Bab 05 - Kehidupan Aurora

1143 Words
Perutnya sudah terasa sangat lapar. Tetapi ia terus menahannya. Kini di depannya terdapat nasi hangat mengepul, aroma tumisan bumbu dan sambal tercium kuat. Menggoda indera penciumannya yang sudah lama menunggu. Ia duduk cepat. Tanpa banyak bicara lalu mulai menyendokkan makanan ke piring. Setelah makan malam selesai, Aurora memutuskan untuk kembali ke kamarnya. “Gue sebenarnya masih bingung sama semuanya. Kenapa sekarang gue ga bisa bedain mana yang mimpi dan mana yang nyata. Gue coba tidur lagi aja deh. Kalau besok gue masih ada di sini, berarti ini semua nyata. Kalau bukan, lagi-lagi gue harus menerima semuanya ini hanya mimpi,” ucap Aurora sendirian. Setelah itu Aurora menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba untuk tertidur kembali malam ini. ****** Jarum jam terus berputar. Dan kini hari telah berganti. Tiba-tiba Aurora terkejut dan terbangun dari tidurnya. “Astaga, jam berapa ini? Hari ini gue ada kelas pagi,” ucap Aurora terkejut dan langsung melihat jam yang ada di handphonenya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sedangkan dia harus masuk kelas jam 10 pagi. Tersisa satu jam lagi untuk bisa mengikuti kelas pada pagi ini. “Ya ampun udah jam sembilan. Kalau telat bisa-bisa dimarahi sama Bu Eva. Galak banget lagi dia.” Aurora langsung bangkit dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Namun tiba-tiba Aurora mengingat sesuatu. “Gue masih di kamar ini. Berarti ini semua nyata bukan mimpi? Rumah ini? Mamah? Asisten rumah tangga? Makanan enak?” pikir Aurora. Karena Aurora tidak mau terlambat hari ini, Aurora pun kembali melanjutkan kesibukkannya pagi ini untuk siap-siap pergi ke kampus. Setelah selesai, Aurora menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa-gesa. Seperti orang yang baru disadarkan dari mimpi buruk. “Sarapan dulu sayang,” teriak Mamah yang melihat Aurora berlari-lari kecil dan terlihat sangat terburu-buru. “Udah ga sempat Mah. Aku ada kelas jam sepuluh pagi ini.” “Ya sudah kalau gitu kunci mobil nya ada di depan ya sayang.” “Kunci mobil?” “Iya. Kamu bawa mobil sendiri hari ini ga apa-apa kan? Mamah ga bisa antar kamu pagi ini soalnya Mamah mau temani Papah ada acara di kantor. Papah udah berangkat duluan karena harus siapin semuanya di kantor. Kebetulan Pak Amin (supir pribadi) istrinya lagi sakit. Jadi ga bisa antar kamu.” “Tapi apa aku bisa bawa mobil?” “Bisa sayang. Kan kamu udah bisa bawa mobil dari lama. Kamu kenapa deh bersikap aneh dari semalam? Ya sudah kalau gitu Mamah juga berangkat ya. Kamu hati-hati di jalan.” “I… Iya Mah. Hati-hati.” Mamah Aurora pergi begitu saja meninggalkan Aurora dengan membawa mobil pribadinya. Sedangkan Aurora masih terdiam di tempat. “Apa benar gue bisa bawa mobil? Kalau ga bisa terus nabrak gimana?” pikir Aurora. Aurora tidak yakin untuk membawa mobil kali ini. Karena seingatnya dia tidak bisa membawa mobil sama sekali. Bahkan mempunyainya saja dia tidak mampu. Tetapi tidak ada pilihan lain. Aurora pun membawa mobil pribadi miliknya menuju ke kampus. Dan ternyata memang dia bisa membawa mobil dengan lancar tanpa kesulitan sedikitpun. Jarak dari rumah Aurora ke kampus cukup jauh. Membutuhkan waktu 40 menit untuk tiba di sana. