Bab 33

990 Words

Pagi itu udara Jakarta terasa lebih pengap dari biasanya, meski matahari belum sepenuhnya naik. Rumah keluarga Nina dipenuhi suara langkah tergesa, pintu yang dibuka-tutup tanpa henti, dan nada bicara yang tak lagi terjaga. Ratna berdiri di tengah ruang tamu dengan ponsel di tangan, jemarinya gemetar saat mencoba menghubungi nomor putrinya untuk kesekian kali. Nada sambung terdengar, lalu terputus. Lagi-lagi tak ada jawaban. “Nina ke mana, Mas?” suara Ratna pecah, matanya memerah, menatap suaminya yang mondar-mandir dengan wajah tegang. Ayah Nina mengusap wajahnya frustasi. “Semua kamar sudah dicek. Lemarinya kosong, koper besarnya hilang. Ini jelas bukan pergi sebentar.” Di sudut lain, Ratna terduduk perlahan di sofa, tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Ingatannya melayang ke malam sebe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD