Keesokan paginya, Nina terbangun dengan kepala berat dan d**a sesak. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat di mana ia berada dan apa yang menantinya hari ini. Butuh beberapa detik sebelum semuanya kembali menghantamnya sekaligus. Acara pertunangan akan dilaksanakan dua hari lagi. Nama Arya. Wajah Aurelia. Dan kenangan lomba itu. Nina bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela. Di luar, pagi tampak normal. Terlalu normal untuk kekacauan yang sedang terjadi di dalam dirinya. Ponselnya bergetar di atas meja. Puluhan notifikasi belum terbaca. Pesan dari Ratna. Dari Arya. Dari panitia acara. Bahkan dari beberapa rekan kantor. Nina tidak membuka satu pun. Ia masuk ke kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada sesuatu yang b