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat 10 menit. Aurora terlambat 10 menit dari seharusnya. “Pagi Bu,” sapa Aurora kepada Dosennya yang sedang mengajar. “Pagi. Kenapa kamu terlambat?” tanya Bu Eva. “Maaf Bu. Tadi saya kejebak macet di jalan.” “Jakarta menang selalu macet. Seharusnya kamu berangkat bisa lebih pagi lagi supaya ga terjebak macet.” “Iya maaf Bu.” “Ya sudah sekarang kamu duduk sana. Dan langsung perhatikan mata kuliah yang saya bawakan. Kamu sudah tertinggal 10 menit. Tanya teman kamu apa saja yang sudah tertinggal.” “Baik Bu. Terima kasih.” Kali ini Aurora terbebas dari hukuman Bu Eva. Aurora pun segera pergi ke kursinya yang berada di baris ketiga. Tepat di sebelah sahabatnya, Gresa. Dan Aurora mengikuti mata kuliah pagi ini dengan baik. Tidak terasa 2 jam mata kuliah Bu Eva kini telah selesai. Seluruh mahasiswa diperbolehkan untuk kembali ke rumah masing-masing karena mata kuliah hari ini hanya satu. Yaitu mata kuliah Bu Eva. “Udah mata kuliah cuma satu, masih terlambat lagi lu,” ledek Gresa sambil membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas. “Lu kenal gue kan? Lu tau gue siapa?” jawab Aurora yang menbuat Gresa kebingungan. “Maksud lu? Lu kenapa sih? Aneh-aneh aja pertanyaan lu. Udahlah gue mau ke perpustakaan dulu. Mau ngerjain tugas Pak Ragel. Lu udah selesai belum?” “Oh iya gue lupa. Untung lu ingetin gue. Ya udah gue ikut lu ya.” “Kalau gitu ngerjain tugasnya di rumah lu aja gimana? Bosen juga kalau ngerjain tugas di peprustakaan. Ga bebas juga.” “Lu tau rumah gue?” “Kan udah berapa kali gue ke rumah lu. Gimana sih lu. Lu kenapa sih? Aneh banget.” “Engg… Engga. Gue ga kenapa-kenapa.” “Ya udah ayo kita pinjam bukunya aja di perpustakaan. Nanti keburu ramai perpustakaannya males gue.” ”I... Iya, ayo.” Gresa yang awalnya berencana untuk mengerjakan tugas kampusnya di perpustakaan tiba-tiba saja berubah pikiran dan ingin mengerjakan tugas tersebut di rumah Aurora. Aurora pun langsung mengiyakannya tanpa penolakan sedikitpun. Walaupun sebenarnya Aurora masih bingung dengan semua yang sedang terjadi pada dirinya. Dan kini mereka berdua sudah berada di jalan menuju rumah Aurora. Tiba-tiba saja.. ”Aaaa...,” teriak Aurora dan Gresa. Tiba-tiba saja kendaraan bermotor yang ada di belakang mobil Aurora mendahuluinya. Aurora yang terkejut pun langsung mengerem secara mendadak. Pengendara motor tersebut selamat tetapi mobil Aurora menabrak trotoar. Aurora pun tak sadarkan diri. ”Aurora, Aurora. Bangun Aurora.” Seluruh badan Aurora terasa terguncang. Perlahan demi perlahan Aurora membuka kedua matanya. ”Loh? Nenek? Kok Nenek ada di sini?” ”Maksud kamu apa Aurora? Dari kemarin siang kamu tidur dan susah banget Nenek bangunin. Sekarang udah jam delapan pagi. Emangnya kamu ga ada kelas hari ini?” Aurora tidak menjawab pertanyaan Neneknya. Dia hanya terdiam tanpa suara dan tatapan mata yang kosong. ”Aurora! Kamu kenapa sih?” tanya Neneknya kembali yang menyadarkan Aurora dari lamunannya. ”Ga apa-apa Nek.” ”Beberapa hari belakangan ini kamu lebih sering tidur dan sikap kamu aneh. Kalau ada apa-apa cerita ke Nenek. Walaupun Nenek ga bisa bantu, setidaknya Nenek bisa jadi pendengar yang baik buat kamu.” Lagi-lagi Aurora tidak menjawab perkataan Neneknya. Tiba-tiba saja Aurora memeluk Neneknya yang sedang berdiri di sampingnya dengan sangat erat. Nenek pun membalas pelukannya dengan hangat. ”Kashian cucu ku. Dia pasti begini karena merasa kesepian. Ibunya sudah meninggal dunia sejak dia kecil, sedangkan Ayahnya pergi meninggalkan dia begitu aja tanpa tanggung jawab. Maafin Nenek yang ga bisa buat kamu bahagia ya sayang. Nenek justru malah merepotkan kamu,” ucap Nenek di dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja air mata menetes di atas kedua pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD