. Bukan sekadar pemilik, tapi seseorang yang benar-benar mencintai semua yang ada di sana.
Zahra memulai bisnis ini karena dia menyukai berkecimpung dengan minuman-minuman berbau kopi, teh dan s**u. Dan dia memang terlihat cocok berada di sana.
Arvin tersentuh oleh senyum lebar Zahra.
Ia melangkah mendekat.
Zahra menoleh dan senyumnya melebar begitu melihat Arvin. Senyum yang selalu berhasil membuat da-da Arvin terasa penuh.
“Mas?” matanya membulat. “Katanya banyak kerjaan, tapi kok malah ke sini?”
Arvin meraih pinggang Zahra, tangannya refleks melindungi perutnya yang mulai membulat. “Kerjaan bisa ditunda. Yaa... niatnya mau nyulik kamu.”
Salah satu tukang pura-pura berdehem dan melangkah menjauh. Zahra tersipu.
“Pengembangan kafenya gimana?” tanya Arvin, matanya menyapu bangunan itu. Warna baru, jendela besar, nuansa hangat—hampir selesai.
“Udah hampir beres,” jawab Zahra. “Tinggal detail kecil. Aku pengin semuanya rapi sebelum buka lagi.”
Arvin mengangguk. “Kamu kelihatan capek.”
Zahra tertawa kecil. “Sedikit. Tapi senang.”
Arvin menunduk, suaranya merendah. “Makan siang sama aku. Restoran bagus. Duduk. Nggak mikir apa-apa.”
Zahra menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Sebentar ya. Aku pamit dulu.”
Saat Zahra berbalik memberi arahan terakhir, Arvin menatap punggungnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di tengah semua kekacauan, rasa bersalah, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh—ada satu hal yang pasti.
Di tempat sederhana itu, di bawah sinar siang yang hangat, Arvin merasa sedang menatap masa depan yang ingin ia jaga.
“Mas, nanti dulu…” Zahra menahan langkah Arvin ketika pria itu sudah menarik tangannya menuju mobil. “Aku nggak bisa ninggalin kafe sekarang. Tinggal dikit lagi, takutnya ada yang kelewat.”
Arvin berhenti. Ia menoleh, menatap wajah Zahra yang jelas-jelas diliputi kegelisahan. Matanya masih sempat melirik ke arah kafe, seolah bangunan itu akan runtuh kalau ia pergi satu jam saja.
“Za,” panggil Arvin pelan, suaranya diturunkan. “Semua sudah kamu atur. Tukangnya juga ngerti.”
“Tapi—”
“Sebentar saja,” potong Arvin lembut. Tangannya naik mengusap lengan Zahra. “Mas mau makan siang sama kamu. Bukan sekadar makan.”
Zahra menghela napas, jelas belum sepenuhnya yakin. “Aku ngerasa bersalah kalau pergi. Seolah-olah… aku kabur dari tanggung jawab.”
Arvin menatapnya lebih lama, lalu berkata jujur, “Mas pengin ngerayain.”
Zahra terdiam. “Merayain apa?”
“Kemenangan sidang kemarin.” Arvin tersenyum kecil, tapi matanya menyimpan lelah yang tidak bisa disembunyikan. “Kasus itu nguras tenaga, waktu, pikiran. Hampir setiap malam Mas pulang bawa kepala penuh. Dan kamu… selalu nyiapin teh, selalu nunggu.”
Zahra menelan ludah. Tangannya refleks menyentuh perutnya.
“Mas cuma mau satu jam,” lanjut Arvin. “Sama istri Mas.”
Kata istri itu akhirnya meluruhkan pertahanan Zahra. Ia mengangguk kecil. “Satu jam aja.”
Arvin tersenyum lega dan membuka pintu mobil untuknya.
Di restoran, Arvin sengaja memilih meja dekat jendela. Ia memesan makanan favorit Zahra, bercerita tentang sidang dengan gaya ringan—menyederhanakan konflik, menyelipkan humor kecil. Zahra tersenyum, tertawa sesekali. Namun senyumnya sering terhenti.
“Za?” Arvin memanggil lembut.
Zahra menggeleng pelan. “Aku dengar berita dari rumah sakit pagi tadi. Miranda masih koma.”
Kalimat itu jatuh berat di antara mereka.
Arvin meraih tangan Zahra di atas meja. “Ini bukan salah kamu.”
Zahra menatap jari-jari mereka yang saling bertaut. “Aku tahu secara logika. Tapi perasaan nggak mau nurut.”
Arvin mengusap punggung tangannya perlahan. “Mas di sini. Kamu nggak sendirian.”
Zahra mengangguk, tapi matanya berkaca-kaca. Rasa bersalah itu masih ada—menggerogoti dalam diam, bahkan di tengah usaha Arvin membuatnya tersenyum.
Dan Arvin tahu, ini bukan luka yang bisa disembuhkan dalam satu makan siang.
Makan siang itu berakhir dengan sisa rasa yang menggantung. Bukan karena makanannya tak enak—justru sebaliknya—melainkan karena ada hal-hal yang tak bisa ikut ditelan bersama suapan terakhir.
Di perjalanan pulang ke kafe, Zahra lebih banyak diam. Tangannya bertumpu di perut, jemarinya sesekali mengusap pelan, seolah mencari jangkar. Arvin tidak memaksanya bicara. Ia belajar bahwa menemani tidak selalu berarti mengisi sunyi dengan kata-kata.
“Mas,” Zahra akhirnya bersuara ketika mobil berhenti di lampu merah. “Kalau… seandainya waktu bisa diputar ulang.”
Arvin menoleh. “Kamu akan memilih berbeda?”
Zahra terdiam lama. “Aku nggak tahu,” jawabnya jujur. “Aku cuma tahu, aku nggak pernah berniat melukai siapa pun. Tapi nyatanya, ada orang yang terluka parah… karena keberadaanku.”
Arvin meraih tangannya lagi, kali ini lebih erat. “Keberadaanmu bukan dosa, Za.”
“Tapi akibatnya nyata,” Zahra berbisik.
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.
Sesampainya di kafe, Zahra turun dengan langkah ragu. Ia kembali menyapa para pekerja, memeriksa satu-dua detail. Tubuhnya bergerak, tapi pikirannya masih tertinggal di ruang ICU—di antara bunyi mesin dan napas yang tertahan.
Arvin memperhatikan dari jauh. Ia tahu Zahra memilih sibuk agar tidak tenggelam. Dan ia mengizinkan itu—selama ia masih bisa menjaganya dari jarak sedekat ini.
Sore itu, Zahra duduk di kursi rotan dekat jendela kafe, mencatat sesuatu di buku kecil. Arvin menghampiri, menyodorkan segelas air hangat.
“Kamu capek,” katanya sederhana.
Zahra menatapnya, tersenyum tipis. “Tapi kalau aku berhenti, kepalaku jadi berisik.”
Arvin mengangguk. “Kalau begitu, Mas duduk di sini. Jadi kepalamu nggak sendirian.”
Zahra menahan air mata yang hampir jatuh. Ia menutup bukunya dan bersandar sedikit ke punggung kursi, membiarkan kehadiran Arvin menjadi penopang yang tidak memaksa.
Di luar, matahari mulai condong. Bayangan kafe memanjang di trotoar. Dan di antara debu renovasi, kelelahan, serta rasa bersalah yang belum pergi—Zahra perlahan belajar satu hal:
Bertahan tidak selalu berarti melupakan.
Kadang, bertahan berarti berjalan pelan… sambil membawa luka, tanpa membiarkannya menentukan arah.
***
Arvin kembali ke kantor menjelang sore. Lorong yang tadi riuh kini lebih lengang, hanya sisa suara printer dan langkah kaki pegawai yang beres-beres. Ia menutup pintu ruangannya, melepaskan jas, lalu duduk sambil memijat tengkuk. Pikirannya masih tertinggal di kafe—pada mata Zahra yang tampak lelah, pada caranya meneguk minuman berkali-kali seolah haus yang tak kunjung reda.
Arvin meraih ponsel dan menekan satu nama yang selalu memberinya rasa pulang.
“Ibu,” sapanya begitu sambungan terangkat.
“Mas Arvin?” suara ibunya hangat, lembut. “Kamu kok nelpon sore-sore?”
Arvin menghela napas. “Aku kepikiran Zahra, Bu.”
“Ada apa sama Zahra?” nada itu seketika berubah waspada.
“Dia sering minum,” jawab Arvin pelan. “Bukan cuma air. Teh, jus, apa aja. Kayak… gelisah. Capek, tapi maksa diri sibuk. Aku takut itu bukan sekadar ngidam.”
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. “Anak itu lagi berat bebannya,” kata sang ibu pelan. “Hamil, masih muda, terus kejadian Miranda pula.”
Arvin menutup mata. “Aku pengin jaga dia, Bu. Tapi rasanya apa pun yang Aku lakuin belum cukup.”
Ibunya terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada mantap, “Kalian butuh liburan.”
“Liburan?” Arvin mengernyit.
“Iya,” ulang ibunya. “Kalian itu belum pernah bulan madu. Dari nikah sampai sekarang isinya cuma urusan berat. Sidang, rumah sakit, rasa bersalah. Akhir pekan aja. Nggak usah jauh.”
Arvin membayangkan Zahra—wajahnya yang selalu mencoba kuat, bahunya yang jarang benar-benar rileks. “Apa Zahra mau, Bu?”
“Kalau kamu yang ngajak dengan hati,” jawab ibunya lembut, “dia akan mau. Perempuan hamil itu butuh merasa aman. Butuh diingatkan kalau bahagia nggak harus merasa bersalah.”
Arvin tersenyum kecil. “Ibu kayaknya yakin banget ini bakal efektif,”
“Ibu juga pernah di posisi Zahra,” kata ibunya lirih. “Dan ayahmu dulu melakukan hal yang sama. Mengajak pergi, walau cuma sebentar. Itu menyelamatkan kewarasan.”
Telepon ditutup dengan rasa hangat yang perlahan meresap. Arvin menatap jendela, matahari sudah condong ke barat. Keputusan itu terasa sederhana—tapi tepat.
Ia mengambil ponsel lagi, mengetik pesan singkat.
Za, akhir pekan ini kita pergi ya. Cuma kita bertiga. Aku pengin kamu istirahat.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Pergi ke mana, Mas? Kafenya—
Arvin tersenyum, mengetik cepat.
Kafe aman. Kamu yang nggak. Aku yang jaga.
Ada jeda. Lalu satu pesan terakhir yang membuat dadanya menghangat.
Kalau Mas yang minta… aku ikut.
Arvin menyandarkan punggung ke kursi. Untuk pertama kalinya hari itu, napasnya terasa lebih ringan.