Bab 04 - Tampak Membingungkan

1223 Words
"Nek," sapa Aurora kepada Neneknya yang sedang melipat pakaian kering di ruang tengah yang menjadi ruang keluarga sekaligus ruang tamu. "Siang sayang. Udah pulang kamu." "Iya, Nek." "Tante...," teriak salah satu sepupu dari Aurora atau anak dari Bibi Aurora yang bernama Cia sambil memeluknya dengan sangat erat. "Ya ampun. Baru juga sampai rumah," gerutu Aurora di dalam hatinya. "Aurora, aku titip anak-anak aku dulu sama kamu ya," perintah sang Bibi yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Aurora. "Mau kemana?" "Mau keluar dulu sebentar. Biasa sama ibu-ibu di depan sana. Sebentar aja kok. Oke?" Tanpa menunggu persetujuan dari Aurora, Luna, Bibi dari Aurora langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua anaknya kepada Aurora dan Nenek. Aurora yang kesal langsung pergi menuju kamarnya. "GIA!!" teriak Aurora yang terkejut dengan kondisi kamarnya saat ini yang sangat berantakan seperti kapal pecah karena ulah sepupu yang lainnya. Gia, adik dari Cia pun terkejut. "Keluar!!" perintah Aurora. Dan Gia pun langsung keluar dari dalam kamarnya. "Kenapa sih semua orang hari ini bikin gue kesal. Ga di kampus, ga di rumah, semuanya sama aja," gerutu Aurora sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tidak membutuhkan waktu lama, Aurora pun langsung tertidur pulas. Kini Gia dan Cia tidak ada yang mengawasinya karena Aurora tertidur sangat nyenyak di dalam kamarnya. Sang Nenek yang sudah sangat tua pun kewalahan menjaga kedua anak Luna. Apalagi menjaga Gia yang sangat aktif berlari ke sana dan ke sini. “Gia ya ampun. Jangan lari-larian gitu sayang. Nenek capek kalau harus ngikutin kamu. Hati-hati juga itu nanti barang-barangnya jatuh dan pecah,” teriak Nenek kepada Gia. Sedangkan Gia tidak mempedulikan ucapan Nenek sedikitpun. “Aurora. Itu dijagain dong sepupu kamu ya ampun. Nenek udah pusing banget rasanya ga kuat lagi,” teriak Nenek kepada Aurora. Tetapi tidak ada jawaban satu katapun dari Aurora. “Kemana lagi itu anak,” pikir Nenek. Karena sudah terlalu pusing dengan tingkah Gia, Nenek pun pergi ke kamar Aurora. Berharap Aurora segera menjaga sepupunya itu dan Nenek bisa istirahat siang ini. Nenek membuka pintu kamar Aurora. Sebenarnya bukan hal yang aneh ketika Nenek mendapati Aurora yang sedang tertidur pulas. Karena akhir-akhir ini Aurora memang lebih sering tidur. “Ya ampun ternyata dia tidur. Pantas aja aku teriak-teriak ga dijawab,” ucap Nenek sambil menghela nafasnya panjang. Karena Nenek sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Gia, Nenek pun mencoba membangunkan Aurora dari tidurnya. “Aurora, bangun nak. Kamu yang jaga Gia. Nenek ga kuat ngadepin Gia yang sangat aktif itu. Aurora!!” Di dalam kamar yang setengah remang, Nenek nerdiri di sisi tempat tidur sambil menatap Aurora yang masih terlelap di bawah selimut tebal. Nenek sudah membangunkan berkali-kali. Suaranya lembut namun tegas. ”Aurora, ayo bangun... Bantu Nenek jagain sepupu kamu,” ujar Nenek sambil menepuk pelan bahu Aurora. Tapi tidak ada reaksi. Hanya gerakan kecil sekedar membalikkan badan dan menarik selimut lebih rapat. Sekilas, Nenek memperhatikan wajah Aurora. Tenang, damai, sama sekali tidak terganggu oleh hiruk-pikuk dunia luar. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menjengkelkan melihatnya begitu pulas. Seolah waktu berhenti hanya untuknya. “Ya ampun ga bangun juga. Tapi kasihan juga sih. Mungkin dia lelah setelah seharian kuliah. Ya sudah mau ga mau aku deh yang jaga Gia dan Cia. Semoga aja Ibunya cepat pulang.” Akhirnya Nenek menyerah untuk membangunkan Aurora siang ini. Nenek kembali ke ruang tengah untuk menjaga Gia dan Cia. Walaupun lelah tetapi Nenek juga tidak tega jika harus memaksa untuk membangunkan Aurora yang terlihat sangat kelelahan kali ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Gia pun sudah dijemput oleh Ibunya dan kembali ke rumahnya. “Pulang juga Gia dan Cia. Aku udah lelah banget rasanya,” keluh Nenek sekaligus merasa lega karena sudah terbebas dari dua anak kecil yang sangat aktif itu. Karena Nenek belum makan malam, Nenek pun pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan yang sudah dia masak tadi pagi. Nenek tampak sibuk di dapur kecilnya yang hangat. Dengan langkah perlahan, ia membuka tudung saji yang menutupi lauk sisa siang tadi. Sayur bening, sambal terasi, dan ikan goreng yang mulai dingin. Uap tipis mulai muncul saat ia menyalakan kompor gas dan meletakkan wajan di atasnya. Suara gemericik minyak yang mulai panas berpadu dengan aroma sedap yang perlahan memenuhi ruangan. Tidak membutuhkan waktu lama semua makanan itu pun kembali menjadi hangat. “Sudah jam berapa ini. Aurora belum juga bangun,” pikir Nenek sambil melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Karena Nenek khawatir dengan Aurora yang belum makan, Nenek pun kembali ke kamar Aurora dan membangunkannya kembali. Tetapi sayangnya usaha Nenek kali ini tidak membuahkan hasil juga. “Aurora kenapa akhir-akhir ini jadi sering tidur dan susah sekali dibangunkan ya? Apa ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan jadi dia lebih memilih untuk tidur? Aku biarin aja deh. Nanti kalau lapar juga dia bangun sedniri dan makan. Aku sisakan aja makanannya untuk dia.” Nenek pun menyerah untuk membangunkan Aurora. Nenek kembali menutup pintu kamar Aurora dan pergi ke meja makan. Sedangkan Aurora masih terjaga dari tidurnya sejak siang tadi. ***** “Ya ampun jam berapa ini.” Aurora baru saja terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil handphone yang berada di sampingnya untuk melihat jam. “Ternyata masih malam. Gue kira udah pagi,” ucap Aurora sambil menghembuskan nafasnya. Aurora langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tetapi tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya dan membuat Aurora sedikit terkejut. “Maaf sayang Mamah udah buat kamu kaget ya? Mamah cuma mau mastiin aja kamu udah bangun belum? Soalnya dari siang tadi kamu belum makan. Pasti kamu kecapekan ya?” “Mamah?” tanya Aurora dengan raut wajah yang sangat kebingungan. “Iya ini Mamah. Pasti ini efek karena kamu kelamaan tidur dan kamu baru bangun tidur gini jadi pertanyaan kamu aneh. Ya sudah kamu makan dulu sana. Sudah disiapkan sama Bibi.” “I… Iya, Mah.” Mamah Aurora kembali keluar dari kamarnya. Sedangkan Aurora masih terdiam di tempat. Dengan langkah yang sangat berat Aurora pergi keluar kamar dan langsung menuruni anak tangga rumahnya satu persatu. Ternyata di ruang makan sudah ada banyak makanan yang tersusun rapih di atas meja makan. “Silahkan Non di makan. Mumpung masih hangat,” ucap asisten rumah tangga yang membuat Aurora sedikit terkejut. “Eh, i… iya, Bi. Makasih.” Asiaten rumah tangga itu hanya menjawab dengan senyuman dan pergi meninggalkan Aurora. Aurora yang masih kebingungan pun pergi mendekati meja makan dan duduk di sana. “Apa gue sekarang mimpi lagi ya?” pikir Aurora kebingungan. Aurora mencubit lengan tangannya sedniri untuk memastikan apakah yang sedang dia alami saat ini nyata atau tidak. “Aw,” lirih Aurora kesakitan. Ternyata Aurora merasa kesakitan setelah mencubit lengan tangannya sendiri. Tetapi Aurora masih belum percaya jika semua ini adalah nyata. Akhirnya Aurora pun mencubit dan memukul pipinya dengan tangannya sendiri. Ternyata apa yang dilakukan Aurora dilihat oleh Mamahnya. “Aurora, kamu kenapa sayang? Kenapa kamu pukulin wajah kamu kaya gitu? Kamu lagi ada masalah? Atau kamu sakit? Cerita sayang sama Mamah. Jangan kamu pendam semuanya sendiri,” tanya Mamah Aurora yang sangat khawatir melihat Aurora yang sedang menyakiti dirinya sendiri. “Engga, ga kenapa-kenapa kok Mah,” jawab Aurora gugup. “Ya sudah kalau gitu di makan itu makanannya. Habis itu bersih-bersih terus istirahat lagi ya sayang.” “Iya, Mah.” Mamah Aurora kembali pergi meninggalkannya. Sedangkan Aurora masih merasa sangat aneh dan penasaran dengan semua yang dia alami saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD